Pamor Wicaksono menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan Hari Santri pada Jumat (27/10/2023) di Rengas Bandung, Jatibarang Brebes. Foto AQJ.

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Rengas Bandung, Jatibarang menggelar kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober, bertepatan dengan momentum perayaan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober. Kegiatan secara Bersama-sama ini sekaligus untuk melantik kepengurusan di Ranting NU Rengas Bandung pada Jumat (27/10/2023).  

Pamor Wicaksono, anggota DPRD Kabupaten Brebes dalam sambutannya menekankan pentingnya mengambil contoh kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan dalam tiap aspek kehidupan, termasuk dalam berbangsa dan bernegara.  Sebagai pemuda, Nabi Muhammad SAW sudah memberikan suri tauladan dengan kepemimpinan dan sikap amanahnya, sehingga sudah bergelar al amin.

Dalam sejarahnya, menurut Pamor Wicaksono, sikap dan teladan Nabi menjadi inspirasi bagi para pendiri bangsa ini dalam melahirkan gerakan anti kolonial dan perang melawan penjajah. Dijelaskan oleh Pamor bahwa dua tahun sebelum Kongres Pemuda pada 27-28 Oktober 1928, Nahdlatul Ulama (NU) telah berdiri. Tepatnya pada 31 Januari 1926. Lewat organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, para ulama dan tokoh-tokoh NU telah menyemaikan benih-benih pergerakan melawan kolonial Belanda.

Setahun sebelum deklarasi Sumpah Pemuda, tepatnya pada tanggal 9 Oktober 1927, para kiai NU dalam forum tertinggi NU memutuskan menabuh genderang perang kebudayaan. Para kiai NU menyasar pada pelarangan budaya Belanda yang tersimbolkan dalam ornamen mode pakaian. 

Keputusan NU tersebut sebagai bentuk perlawanan budaya yang berwujud boikot dan delegitimasi atas budaya penjajah. Secara langsung, gerakan ini melahirkan hukum bagi muslim Nusantara untuk wajib berperang mengangkat senjata. Keputusan NU untuk perang kebudayaan cepat tersosialisasi ke tengah masyarakat. Muslim Nusantara meresponnya dengan patuh dan dipraktikkan. Segala macam asesoris, ornamen, simbol yang berbau penjajah mendapatkan penolakan keras dari masyarakat desa. Selama satu tahun NU melakukan perang kebudayaan dengan berbagai konsekuensi turunannya.

Babak selanjutnya terjadi pada tanggal 9 September 1928, sebulan sebelum deklarasi Sumpah Pemuda. Saat itu, NU menggelar Muktamar ke-3 dimana para kiai kemudian memutuskan untuk melanjutkan perang kebudayaan menghadapi penjajah. Selain itu juga menambah agenda baru konfrontasi dengan Belanda dengan memasukkan isu ekonomi dan politik.

Pada isu ekonomi,  para kiai melakukan delegitimasi mata uang penjajah. Sedangkan pada isu politik digulirkan pertanyaan keabsahan kekuasaan penjajah di bidang keagamaan. Maka menjelang Sumpah Pemuda, perlawanan para kiai NU maju dua langkah: pertama, menyisir dari kelemahan mata uang penjajah. Kedua, menyisir dari kelemahan kekuasaan penjajah di bidang keagamaan.

Satu bulan setelah Muktamar ke-3 NU, pada 27-28 Oktober 1928 di lakukan Kongres Pemuda kedua dan ditutup dengan deklarasi Sumpah Pemuda. Tema besar Sumpah Pemuda cepat direspons masyarakat mengingat Sumpah Pemuda adalah bagian dari babak perjuangan anak bangsa, termasuk NU.

Demikianlah, bagaimana peran NU sebagai bagian dari gerakan sistematik kebangkitan nasional. Menjadi salah satu inisiator gerakan pemuda. Benih-benih cinta tanah air ini akhirnya bisa menjadi energi positif bagi rakyat Indonesia secara luas sehingga perjuangan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi pergerakan sebuah bangsa yang cinta tanah airnya untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Semangat nasionalisme yang terus diperjuangkan oleh KH. Hasyim Asyari ini semakin di gelorakan. Pada masa perang revolusi mempertahankan kemerdekaan, tepatnya pada 22 Oktober 1945 dikeluarkanlah maklumat Resolusi Jihad oleh KH. Hasyim Asyari untuk melawan pasukan Sekutu dengan di boncengi pasukan NICA Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia. Resolusi Jihad inilah yang memantik perang hingga peristiwa Pertempuran besar pada 10 November 1945 di Surabaya. Akhirnya, sejak 2015  pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri sebagai wujud penghargaan terhadap supremasi perjuangan para santri dan ulama pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pamor Wicaksono mengatakan bahwa di zaman yang penuh tantangan dan kompleksitas saat ini, jihad tidak lagi berupa pertempuran fisik, melainkan pada perjuangan intelektual yang penuh semangat. Menurutnya, para santri masih memiliki peran penting sekaligus menjadi penjaga terdepan dalam pertempuran melawan ketidakpahaman, kebodohan, dan ketertinggalan. Mereka adalah pejuang ilmu pengetahuan yang tak kenal lelah, mengejar pengetahuan dan kebijaksanaan sebagai senjata utama mereka.

Bahkan dalam tradisi Islam, jihad intelektual adalah cara untuk membela nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan pengetahuan, jelas Pamor Wicaksono yang pada pemilu 2024 akan kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Brebes dari Partai Golkar. Ditambahkan olehnya bahwa santri adalah teladan dalam menjalani jihad. Dengan buku sebagai senjata dan pena sebagai tongkat kebijaksanaan, mereka memperdalam ilmu dan menyebarkan cahaya pengetahuan.

Pamor berharap bahwa lewat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus merayakan hari Santi dan Sumpah Pemuda ini, menjadi momentum kebangkitan para pemuda khususnya di Brebes untuk giat membangun dan berjuang menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Ia berpesan bahwa sudah saatnya pemuda mendapatkan peran yang lebih besar dan banyak dalam pembangunan. Pemuda adalah sumber kekuatan baru, new emerging forces – yang diatas pundaknyalah pembangunan masyarakat menuju adil dan sejahtera dapat ditautkan, dan saya sebagai pemuda menegaskan bahwa “takkan kubiarkan rakyat menunggu”, pungkas Pamor Wicaksono.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini