EksposisiNews – Dunia sastra melahirkan Nunung Noor El Niel, sosok penulis yang berani dalam menciptakan bahasanya sendiri. Puisinya dianggap vulgar, tapi sebenarnya perempuan kelahiran Jakarta, 26 September ini memang selalu menciptakan karyanya dengan gamblang. Menurut Nunung, menulis itu kebebasan berekspresi.

Sejak sekolah Nunung suka menulis, menyanyi dan baca puisi dan sesekali mengikuti drama yang diadakan di sekolah. Kini ia menetap di Bali dan bekerja di sebuah travel agent. Di sela-sela kesibukan bekerja dan sebagai ibu rumah tangga juga mengikuti kegiatan seni dan tergabung di beberapa komunitas sastra, di antaranya: JKP (Jatijagat Kampung Puisi Bali) dan komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM).

Nunung Noor El Niel, Penulis yang Berani Ciptakan Bahasanya Sendiri 1

“Dari sekolah SMPN 4 Bogor, aku sudah sering nulis puisi dan mengisi puisi di majalah Palang Merah Remaja (PMR), “ kata Nunung Noor El Niel menururkan awal ketertarikannya pada dunia sastra, kepada wartawan, Sabtu (21/10/2023).

Lebih lanjut, Nunung menerangkan, pada awal dirinya menulis puisi biasa-biasa saja, tapi kemudian ia mencari kesejatian diri. “Aku diberi saran oleh Ade Alwi untuk “menciptakan bahasa sendiri”. Akhirnya, aku mencari jati diri dengan menulis tentang perempuan. Jadi tubuh perempuan dan tubuh lelaki itu aku jadikan metafora dalam setiap puisi aku, “ terangnya.

Menurut Nunung, banyak orang yang menganggap puisinya vulgar, tapi ia menepis sesungguhnya tidak vulgar. “Aku menulis puisi itu banyak tantangannya dari keluarga dan teman-teman sekitar, banyak yang marah karena aku menulis puisi kok seperti itu. Tapi banyak juga senior-senior yang mensupport aku untuk tetap menjadi diri aku sendiri, tidak usah merubah bahasa, “ ungkapnya mantap.

Nunung mengaku mulai aktif menulis puisi sejak ada Facebook tahun 2009. “Tapi aku mulai posting puisi di Facebook sejak 2012. Saat itu suamiku sakit tujuh tahun sampai meninggal, dari situ aku banyak menulis. Tulisan aku memang kebanyakan tentang perempuan. Metaforanya juga aku ambil dari tubuh perempuan, “ ujarnya.

Banyak orang, kata Nunung, menilai puisinya identik bersetubuh, tapi sesungguhnya tujuannya tidak bersetubuh, tapi ia bercerita apa saja yang ada di sekitar kita, yang gamblang-gamblang saja. “Karena aku ingin perempuan itu tidak menjadi orang yang tertindas. Dengan adanya emansipasi, perempuan itu sama, bisa di atas, dan bisa juga di bawah. Ketika ia sudah berkeluarga punya garis bahwa ada hal-hal yang harus dipatuhi. Tapi ketika dia berekspresi bebas, “ tegas Nunung.

Buku kumpulan puisi ‘Kisas’ karya Nunung terinspirasi dari ia melihat berita di TV tentang perempuan dicambuk di Aceh. Dicambuk itu dia harus mengakui dirinya berzinah, padahal berhubungan intim itu dipaksa oleh orang lain. Dia harus mengakui, padahal dia tidak bersalah. “Kenapa aku angkat itu? Aku mau ketika mau dicambuk seharusnya dia berontak, tapi dia tidak berontak. Dia mengakui apa yang dia lakukan atas apa yang tidak dia perbuat, yang seharusnya tidak diperbuat diakui. Padahal dia dipaksa, tapi tidak ada paksaan dalam perempuan itu, “ bebernya.

Nunung mengaku hanya ingin menulis tentang perempuan itu segala yang tadinya tabu menjadi tidak tabu. “Sekarang kalau perempuan tertindas diperkosa untuk apa dia diam. Sementara yang melakukannya seenaknya bebas pergi kemana-man dan melakukan lagi ke perempuan lain lagi, itu yang aku tidak mau, “ paparnya.

Nunung pindah ke Bali tahun 1998, dan kemudian bergabung dengan JKP (Jatijagat Kampung Puisi Bali) awal mula JKP berdiri 2013. Pada tahun itu ia berkenalan dengan Umbu Landu Paranggi. “Pas disitu sedang semangat-semangatnya Umbu mengumpulkan anak-anak muda. “Jadi aku termasuk murid baru yang pertama-tama gabung. Sementara disitu sudah ada Wayan Jengki Sunarta. Kita duduk-duduk saja hanya beberapa orang. Kita baca puisi, setelah itu Umbu orasi. Caranya Umbu membimbing anak-anak muda memang seperti itu, “ kenangnya.

Di situ juga, kata Nunung, ada Frans Nadjira. Ia berhubungan baik dengan Frans dan keluarganya. Bahkan waktu ia pulang Mas Dimas mengadakan peluncuran buku dia di rumah Frans pas bertepatan saat Frans ulang tahun. “Aku bela-belain datang kesitu karena om Frans sudah sepuh, “ ungkapnya penuh haru.

Menurut Nunung, Frans dan Umbu mendukung diriya. Kalau Umbu tidak ada protes-protes sama dirinya, sedangkan Frans hanya memintanya pemadatan. “Puisi aku kebanyakan panjang-panjang. Puisi yang bercerita. Bisa sampai lima bait, tapi satu baitnya kalau dipecah-pecah bisa menjadi satu puisi satu puisi, “ tuturnya.

Saat ditanya, apa karya Anda yang paling berkesan? Dengan tenang, Nunung memberikan jawaban, “Semua karya bagi aku berkesan. Tapi karya yang paling berkesan bagaimana aku bisa berani mengungkap dari hal-hal tabu menjadi tidak tabu. Itu ada dalam buku kumpulan puisiku yang keempat berjudul Kisas. Aku sudah menerbitkan enam buku puisi. Sekarang aku sedang mempersiapkan buku kumpulan puisi yang ketujuh.”

Pendapat Nunung tentang perkembangan dunia sastra sekarang semakin maju. Kita harus juga mengikuti perkembangan zaman. Karena kita tidak bisa mengentengkan anak-anak muda sekarang, yang tampak asal nulis. Menurut kita mereka biasa-biasa saja, tapi  buktinya mereka bisa dengan bahasa yang kecil saja, mereka dapat menarik perhatian masyarakat. “Bagi aku pada prinsipnya tidak ada senior atau junior. Dimana dia punya kelebihan, kita bisa belajar dari kelebihan mereka dan kekurangan kita apa. Apalagi sekarang ada mesin yang bisa membuat puisi kan berbahaya kalau kita tidak rajin membaca atau mengikuti perkembangan zaman, tidak bisa tidak, kita harus belajar, “ tegasnya.

Nunung merasa masih ada obsesi dalam dunia sastra. Usianya sudah tidak muda lagi. Ia ingin dapat membina anak-anak muda milenial. Kalau menulis ia tidak bisa berhenti. Ia pun sedang menyiapkan buku kumpulan puisi ketujuh, sudah setahun belum selesai. “Buku aku yang ketujuh ini aku harus kembali menjadi diri aku yang apa adanya. Tidak lagi menjadi sebuah perenungan. Menurut aku menulis itu kebebasan berekspresi. Tidak ada yang maksa-maksa kita. Selagi dalam konteks sastra, “ tegasnya/

Nunung aktif di komunitas Jagat Sastra Milenial (JSM), dimana ia menjadi pendiri sekaligus menjadi Wakil Ketua Komunitas JSM. Ia turut mendirikan JSM bersama Yoevita Soekotjo (almarhumah), Riri Satria, dan Rissa Churria. Kemudian, bergabung Emi Suy, Sofyan RH Zaid, dan lain-lainnya. “Itu pun jalannnya tidak mulus-mulus saja, ada juga yang mundur. Akhirnya yang satu visi  hanya segini. Aku udah bilang, kita tidak perlu banyak orang, yang ada segitu saja, yang ada sampai sekarang. Bukannya kita juga mulus-mulus saja, di dalam ada perbedaan pendapat, tapi tidak harus keluar. Itu biasa saja, “ bebernya.

Menurut Nunung, ia sudah biasa dengan Riri Satria yang disiplin. Ia paham betul maunya Riri yang kalau dia bilang A ya pasti A jadi tidak bisa berubah-berubah lagi, kalau kita merubahnya juga harus ada alasan tertentu yang kuat. apa alasannya kenapa berubah. “Kecocokan aku dengan uda Riri karena dia disiplin orangnya. Uda Riri orangnya mau menerima pendapat kita, uda Riri sangat demokratis dan dia disiplin. Kedisplinannya aku bawa di JSM, “ ungkapnya mantap. 

Nunung di JSM kayak emaknya anak-anak. Kalau misalnya, mereka tidak melakukan apa-apa, ia langsung tegur saja. “Sudah paham mereka, aku orangnya ngegas. Tapi aku cuma ngegas-ngegas saja demi kebaikan, “ tegasnya. 

Buat Nunung, JSM itu rumah kedua. Ia sebenarnya tinggal di Bali bersama anaknya. Kalau di Jakarta, karena tentu kalau ada acara-acara penting, seperti dalam rangka ulang tahun JSM.

Selama ulang tahun JSM dari pertama, kedua dan ketiga, Nunung selalu menjadi ketua panitianya. “Aku bilang ingin ganti. Tapi uda Riri bilang, Mbak Nunung saja karena orangnya berani tegur orang. Kalau orang lain, takutnya tidak berani tegur orang. Kalau aku orangnya memang biasa saja. Kalau memang buat kebaikan ya tidak apa-apa, “ paparnya.

Harapan Nunung ke depan terhadap komunitas Jagat Sastra Milenia. “Semoga JSM bisa bersinergi seperti apa yang kita cita-citakan. Di usia yang baru menginjak tiga tahun, namanya kita masih balita, kita juga masih belajar, kita bisa bersinergi dengan komunitas-komunitas lain, tidak hanya komunitas sastra saja, tapi komunitas di luar sastra kita bisa, intinya kita bisa membaur dan sama-sama belajar. Tapi konteksnya bukan belajar untuk orang-orang pintar, tapi anak-anak muda milenial, “ pungkas Nunung optimis.

Perlu diketahui, Nunung telah menerbitkan buku puisi tunggal, antara lain: Solitude (Teras Budaya Jakarta, 2012), Perempuan Gerhana (Teras Budaya Jakarta, 2013), Kisas (Teras Budaya Jakarta, 2014). Perempaun dan Tujuh Musim (Teras Budaya Jakarta, 2016), Antologi Puisi Pinangan 2012 Metamorfosis, Cemara Cinta, Habis Gelap Terbitlah Sajak, Kidung Rindu Pelangi Sukma, Antologi INDOPOS. Bersepeda ke Bulan 2013 & HUN 2014, Nyanyian Para Pencinta 2015, MAKTA, Sumur Umur (JSM Press & Tare Books 2021).

Puisi-puisinya masuk dalam berbagai buku antologi puisi bersama, antara lain, Buku Memo Anti Terorisme (MAT); Puisi Menolak Korupsi 2016, Klungkung (Bali). Puisi Kartins 2016, Sakarepmu 2016, Palagan, Puisi Penyair Kopi Dunia, Germuruh 1001 Kuda Padang Sabana 2017, Mengunyah Geram (Puputan melawan Korupsi, 2017. The First Drop Of Rain antologi puisi banjarbarus Rainy Day Literary Festival 2017 Buku Sketsa Wajah ibu (AWWA Asean Woman Writers Assosiation 2017. Karyanya terdapat pula pada sejurra antological Epitaf Kota Hujan -Padangpanjang dan Pusat Pere 2018, SARON kumpulan puisi 90 penyerahain – Rainy Days Banjarbaru Festival 2018: Aku Mator Garam di Secangkir Air 2019.

Nunung mengikuti sejumlah program kegiatan sastra Wisata Sastra sejak tahun 2016, 2017, dan 2018. Ia menjadi pengunjung di WRF 2016. 26 – 31 Oktober 2016 dan UWRF 2017,  25-29 Oktober 2017, 23-28 Oktober 2018, Peserta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi), Buku Apa dan Siapa Sastrawan Indonesia. Karya-karyanya dimuat di berbagai media, antara lain, Indopost, Jawa Post. Pikiran Rakyat Bandung, Analisa Medan, Bali Post, Denpasar Post, Solo Post, dan lain-lain.*** 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini