Sebelumnya, Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan para produsen lainnya – OPEC+ secara teoritis telah mencapai kesepakatan untuk melakukan pengurangan produksi sebagaimana yang ditetapkan pada Mei 2020, namun situasi nyata terlihat agak berbeda. Di atas kertas, semua pengurangan produksi yang disepakati nampaknya akan dibatalkan lagi pada Agustus.

Namun demikian, dalam laporan IEA terkini bahwa volume produksi aktual hingga Juni kemarin hanya sekitar 2,8 juta barel per hari di bawah tingkat yang disepakati. Dengan kata lain, tidak mungkin perbedaan itu dapat diperbaiki dalam dua bulan ke depan.

Banyak negara produsen minyak dalam aliansi tersebut yang tidak dapat meningkatkan produksi mereka lebih lanjut, setelah mencapai batas kapasitas mereka. Mereka yang memiliki kapasitas cadangan, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, juga menolak untuk meningkatkan produksi lebih dari yang diizinkan perjanjian, karena takut melanggar perjanjian OPEC+ dan membahayakan kerja sama lebih lanjut dengan Rusia. Sementara boikot Barat, Rusia juga memproduksi jauh lebih sedikit dari tingkat yang disepakati.

Untuk menutup kesenjangan, OPEC+ dapat memutuskan bahwa target produksi untuk September harus dinaikkan lagi, memungkinkan mereka yang memiliki kapasitas cadangan untuk lebih meningkatkan produksi tanpa melanggar perjanjian. Namun hal ini bisa memberi tekanan pada harga Brent karena output tambahan akan meredakan situasi pasokan yang ketat.

Potensi kenaikan harga minyak masih terjaga, meskipun ada sinyal permintaan yang lemah. Memang melonjaknya harga makanan dan energi secara global telah mengurangi konsumsi. Sebagaimana terlihat dari angka penjualan bahan bakar di jalanan Inggris yang berkurang lagi dan permintaan bensin tetap di bawah rata-rata lima tahun untuk sepanjang tahun. Permintaan bahan bakar jet juga berada di sisi yang lebih lemah karena jumlah penerbangan komersial saat ini 14% lebih rendah dari tingkat pra-pandemi pada 2019.

Perbedaan harga antara minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate telah melebar menjadi $10 per barel, mencerminkan pasar minyak yang jauh lebih ketat di Eropa dibandingkan dengan AS. Terakhir kali perbedaan harga Brent-WTI lebih lebar adalah tiga tahun lalu, mengabaikan anomali pada April 2020 ketika harga WTI sempat negatif, bank mencatat. Pasar yang ketat di Eropa juga tercermin dalam kurva forward Brent yang turun tajam.

Eropa perlu mencari pengganti sebagian besar impor minyaknya dari Rusia pada akhir tahun, sementara AS sebagian besar independen dari pemasok asing. Diskon harga yang tinggi membuat minyak ringan AS menarik bagi pembeli asing, dengan ekspor minyak mentah AS naik ke rekor 4,55 juta barel per hari pada minggu pelaporan terakhir, kata bank tersebut, mengutip data dari Departemen Energi AS. Sementara itu, impor minyak mentah bersih turun menjadi kurang dari 2 juta bpd.

Hingga akhir pekan harga minyak mentah baik Brent dan WTI masing-masing naik sekitar 2% menjadi $109,27 dan $98,37.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here