Sampah Plastik

Eksposisi News, Jakarta – Permasalahan sampah plastik hingga kini masih menjadi isu menarik karena seolah belum ada terobosan solusi penanganannya. Nampaknya, ada yang salah dalam penanganan sampah plastik selama ini yang menyebabkan penyelesaiannya menjadi sangat sulit dilakukan.  Benang merah ini terungkap dalam diskusi “Tantangan dan Tentangan Sampah Plastik” oleh Forum Jurnalis Online (FJO), Kamis (28/01/2021).  

Rofi Alhanif, Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Kemaritiman dan Investasi RI menegaskan bahwa tingkat pemilahan sampah di Indonesia masih sangat rendah. Inilah awal mula terjadinya permasalahan sampah plastik. “Seharusnya semua bisa dimulai dari rumah kita yang menjadi sumber sampahnya. Kita tidak melakukan pemilahan sampah dengan baik di rumah. Ini yang menjadi awal mula masalah sampah plastik ini, kita tidak melakukan pengelolaan sampah dari hulunya,” ujarnya.

Masalah sampah plastic, menurut Rofi Alhanif disebabkan juga kurang bisanya kita menghasilkan plastik yang multifungsi dan tidak sekali pakai. “Saya kira ini tantangan kita,” ucapnya. Dia mengutarakan ada 0,62 juta ton sampah plastik yang bocor ke laut. Menurutnya, kondisi Indonesia yang memiliki lebih dari 330 sungai menjadi potensi jalan masuknya sampah ke laut.

Ujang Solihin Sidik, Kepala Subdirektorat Barang dan Kemasan KLHK, mengungkapkan belum ada solusi yang komperhensif dan berkelanjutan terkait dengan sampah plastik ini. Menurutnya, hal itu disebabkan karena selama ini semua masih berpikir bahwa urusan sampah ini hanya urusan menangani adanya sampah saja. “Artinya, sampah itu hanya ditangani dengan cara dibersihkan, diangkut, kemudian selesai cuma sampai ditimbun di TPA. Hanya sekedar itu. Jadi, prinsip dan paradigma atau mindset-nya masih banyak yang belum berubah. Ini yang menjadi persoalannya,” tukasnya.

Menurutnya, prinsip dasar pengelolaan sampah itu harus yang berkelanjutan, yang dimulai dari reduce, diikuti reuse dan baru recycle (3R). Jadi hirarki utama yang harus dilakukan dalam penanganan sampah ini adalah bagaimana upaya untuk mencegah sampah supaya tidak timbul. Setelah itu, upaya pemanfaatan reuse dengan mengusahakan penggunaaan kembali sampah-sampah plastik. Sementara, daur ulang sampah berada di urutan terakhir.

Menurut Ujang Solihin, selama ini yang dilakukan adalah kita selalu “menunggu” adanya sampah. Bobotnya hanya pada penanganan saja, yaitu menunggu adanya sampah. Akibatnya, jumlah sampahnya naik terus setiap hari. Ia mengakui kemampuan khususnya pemerintah daerah/kabupaten/kota dalam menangani persoalan sampah ini masih terbatas.

“Akibatnya yang terjadi sampahnya nambah terus, produksi nambah terus terutama sampah plastik. Sementara kapasitasnya masih belum bergerak banyak, sehingga selalu tertinggal dengan jumlah timbulan sampah. Itulah yang terjadi saat ini. Kita hanya berpaku pada penanganan yakni mengurusi sampah yang sudah ada, tapi tidak mengatasi, membatasi, mengurangi, bahkan mencegah timbulnya sampah baru dari berbagai instrumen,” tuturnya.

Ditambahkan olehnya bahwa ada cara yang hingga kini belum dilakukan sama sekali dalam penanganan sampah plastik ini, yaitu bagaimana pengurangan komponen sampah itu dilakukan. Dia mengibaratkan konteks pengurangan sampah itu seperti keran yang ada di bath up yang bocor.

“Nah, dalam konteks pengurangan sampah plastik, bagaimana caranya memperkecil keran ini atau bahkan mematikan sementara kerannya, supaya konteks penanganannya diberikan ruang sehingga kapasitasnya menjadi lebih naik. Jadi konteks pengurangannya yang belum banyak disentuh. Konteks mengurangi itu harus sama pentingnya dengan konteks penanganan dan kebijakan. Ini sudah clear sebetulnya, undang-undang, PP-nya, itu sudah clear. Itulah kenapa konteks penanganan dan pengurangan harus sama pentingnya,” ujarnya.

Selama paradigma penanganan sampah itu belum berubah, menurutnya, sampah akan tetap menjadi beban lingkungan, baik lingkungan darat maupun lautan.

Sementara itu, para aktivis lingkungan selama ini getol mendukung kemasan makanan minuman yang bisa digunakan berulang dan menentang kemasan plastik sekali pakai.  Adithiyasanti Sofia, Manager Program Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, menambahkan recycling saja belum cukup untuk menjawab penanganan permasalahan sampah plastik ini. Dia juga setuju bahwa pengurangan sampah plastik itu harus yang utama dilakukan untuk mencegah terjadinya timbulan sampah.

Andreas Agus Kristanto Nugroho, peneliti dari Ecoton melihat sampah plastik ini telah banyak mencemari sungai. Menurutnya, pencemaran sampah plastic di sungai sudah sangat memprihatinkan karena telah melebihi daya tampungnya. Dalam kajian Ecoton terkini, sampah plastik yang ada di Sungai Brantas misalnya  mencapai 92 ton sampah plastik setiap hari yang harus ditampung di Sungai Brantas, sedangkan daya tampungnya sendiri cuma 62 ton, katanya.

Muharram Atta Rasyadi, Juru Kampanye Urban GreenPeace Indonesia berpendapat cara penanganan yang efektif untuk sampah plastik ini adalah menutup keran atau sumbernya.  Sementara yang ada saat ini adalah daur ulang yang itu dianggap sebagai senjata yang ampuh dalam mengurangi sampah plastik. “Jika kita menjadikan itu senjata utama, maka masalah sampah plastik mini tidak akan selesai sampai kapanpun,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here