Harga Minyak

Harga minyak melonjak lebih dari 3% pada hari Selasa (11/01/2022) menjelang laporan data persediaan minyak mentah API yang banyak dinanti pelaku pasar karena adanya keraguan yang terus meningkat tentang kemampuan OPEC untuk menanggapi peningkatan permintaan. Pada 23:54 WIB, WTI diperdagangkan naik $3,04 atau 3,89% per barel pada $81,27. Harga minyak mentah Brent diperdagangkan naik $2,76 atau 3,41% per barel pada $83,63, tercatat sebagai harga tertinggi tahun ini.

Sehari sebelumnya, narasinya justru sebaliknya, karena adanya kekhawatiran Omicron yang meragukan efek permintaan minyak jangka pendek, terutama dengan China, yang memiliki kebiasaan secara agresif mengunci wilayah yang terinfeksi untuk memperlambat penyebaran virus. Tetapi pada hari Selasa, pasar telah berayun ke arah lain di tengah laporan bahwa kapasitas cadangan OPEC+ akan menyusut di semester kedua tahun ini karena secara bertahap mereka meningkatkan target produksi antara sekarang dan kemudian pada tingkat tambahan 400.000 barel per hari setiap bulan.

Katalis lain yang mendorong harga minyak naik adalah pelemahan dolar AS, yang membuat minyak lebih murah bagi negara-negara yang memegang mata uang lain.

Akhirnya, ketidakmampuan OPEC+ untuk meningkatkan produksi secepat yang telah disepakati juga memberikan dukungan pada harga minyak mentah. Sementara kelompok OPEC+ yang lebih besar telah sepakat untuk meningkatkan produksi pada 400.000 barel per hari, mereka tidak dapat mencapai volume ini di bulan apa pun.

Untuk Desember, OPEC berhasil meningkatkan produksi hanya naik 70.000 barel per hari dari November, cukup rendah dari 253.000 barel per hari yang merupakan bagiannya dari kenaikan 400.000 barel per hari yang disetujui OPEC+. Sementara OPEC+ telah setuju untuk meningkatkan 400.000 barel per hari lagi pada bulan Februari, tetapi karena OPEC+ meningkatkan produksi setiap bulan ke tingkat yang berbeda-beda, kelebihan kapasitasnya berkurang, mengurangi kemampuan OPEC untuk menanggapi peningkatan permintaan.

Di sisi dolar, pelemahan dolar sebagian karena para pedagang waspada terhadap data inflasi Desember yang akan dirilis pada hari Rabu, dan sebagian karena kenaikan suku bunga yang diantisipasi oleh cadangan federal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here