EksposisiNews – Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Nasional (Unas) Jakarta menggelar acara Bedah Lima Buku dan Konser Antologi Puisi Karya Prof. Firdaus Syam yang dipanggil akrab dengan Bang Firdaus. Beliau adalah seorang Guru Besar Ilmu Politik dan Ketahanan Nasional di kampus tersebut, bertempat di Auditorium Kampus Universitas Nasional, Jakarta, Jalan Sawo Manila No.61, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/10/2023).

Acara dimulai dengan pembacaan puisi ‘Jenderal Sudirman Pahlawan Sejati’ karya Bang Firdaus yang dibacakan sendiri oleh beliau, lalu dilanjutkan dengan musikalisasi ‘Pahlawan Sudirman’ karya Farid Rahardja.

Setelah itu, berturut-turut bedah buku karya Bang Firdaus yang dilakukan oleh para pakar yang menjadi narasumber. Ulasan dimulai dari buku novel ‘Cinta dan Tinta Taruna di Padang Ilalang’ oleh Prof. Dr. Mia Lauder (Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universistas Indonesia), buku antologi puisi ‘Penyintas Merah Putih Hijau Hitam’ Prof. Dr. I Ketut Surajaya (Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universistas Indonesia), buku antologi puisi ‘Puisi dalam 7 Bahasa’ Prof. Dr. KH. Husnan Bey Fenanie, M.A. (Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Ajerbaijan), buku antologi puisi ‘Sastra Politik’ Dr. M. Alfan Alfian (Pengamat Sosial dan Politik) serta buku ‘Dialog Sastra’ oleh Riri Satria. Setiap narasumber juga membacakan puisi di akhir ulasannya.

Sosok Prof. Firdaus Syam di Mata Riri Satria dan Emi Suy: Ilmuwan yang Kritis Namun Puitis 1

Bang Firdaus: Sosok Multitalenta

“Sesuai dengan pesan dari Bang Firdaus Syam maka saya diminta untuk menganalisis sisi lain dari beliau. Jadi saya akan memotret sosok Bang Firdaus Syam dari puisi-puisinya dengan menggunakan ebrbagai pisau analisis “ kata Riri Satria mengawali pemaparannya.

Riri Satria adalah Ketua komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan Pimpinan Umum Sastramedia.com walaupun memiliki latar belakang pendidikan dan profesi di bidang teknologi dan ekonomi.

Menarik menyimak pemaparan Riri yang sangat metodologis dan menggunakan pendekatan scientific inquiry antara lain mempelajari buku Bang Firdaus, mempelajari jejak digital di internet, serta wawancara dengan Bang Firdaus sendiri.

Menurut Riri Satria, sosok Bang Firdaus Syam yang terlihat secara artefak atau kasat mata adalah seorang multitalenta.

“Pertama, beliau adalah seorang ilmuwan, profesor/guru besar, dan pemikir. Kedua, beliau adalah sosok yang religius punya afiliasi dengan HMI dan MUI. Ketiga, beliau adalah seorang yang puitis. Keempat, beliau adalah seorang yang menyukai musik. Kelima, beliau adalah seorang yang akrab dengan buku: pembaca dan penulis andal. Keenam, beliau adalah seorang yang trendi dalam penampilan”.

“Beliau adalah sosok yang selalu gelisah dan terusik dengan berbagai kondisi kehidupan. Pertama, kegelisahan itu ditangkap dengan rasa, ditulis dalam bentuk puisi, ungkapan atau reaksi emosi atas kegelisahan, supaya pembaca/pendengar tergugah, dalam hal ini beliau sebagai penyair. Kemudian, kedua, kegelisahan itu ditangkap dengan pikiran yang rasional, dianalisis, dan menghasilkan berbagai gagasan solusi, yang dalam hal ini beliau sebagai ilmuwan. Keduanya dilakukan dengan pendekatan spiritualitas, “ papar pengamat transformassi digital dan komisaris BUMN PT. Jakarta International Container Terminal yang juga pencinta puisi itu.

Riri Satria menyampaikan tentang sosok Bang Firdaus yang terbaca dari puisinya, yakni Heksagon Kegelisahan Puitis Bang Firdaus Syam. “Ada enam, di antaranya, pertama, ketuhanan, agama, dan spiritualitas. Kedua, nasionalisme dan kebangsaan Indonesia. Ketiga, sosial, kemanusiaan, dan kebudayaan. Keempat, pembangunan dan ekonomi. Kelima, keluarga dan orang-orang dekat. Keenam, alam sekitar dan lingkungan hidup, “ tandasnya.

Bang Firdaus dan Puisi Kritik Sosial

Adapun, penyair Emi Suy yang membacakan puisi ‘Jakarta Polusi Melambai’ karya Bang Firdaus yang menggambarkan tentang kontradiksi Jakarta pada waktu dulu dan sekarang, memiliki penilain tersendiri mengenai sosok Bang Firdaus.

“Dulu Jakarta masih teratur dan masih bersih, sekarang pembangunan marak dimana-mana, itu tentu ssaja bagus, namun ada dampak sosialnya, “ ujar salah seorang pendiri dan pengurus Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan sekretaris sekaligus anggota dewan redaksi Sastramedia.com.

Selanjutnya, perempuan kelahiran Magetan, Jawa Timur, 2 Februari 1979 ini menerangkan, bahwa kesenian memang masih ada, tapi musik zaman sekarang membawa kita kepada perilaku kebarat-baratan yan kebablasan. Setidaknya itulah yang disampaikan oleh Bang Firdaus dalam puisi tersebut.

Menurut Emi, Jakarta sekarang semakin banyak berubah. Semakin banyak gedung-gedung pencakar langit.

“Jakarta pada zaman dulu sungai masih bersih, tapi sekarang sungai sangat kotor dipenuhi sampah. Jakarta polusi udaranya sangat tinggi. Jakarta saat ini pertumbuhan ekonomi dan tata kota yang bagus, tapi ada dampaknya, terkikisnya budaya Betawi, akhir-akhir ini sudah semakin tinggi polusi udaranya,“ papar Emi, penerima Anugerah Pustaka dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai salah satu buku puisi terbaik di Indonesia tahun 2019 ini.

Emi menilai bahwa puisi ‘Jakarta Polusi Melambai’ karya Bang Firdaus Syam adalah puisi yang terang. Puisi yang lugas, puisi yang sangat jelas dalam menggambarakan kesemrawutan Jakarta saat ini.

“Sebenarnya ini puisi kritik sosial. Puisi yang bagus. Puisi yang menyiratkan betapa sangat memprihatinkan pertumbuhan tata kota Jakarta yang bagus tapi banyak dampak sosialnya yang kontradiksi sekali, “ pungkas Emi Suy tegas.***       

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini