‘Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama’. Demikian pribahasanya, bahwasannya nama seseorang akan tetap dikenang, baik itu karya maupun jasa-jasanya, meski sudah lama meninggal dunia. Untuk itu, digelar acara ‘Tribute to Arswendo Atmowiloto: Harta Paling Berharga’. Karena karya Arswendo Atmowiloto Memang Layak Dikenang

 Acara ini bukan sekadar untuk mengenang Arswendo Atmowiloto, sastrawan dan wartawan legendaris yang meninggal pada 19 Juli lalu di usia 70 tahun. Tribute ini sekaligus mengingat kembali peran penting Arswendo Atmowiloto sebagai wartawan, sastrawan, juga pribadi yang dicintai banyak orang.

layak

“Kita gelar acara ini karena karya-karya Arswendo memang layak untuk dikenang, “ kata Ricke Senduk selaku Ketua Panitia Tribute to Arswendo Atmowiloto: Harta Paling Berharga seusai acara press conference Tribute to Arswendo Atmowiloto di Sentra Jamu Indonesia, Graha Muncul Mekar, Jl. Raya Panjang, Kelapa Dua No. 27, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (27/11/2019).

Ricke menerangkan, selama ini begitu banyak orang besar berlalu begitu saja. “Kami tidak ingin itu berlalu. Apa yang Mas Wendo tinggalkan bisa dipelajari. Semua orang perlu tahu kita bisa menjadi seseorang asalkan kreatif seperti Mas Wendo,” terang Ricke.

Menurut Ricke, Arswendo hanya lulusan SMA, tapi bisa sukses dalam berbagai bidang. “Semasa hidup Arswendo Atmowiloto tidak hanya membuat banyak karya gemilang, tapi juga sukses mengantar banyak orang lain meraih mimpinya, “ Ricke mengingatkan.

Sebagai penulis, kata Ricke, Arswendo memang dikenal sangat produktif. Seri Senopati Pamungkas, Novel Canting, Sang Pemahat, Dua Ibu, Lukisan Setangkai Mawar (kumpulan cerpen), dan banyak lagi novel karya Arswendo, sukses besar saat diedarkan. “Saking produktifnya, di zaman menulis masih menggunakan mesin tik, Arswendo biasa menulis dengan menggunakan dua mesin tik sekaligus, “ kenang Ricke.

semangat

Adapun, Jodhi Yudono, salah satu rekan kerja Arswendo, mengatakan acara ini merupakan upaya mereka untuk membuat Arswendo tetap lekat pada masyarakat.

“Kami melihat bangsa ini gampang melupakan orang hebat. Kami tidak ingin itu terjadi kepada Mas Wendo. Kami yang pernah dididik, diasuh, dan jadi bagian hidup Mas Wendo merasa semangat itu harus dijaga,” ungkap Jodhi.

Lebih lanjut, Jodhi mencontohkan karya Arswendo ‘Mengarang itu Gampang’ terbitan 1982 yang mendorong banyak orang untuk menulis. “Begitu pula dengan ‘Kiki dan Komplotannya’ yang menjadi teman anak-anak pada era 80-an, “ paparnya.

Jodhi menegaskan, acara ini digelar lebih ke substansi dan jauh dari hura-hura. “Ini bentuk cinta kami ke Mas Wendo. Mudah-mudahan lancar dan jadi manfaat bagi semua orang,” pungkas Jodhi.

Banyak pengisi acara akan ditampilkan di Tribute to Arswendo Atmowiloto, seperti di antaranya, Slamet Rahardjo menyampaikan riwayat singkat Arswendo Atmowiloto, Hanan membacakan buku ‘Mengarang itu Gampang’, Renny Djajoesman membacakan ‘Canting’, Btari Chinta  membacakan fragmentasi ‘Kiki dan Komplotannya’.

Aktor Sandy Nayoan juga akan menceritakan pertemuannya dengan Arswendo demi peran sebagai Atmo dalam serial Menghitung Hari. Proyek itu membuat Sandy bisa menirukan gaya berbicara serta berguyon wartawan legendaris tersebut.

Romo FX Mudji Sutrisno juga akan membahas ‘Barnabas’, karya terakhir Arswendo sebelum meninggal beberapa bulan lalu.

Sementara itu, pihak keluarga akan bernyanyi bersama. Salah satu cucu Arswendo, Kania, juga akan membacakan puisi yang telah dibacakan saat kakeknya itu berulang tahun.

“Tribute to Arswendo Atmowiloto: Harta Paling Berharga” akan digelar di Sentra Jamu Indonesia, Graha Muncul Mekar, Jakarta Barat,  pada Sabtu, 30 November 2019 mendatang.

Tribute to Arswendo Atmowiloto, Karya Arswendo Memang Layak Dikenang 1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here