EKSPOSISI – Dolar terhadap rupiah menguat dari hari ke hari dengan sentiment eksternal yang kuat Rupiah bisa terseok hingga Rp. 16.000 per dolar AS. Ditengah tren ini, sebagian besar pelaku pasar nampaknya lebih memilih aman menanti data transaksi berjalan Indonesia kuartal II-2020 yang akan dirilis pekan ini.

Sebelumnya pada kuartal I lalu, defisit transaksi berjalan membaik. Tercatat sebesar US$ 3,9 miliar atau setara dengan 1,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ini adalah defisit terendah sejak 2017.

Pada kuartal II kemungkinan akan kembali membaik, mengingat pada bulan Mei dan Juni neraca dagang Indonesia mengalami surplus.

Secara ekternal, pelemahan Rupiah tak terhindarkan dari penguatan Dolar AS. Sejumlah data ekonomi, khususnya di sektor lapangan kerja AS yang lebih baik dari perkiraan mampu membuat Dolar AS menguat dan Rupiah tertekan.

Kedepannya, secara teknis, level 14.800 akan menjadi titik konfirmasi kenaikan Dolar AS terhadap Rupiah. Dimana pada level ini, Rupiah bisa melorot lagi hingga ke 15.350.

Dolar AS berpotensi melemah saat pemerintah AS memutuskan besaran anggaran paket stimulus untuk menangani Wabah Corona ini. Selain itu, ketegangan hubungan AS – China akan ikut membebani Dolar AS.

Pada kesempatan ini, Rupiah akan memiliki peluang untuk menguat kembali. Jika cukup beruntung, Rupiah bisa kembali ke level 14.200 an per Dolar AS.

Kisaran perdagangan hari ini masih di 14.550 sampai dengan 14.750.

Harga emas Antam turun seiring penurunan harga emas dunia. Harga emas Antam 24 karat dijual mulai harga Rp1.054.000 per gram. Sebelumnya, dijual dengan harga Rp1.055.000 per gram atau turun sebesar seribu rupiah. Sementara harga beli kembali dipatok Rp953.000 per gram atau turun seribu rupiah dari sebelumnya di Rp954.000 per gram.

Jatuhnya harga emas ini terkait dengan penguatan Dolar AS diakhir pekan kemarin. Dimana pada hari Jumat, harga emas turun 2% pada hari, memotong kenaikan mingguan 2,1% akibat aksi ambil untung pasar. Pasalnya, harga telah naik selama sembilan minggu berturut-turut, menandai rekor terpanjang sejak periode yang berakhir 12 Mei 2006.

Pada perdagangan emas tadi malam di bursa NYMEX, harga masih melanjutkan tren kenaikannya akibat sentiment geopolitik yang kuat. Hubungan China – AS memanas karena China memberlakukan sanksi baru terhadap para pejabat AS. Ini merupakan tindakan balasan atas tindakan AS terhadap pejabat Hong Kong dan China beberapa minggu lalu.

Harga emas naik $ 11,70, atau 0,6%, menetap di $ 2.039,70 per troy ons,

Secara teknis, kenaikan emas masih berpeluang dalam jangka pendek. Target $2.100 masih menjadi acuan walam waktu dekat. Sementara penurunan harga emas dalam jangka pendek adalah berusaha menyentuh harga krusial di $ 2.000,00.

Investor juga mengamati perkembangan seputar pendanaan tambahan dari pemerintah untuk membantu orang Amerika yang kehilangan pekerjaan karena pandemi mematikan, setelah negosiasi Kongres gagal mencapai kesepakatan tentang bantuan pada minggu lalu. Presiden Trump pada Sabtu menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan untuk menghentikan pengumpulan dana, pajak gaji, memberikan bantuan sewa, membantu pembayaran pinjaman pelajar dan memperpanjang sebagian dari tunjangan pengangguran tambahan yang telah berakhir pada akhir bulan lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here