EksposisiNews, Yogyakarta – Museum Sonobudoyo kembali menggelar pameran untuk kesekian kalinya. Kegiatan pameran merupakan upaya museum dalam mengemban misinya untuk menjadi museum yang unggul dan kompetitif yang menjaga sumber daya budaya dan pelestari warisan budaya. Pameran ini juga merupakan upaya museum dalam menjaga dan membangun kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai budaya.

AMEX (Annual Museum Exhibition) merupakan agenda rutin yang digelar pada akhir tahun oleh Museum Sonobudoyo sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan pameran dan berbagai acara pendukung di dalamnya didanai menggunakan Dana Keistimewaan.

Kali ini tema yang dipilih yaitu tentang makanan yang berkaitan dengan cerita dan kebudayaan masyarakat. Bukan tanpa alasan, pilihan tema ini sebagai bentuk apresiasi keberagaman kuliner di Nusantara dan memantik masyarakat untuk menggali kekayaan budaya masyarakat dalam wujud makanan tradisional. Selain itu, juga sebagai pengenalan warisan budaya tan benda khususnya di Yogyakarta dan masyarakat Jawa pada umumnya.

Dengan tajuk “Upaboga: Ketika Makanan Bercerita”, Museum Sonobudoyo mengajak para pengunjung untuk menggali kembali wawasan dan pengetahuan budaya seputar makanan dari perspektif sosial dan budaya. Meski bercerita tentang makanan, pameran ini tetap menaruh persoalan budaya sebagai bagian dari identitas.

Beberapa hal yang berkaitan dengan tradisi dan konteks sosial budaya turut menjadi pengisi sudut-sudut ruang pamer, seperti Dokumentasi budaya makanan di Jawa masa Praaksara, Klasik, Islam-Kolonial, rempah dan bumbu, serta makna simbolik makanan dalam ritual / upacara adat masyarakat Jawa. Dalam pameran ini pengunjung dapat menyaksikan replika makanan tradisional Jawa, seperti tumpeng, jenang, lupis, dan berbagai makanan lainnya. Replika makanan tradisional dihadirkan sebagai bagian dari kearifan lokal yang berpotensi mengedukasi para pengunjung.

Upaboga: Ketika Makanan Bercerita berawal dari sebuah gagasan untuk memberikan pengalaman berbeda bagi para pengunjung melalui alur pameran yang tidak biasa. Pengunjung pameran melawati lorong-lorong waktu yang menceritakan peradaban manusia tentang makanan. Pengunjung dapat menikmati koleksi-koleksi yang ditampilkan pada pameran ini.

Dari sinilah para pengunjung akan merasakan segala sesuatu yang terkait dengan makanan, termasuk ekspresi budaya pangan masyarakat memiliki banyak sisi atau aspek menarik untuk diceritakan, mulai dari aspek historis; proses dan teknologi; mitos, tradisi, dan kepercayaan; simbol, makna, dan filosofi; nilai sosial; nilai ekonomi; etika dan estetika; hingga identitas.

“Melalui narasi kecil dalam pameran ini, kami ingin mengajak dan menggugah kesadaran masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan keluarga dalam skala mikro lewat kegiatan perkebunan subsisten. Melalui pameran ini, museum juga mengajak masyarakat untuk menggali kembali wawasan dan pengetahuan seputar makanan dari perspektif sosial dan budaya” tegas Pak Iwan, Kepala Museum Sonobudoyo.

Pameran AMEX (Annual Museum Exhibition) dilaksanakan di gedung Pameran Temporer, Jalan. Trikora/Pangurakan No.4 Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung mulai tanggal 06 November sampai 30 Desember 2021, mulai pukul 09.00-21.00 WIB. Meski kondisi tidak memungkinkan untuk berkegiatan yang mengundang banyak kerumunan, namun gelaran pameran ini dapat dikunjungi bersama keluarga dengan tetap patuh pada aturan Protokol Kesehatan yang telah disediakan.

Semarak kegiatan “Annual Museum Exhibition” terdiri dari serangkaian kegiatan-kegiatan yang diharapkan dapat mewadahi minat dan apresiasi seluruh lapisan masyarakat yang dapat diikuti melalui aplikasi media sosial Museum Sonobudoyo. Terselenggaranya kegiatan pameran ini juga didukung oleh beberapa pihak seperti, Komunitas Bakudapan, Komunitas Majalah Bumbu dan Museum Tani Yogyakarta, dan lain-lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here