EksposisiNews, Jakarta – Melakukan khitan atau sunat, memiliki berbagai tujuan dan manfaat. Selain demi tujuan kesehatan dan fungsi seksual, melakukan sunat juga kewajiban bagi lelaki muslim. Cara mengkhitan sendiri terus mengalami perubahan, dari cara-cara tradisional hingga modern dewasa ini. Dibalik setiap cara melakukan khitan, ada juga sejumlah bahaya atau resiko, baik skala kecil hingga bisa mengancam keselamatan jiwa. Sebanyak 35% populasi pria di dunia, melakukan tindakan sirkumsisi.

Sunat sendiri adalah operasi pengangkatan kulup yang merupakan kulit yang menutupi ujung penis atau alat kelamin. Prosedur tersebut pada dasarnya bisa dan boleh dilakukan saat anak-anak maupun ketika sudah dewasa. Dari segi kesehatan memang sunat sangat menguntungkan. Prosedur ini membuat kemaluan pria lebih bersih dan terhindar dari risiko infeksi saluran kemih.

Berdasarkan atas metode ataupun instrument yang digunakan rata-rata komplikasi yang ditimbulkan dari tindakan khitan ini antara 0.2 hingga 2%. Komplikasi yang paling umum terjadi berupa perdarahan, yang mencapai 35%. Dan sebanyak 6% pasien yang mengalami perdarahan dari beberapa literature membutuhkan tindakan operasi lanjutan untuk mengkoreksinya. Oleh sebab itu memang sunat sebaiknya dilakukan di fasilitas kesehatan, seperti di rumah sakit atau klinik. Sehingga saat terjadi kasus hemofilia atau kelainan pembekuan darah, akan bisa langsung tertangani.

Inovasi yang dilakukan dalam mengkhitan adalah mencari proses penyembuhan yang lebih cepat, aman dan murah tentunya, baik untuk anak-anak maupun dewasa. Dewasa ini, proses sunat dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu sirkumsisi atau konvensional, laser atau electrical cauter, klem, dan stapler.

1. Metode Sirkumsisi atau Konvensional

Sunat dengan metode ini dilakukan dengan cara memotong langsung kulup dengan alat potong, seperti gunting atau pisau bedah. Metode sunat ini telah digunakan sejak lama dan masih banyak digunakan saat ini. Kelebihannya adalah minim risiko dan dapat dilakukan untuk pasien segala usia. Namun, proses penyembuhannya membutuhkan waktu dan perlu perawatan di rumah yang saksama.

2. Metode Klem

Sunat dilakukan dengan cara memasang alat klem di batang penis sesuai dengan ukuran. Setelah itu, kulup dipotong dengan pisau bedah. Klem akan terpasang pada penis hingga luka mengering.  Kelebihan dari metode klem adalah tidak menggunakan jahitan dan minim perdarahan. Selain itu, proses penyembuhan juga berlangsung cepat dan tidak terlalu terlalu nyeri. Sayangnya, metode ini terbilang mahal dan klem berisiko menggantung di penis.

3. Metode Stapler

Sunat dengan cara metode ini biasanya dilakukan pada pria remaja dan dewasa. Caranya dengan menggabungkan metode potong serta jahit dengan alat strapler berbentuk lonceng pada bagian dalam untuk melindungi kepala penis. Selanjutnya, ada lonceng lain di luar yang punya pisau bundar untuk memotong kulup. Kelebihan metode ini adalah jahitan yang lebih kuat dan minim perdarahan. Akan tetapi, mirip seperti klem, harga metode stapler terbilang mahal. Stapler juga berisiko menggantung di kepala penis.

4. Metode Laser (Electrical Cauter)

Sunat cara ini dilakukan dengan menggunakan pemanas elektrik yang ditembakkan ke ujung penis untuk memotong kulup. Metode sunat ini menjadi pilihan banyak orang tua untuk anak. Proses tindakan ini lebih cepat dibandingkan metode lainnya. Kelebihan  metode laser adalah minim jahitan dan perdarahan. Proses penyembuhannya pun bisa lebih cepat dan perawatannya lebih sederhana. Adapun kekurangannya, kepala penis berisiko terpotong.

“ Topi Baja” Bisa Melayang Akibat Sunat Laser - Electric Cauter 1

Banyak ahli mengatakan bahwa metode konvensional adalah yang paling aman untuk dilakukan. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh tingkat keberhasilan metode lain yang masih diragukan. Seperti kasus sunat dengan metode laser electric cauter di Pekalongan pada September 2018 silam. Kepala penis anak yang di sunat dengan metode electric cauter ini ikut terpotong. Bukan bahagia, yang ada malah derita. Nah, inilah salah satu resiko yang tentu saja akan mempengaruhi kondisi psikologis dan fisik korban kelak ketika dia dewasa.

Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia, Prof Andi Asadul Islam, jumlah remaja Indonesia yang melakukan sirkumsisi dengan teknik laser sebesar 10,2 juta (12%). Tak heran bila Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membuat amaran dalam hal ini. Lewat Task Force of Circumcision, WHOmerekomendasikan sunat harus dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan kompeten dengan menggunakan teknik yang steril dengan memperhatikan penanganan nyeri yang baik.

Masyarakat sendiri banyak mengira bahwa sunat laser berarti menggunakan sinar laser. Faktanya sunat yang dilakkan ternyata tidak menggunakan sinar laser melainkan alat yang dinamakan electric cauter.  Menurut Dr Arry Rodjani, SpU (K), Dokter Spesialis Urologi RS Siloam Jakarta, electric cauter sebenarnya merupakan alat bedah yang umum digunakan di bidang kedokteran untuk memotong kulit atau pembuluh darah sehingga pendarahan yang muncul saat terjadinya pemotongan akan minimal. Alat ini sudah banyak digunakan di klinik bedah. Namun ada yang dimodifikasikan sedemikian rupa. Ada yang berbentuk lempengan logam yang dipanaskan seperti pemanas air. Lempengan filamen bisa memotong sekalipun mengentikan pendarahan yang bocor.

Dalam melakukan sunat dengan metode ini, Electric cauter yang sudah dipanaskan lewat aliran listrikhingga berwarna merah, akan digunakan untuk memotong kulup pada ujung kemaluan. Dalam praktiknya, resiko metode ini adalah mulai dari rasa panas terbakar disekitar kemaluan hingga terpenggalnya “topi baja” atau ujung kepala penis.

Sebuah laporan kasus yang dipublikasikan dalam British Medical Journal pada Januari 2013 menceritakan kengerian penggunaan electric cauter pada bocah 7 tahun. Sunat dengan electric cauter menyebabkan luka bakar yang parah pada kelenjar penis si anak. Pada pemeriksaan, ia mengalami nekrosis atau kondisi cedera pada sel yang mengakibatkan kematian dini sel-sel dan jaringan hidup pada kelenjar dan batang penis. Teorinya, cara ini akan menimbulkan sedikit luka bakar pada penis. Namun, ternyata luka yang diakibatkan pada anak tersebut memburuk dan mengakibatkan hilangnya jaringan yang signifikan yang melibatkan seluruh kelenjar dan bagian distal batang penis. Alat kelamin anak tersebut akhirnya harus diamputasi.

Menurut Rodjani, beberapa studi memang sudah tidak menganjurkan sunat laser untuk dilakuka. Hal ini disampaikan pada diskusi Forum Jurnalis Online (FJO), yang dilakukan pada Rabu (03/03/2021). Dijelaskan olehnya bahwa apa yang dianggap sebagai sunat laser pada dasarnya tidak menggunakan energi cahaya, namun menggunakan energi panas dengan menggunakan alat elektrokauter untuk memotong jaringan, koagulasi dan diseksi.

Pada sunat dengan alat ini, energi listrik diarahkan langsung menuju jaringan penis, dimana  berisiko menyebabkan terbakarnya jaringan sampai ke glans penis dan dapat menyebabkan luka bakar yg hebat dan berakhir dengan teramputasinya glans penis (total phalic loss) bila saat kulup dipotong terjadi kontak antara kauter dengan klem.

Guna mencegah terjadinya kasus-kasus kecelakaan saat melakukan sunat, Dr. Jasra Putra, M.Pd selaku Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Divisi Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi mengatakan perlunya sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan kelebihan dan kekurangan dari prosedur sunat saat ini. Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat teredukasi dan bisa memilih sunat yang aman dan minim risiko untuk anak mereka.

Jasra juga mengatakan, perlunya mengarahkan masyarakat melakukan sunat di fasilitas kesehatan yang memiliki izin dan memiliki standar operasional prosedur dalam melaksanakan sunat dengan tenaga kesehatan yang kompeten dan terjangkau. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan saat pelaksanaan khitan.

Jusra berharap dengan melalui media massa dapat dilakukan sosialisasi dan edukasi pada masyarakat, sebagaimana tujuan kegiatan yang dilakukan secara daring itu.  “Peran Media Massa dalam Undang-Undang Perlindungan Anak (UU PA) memiliki tanggungjawab dalam penyebarluasan informasi dan materi edukasi yang bermanfaat dari aspek sosial, budaya, pendidikan, agama, dan kesehatan Anak dengan memperhatikan kepentingan terbaik bagi Anak” ungkap Jasra.

Selain itu, orang tua perlu mendukung anak untuk fokus melihat kelebihan diri dari pada kekurangan anak, sehingga meningkatkan rasa percaya diri anak. “Perlindungan dan pemenuhan hak anak yang mengalami disabilitas masuk dalam perlindungan khusus sebagaimana diatur dalam Undang-Undang PA” pungkas Jasra. (Lukman Hqeem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here