Bendungan Kawah Ijen 1910an - Kartupos koleksi Lukman Hqeem
Kartupos bergambar pembangunan Bendungan Kawah Ijen dikirim tahun 1917 dari Surabaya ke Belanda. Penerbit kartupos F.H. Gruyter. (Koleksi Lukman Hqeem)

Eksposisi News – Bendungan Kawah Ijen dibangun pada 1900an. Bendungan berukuran raksasa ini dikenal juga dengan “Dam Kawah Ijen” sementara masyarakat sekitar cukup menyebutnya dengan “Bendungan Belanda”. Lokasinya agak tersembunyi sehingga cukup sepi pengunjung ditengah keriuhan spot utama, puncak Ijen.

Dam ini terbuat dari beton sehingga tetap kokoh hingga kini, meski sudah tidak lagi digunakan. Dengan bendungan ini ketinggian air danau di Kawah Ijen dapat dikelola guna mencegah luapan air kawah yang bisa menjadi banjir asam.

Untuk menuju ke bendungan ini harus melalui jalur turun dari bibir kawah ke area danau yang berat. Namun demikian terbayarkan dengan pemandangan yang memikat. Posisi jalannya sendiri terletak sebelum Pos Bunder.

Peta topografi Puncak Ijen tahun 1920 menunjukkan posisi dam (Sluis) beserta Pondok Ijen tersebut. Jika penasaran, silahkan bertanya pada pengangkut belerang yang banyak hilir mudik di sekitar lokasi.

Nama Gunung Ijen sudah di sebut dalam laporan VOC sebagai salah satu lokasi persembunyian dan gerilya laskar Blambangan pimpinan Wong Agung Wilis. Tanahnya yang bergunung-gunung dan dipenuhi hutan lebat, memberikan kesan angker di wilayah tak bertuan ini.

Puncak Ijen mulai tersentuh setelah pemerintah Hindia Belanda menyewakan tanah yang amat luas kepada saudagar dan kapten Cina di Surabaya yang kaya raya, Han Chan Pit dan saudaranya, Han Ki Ko. Sebanyak 40 ribu pekerja asal Madura didatangkan untuk mengolah perkebunan ini.

Pemberontakan para petani yang dipimpin Kiai Mas pada tahun 1813 membuat tanah sewaan ini dibeli kembali oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada akhir abad ke-XIX dilakukan pembukaan kembali lahan-lahan ini untuk dijadikan perkebunan kopi dan karet. Kembali ribuan pekerja asal Madura didatangkan untuk mengolahnya.

Nama Ijen mulai dikenal dunia sejak kedatangan dua turis asal Perancis, Nicolas Hulot dan istrinya Katia Kraft pada tahun 1971. Mereka menuliskan kisah pesona Kawah Ijen beserta kerasnya kehidupan para penambang belerang di majalah Geo,Perancis. Dua hal inilah yang menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan dan fotografer dunia hingga kini.

Saat ini, pemerintah Banyuwangi tengah mengusulkan kawasan ini kepada UNESCO sebagai salah satu Geopark. (Lukman Hqeem)

Satu Abad Dam Kawah Ijen 1
Peta Topografi Puncak Ijen 1920 (Sumber KILTV)
Satu Abad Dam Kawah Ijen 2
Pondok Irigasi Kawah Idjen (Kartupos diterbitkan oleh F.H. Gruyther, 1910an)

Satu Abad Dam Kawah Ijen 3
Pondok Kawah Ijen pada 1920-an (Sumber : KILTV)
Satu Abad Dam Kawah Ijen 4
Survey oleh Dinas Pekerjaan Umum Banyuwangi pada September 2020 (Kredit : Kabar Rakyat)
Satu Abad Dam Kawah Ijen 5
Bendungan Kawah Ijen (Youtube Muhammad Rifqi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here