Pada akhir pekan, harga emas mengalami tekanan jual kuat menyusul pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell di Simposium Jackson Hole. Harga emas ditutup lebih rendah pada perdagangan di hari Jumat (25/08/2023) karena dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah tetap mendekati level tertinggi dalam 17 tahun.

Dolar AS mendapatkan sentiment positif setelah Powell berbicara di Simposium tersebut namun tidak memberikan indikasi bahwa suku bunga akan segera turun kapan saja. Ia melihat adanya tanda-tanda bahwa perekonomian mungkin tidak melambat seperti yang diharapkan.

Mengutip data, Powell melihat bahwa sepanjang tahun ini, pertumbuhan PDB AS berada di atas ekspektasi dan di atas tren jangka panjang, dan data belanja konsumen baru-baru ini terutama menunjukkan hal yang sama kuatnya.

Selain itu, setelah mengalami perlambatan tajam selama 18 bulan terakhir, sektor perumahan menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Bukti tambahan bahwa pertumbuhan yang terus-menerus berada di atas tren dapat menempatkan kemajuan inflasi lebih lanjut dalam risiko dan memerlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. kata Powell dalam teks pidatonya.

Alih-alih memberikan dampak buruk bagi pasar seperti yang dilakukannya tahun lalu, ia justru lebih berhati-hati dan menegaskan kembali janjinya untuk terus memantau data ekonomi dengan hati-hati sambil membuka pintu bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut. Ia mengatakan bahwa perekonomian AS tidak melambat seperti yang diperkirakan dan suku bunga mungkin perlu dinaikkan jika inflasi terus melampaui target The Fed sebesar 2%.

Tentu saja ini menjadi sentiment positif bagi Dolar dan Obligasi AS. Indeks dolar AS (ICE) terakhir terlihat naik 0,16 poin menjadi 104,14. Sementara indek Dolar AS (DXY) juga naik 0,1% ke 104,08. Sementara yield obligasi AS tetap mendekati level tertinggi sejak tahun 2006. Obligasi dua tahun AS terakhir terlihat membayar 5,058%, naik 4,4 basis poin, sedangkan obligasi 10 tahun naik 0,1 basis poin menjadi 4,239%.

Pada perdagangan di pasar spot, harga emas turun ke $1914 per troy ons. Sementara harga emas  di bursa berjangka untuk pengiriman Desember ditutup turun $7,20 menjadi menetap di $1.939,90 per ons. Namun kemunduran tersebut tidak menghentikan harga logam mulia untuk mencatat kenaikan mingguan pertamanya setelah empat minggu berturut-turut mengalami penurunan. Secara keseluruhan, terjadi kenaikan harga emas sebesar 28 USD per ons selama minggu sebelumnya.

Perdagangan emas daam sepekan ini sempat mengalami pemulihan kecil namun masih bersifat tentatif. Penguatan harga dapat berlanjut jika narasi dari The Fed berubah, atau terlihat adanya perbaikan yang signifikan dalam data inflasi atau memburuknya angka pasar tenaga kerja dan data lainnya. Dengan sejumlah data tersebut, diharapkan bank sentral mungkin akan kesulitan untuk menghasilkan banyak momentum bagi pembalikan ekonomi.

Memang apa yang disampaikan oleh Powell tidak membuat pikiran para pedagang menjadi tenang dan para pedagang semakin dipaksa untuk menerima suku bunga yang tetap lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, memperkuat dolar dan kembali membebani emas di akhir pekan. Berkaca pada perdagangan sebelumnya, bahwa meningkatnya imbal hasil obligasi global dan penguatan dolar AS telah memicu aksi jual emas selama sebulan terakhir. Imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun naik 4 basis poin menjadi 4,274% pada hari Jumat.

Mayoritas investor kini mengantisipasi lonjakan harga emas pada 1 September. Namun demikian, analis pasar menunjukkan kehati-hatian yang lebih besar.

Secara teknis, terdapat pola bearish flag yang membuat pergerakan harga masih memiliki bias negatif. Pada grafik harian menunjukkan sentimen netral hingga bearish untuk XAUUSD, dimana momentum penurunan dari tren bullish baru-baru ini masih bisa terjadi. Dengan demikian, untuk menangkap potensi pergerakan selanjutnya, sebaiknya menunggu breakout dari bearish flag  di sekitar 1920 untuk meyakinkan posisi beli lebih lanjut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini