Jayengtilam
Wayang Beber yang dikoleksi Museum Sonobudoyo sejak 1994 ditampilkan dalam Pameran Jayengtilam.Pameran temporer ini berlangsung hingga 30 Desember 2020.

EKSPOSISINEWS – Sukses dengan pameran-pameran sebelumnya, tahun ini Museum Sonobudoyo kembali menggelar temporer Annual Museum Exhibition (AMEX) bertajuk Jayengtilam, Sastra Lisan dan Pembentukan Identitas Lokal. Penyelenggaraan pameran ini menjadi momentum peringatan HUT Museum Sonobudoyo yang ke-85 tahun. Ide dasar dari penyelenggaraan pameran ini adalah kedekatan emosional Masyarakat Jawa dan Yogyakarta terhadap tradisi lisan. Bahkan sampai saat ini, tradisi lisan terus diproduksi sebagai produk kebudayaan di tengah berkembangnya tradisi tulis.

Istilah Jayengtilam sendiri merupakan terminologi dari Bahasa Jawa yang terdiri dari 3 kata jayang ing tilam atau berjaya di peraduan. Hal ini merepresentasi banyaknya kebudayaan lisan yang berkembang di tempat tidur, seperti halnya dongeng sebelum tidur.

Menurut Setyawan Sahli, Kepala Museum Sonobudoyo, pemilihan judul tersebut terinspirasi dari aktivitas tutur yang dilakukan orang tua kepada anaknya sesaat sebelum tidur. Tujuannya tentu sebagai upaya penanaman nilai moral maupun norma-norma, kadang kala juga menceritakan tentang leluhur.

Tajuk Jayengtilam juga merupakan nama dari tokoh Panji, yaitu Panji Jayengtilam. Nama Jayengtilam kemudian diadopsi sebagai bagian dari tajuk pameran sebab berkaitan dengan kesejarahan cerita Panji. Pada mulanya cerita Panji sebagai maha-karya sastra dari Nusantara terlebih dahulu disebarkan melalui tradisi lisan. Barulah setelah bertransformasi sebagai identitas lokal Daha dan Jenggala, cerita Panji kemudian dipahatkan pada relief-relief candi. Dari sisi inilah kolaborasi ide, sejarah, dan kekayaan nusantara diboyong dalam pameran.

Di samping itu, kehidupan tradisi lisan di masyarakat masih terus berkembang hingga saat ini. Bahkan pewarisan budaya lisan sebagai identitas lokal masih terus dilakukan. Mitos, gugon tuhon, legenda urban, atau sekedar cerita-cerita setempat menjadi potret nyata dari kelestarian tradisi lisan. Fenomena inilah yang dijadikan pendorong ide kreatif museum untuk menggelar pameran akhir tahun.

Sejumlah wayang tentang setan dalam kelompok Pasetran Gandhamayit ditampilkan dalam Pameran Jayengtilam. Juga topeng-topeng figur dari kesenian Topeng Panji turut ditampilkan. Untuk melengkapi, ditampaikan juga batik Kampuh Jumputan Sutra Hijau yang merupakan bagian dari busana kebesaran kaum bangsawan Jawa pada masa lampau serta tombak Kala Wijan dan Tombak Ron Dadap Tinatah Emas. Pengunjung juga bisa melihat bagian dari pola tata ruang pada rumah arsitektur Jawa ditampilkan dalam Pameran Jayengtilam.

Jayengtilam, Pameran Tradisi Lisan HUT Museum Sonobudoyo ke-85 1
Topeng-topeng Panji dalam Pameran Jayengtilam di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. (Dok.Sonobudoyo)

Pameran Jayengtilam digelar di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo, yang berada di Jl. Trikora/ Pangurakan No. 4 Yogyakarta, atau sisi selatan dari titik nol. Pameran tersebut menghadirkan 7 ruang utama dengan berbagai koleksi dan penceritaan serta 1 ruang interaksi yang akan memanjakan pengunjung mendengarkan tradisi tutur. Setiap ruang akan berdiri sebagai penceritaan yang mandiri. Pengunjung tentu akan dimanjakan dengan narasi yang dibangun dalam pameran ini.Cerita tentang Wayang Beber Panji, Wayang Setanan, Astabrata, Kanjeng Ratu Kidul, hingga topeng dan pasren mewarnai setiap sudut ruang pamer.

Pameran Jayengtilam ini digelar sejak tanggal 6 November hingga akhir tahun 2020. Masyarakat yang akan menyaksikan tidak dipungut biaya apapun. Jika akan berkunjung ke pameran ini, apabila membawa kendaraan pribadi dapat diparkir di halaman Museum Sonobudoyo yang letaknya depan Alun-alun Utara.

Pengunjug dapat berjalan kaki untuk menuju Gedung Pameran Temporer melalui pedestrian Jalan Trikora. Tidak perlu khawatir, sebab dalam penyelenggaraan pameran ini Museum Sonobudoyo sudah menerapkan protokol kesehatan. Tempat cuci tangan, pemeriksaan suhu, hingga penerapan jaga jarak selama berkunjung ke pameran ditetapkan untuk menjaga kesehatan. Bagi masyarakat luas, pameran ini dapat menjadi alternatif kunjungan wisata akhir tahun 2020.

Museum Sonobudoyo sendiri didirikan oleh Java Instituut, yaitu Yayasan Kebudayaan Jawa, Bali, Lombok, dan Madura pada masa kolonial yang anggotanya terdiri atas orang asing dan pribumi. Panitia perencana pendirian museum dibentuk pada tahun 1931 dengan anggota antara lain: Ir.Th. Karsten P.H.W. Sitsen, dan Koeperberg.

Bangunan museum menggunakan tanah bekas “Shouten” hadiah dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan pembangunannya ditandai dengan candrasengkala memet “Buta Ngrasa Esthining Lata” yaitu tahun 1865 Jawa (tahun 1934 Masehi), terukir di “tebeng” yang letaknya di bagian atas gawangan pintu utama nDalem Ageng. Sedangkan peresmian dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana VIII pada hari Rabu Wage tanggal 9 Ruwah 1866 Jawa (6 Nopember 1935 Masehi) dengan ditandai candrasengkala memet “Kayu Winayang ing Brahmana Budha”, terukir pada dinding “regol” (gapura) Museum Sonobudoyo.

Pada saat ini Museum Negeri Sonobudoyo merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah dari Dinas Kebudayaan DIY. Berdasarkan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 42 Tahun 2008 Museum Negeri Sonobudoyo mempunyai tugas mengelola, mengembangkankoleksi, bimbingan edukatif, mendokumentasikan dan mempublikasikan benda-benda koleksi museum yang mempunyai nilai budaya dan ilmiah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here