Dolar
Eksposisinews – Dolar AS terpaksa hentikan kenaikan pada sesi Rabu dan sempat bertahan di dekat level terendahnya dalam 2 pekan terakhir. Bahkan dolar AS saat ini menuju level terendahnya dalam 3 pekan terakhir hingga tengah hari pada sesi Kamis di Asia.

Dolar AS terus terbebani oleh pernyataan terbaru dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tidak masuk dalam radar bank sentral.

Pada Rabu tengah hari waktu AS, atau Kamis dini hari waktu Indonesia Barat, Federal reserve awalnya terdengar yakin tentang ekonomi, dalam pernyataannya. Kemudian Powell lebih berhati-hati dan mengatakan dalam konferensi persnya bahwa kenaikan suku bunga “masih jauh” dan bahwa pasar kerja masih memiliki “beberapa alasan untuk ditopang”.

Greenback awalnya naik sesaat Powell menyampaikan pidatonya, sebelum akhirnya perlahan mundur ke level terendah dua minggu di $1,1849 terhadap euro. Euro saat ini terpantau menuju level psikologisnya terhadap dolar AS yang saat ini terus membentuk level tertinggi hariannya di area 1.3938.

Penggerak besar lainnya minggu ini adalah sterling, karena para pedagang telah didorong oleh tanda-tanda awal bahwa Inggris mengakhiri sebagian besar pembatasan COVID minggu lalu bukanlah bencana. Penguatan sterling tak lepas atas optimisme pembukaan kembali dari lockdown yang diberlakukan guna menghindari penyebaran virus corona.

Angka infeksi Inggris berdetak lebih tinggi pada hari Rabu, tetapi rata-rata kasus mencatat penurunan – meskipun para ahli, dan Perdana Menteri Boris Johnson, telah memperingatkan bahwa terlalu dini untuk menarik kesimpulan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here