Jali sebagai salah satu sumber pangan pilihan yang dapat meningkatkan ketahanan pangan nasonal. Foto oleh Lukman Hqeem/Eksposisi News/ 2023

Ketahanan pangan dan gizi selalu menjadi isu strategis nasional, karena pemenuhan pangan merupakan hak setiap warga negara yang harus dijamin  kuantitas dan kualitasnya, aman dan bergizi untuk mewujudkan sumberdaya  manusia yang sehat, cerdas, aktif dan produktif. Untuk mewujudkan hal itu, perlu kerja sama antar pemangku kepentingan agar tercapai target pembangunan pangan.

Pangan fungsional muncul seiring adanya pergeseran konsumsi pangan masyarakat yang tidak hanya mengedepankan aspek pemenuhan konsumsi pangan semata, namun juga memperhatikan khasiat atau fungsi pangan yang dikonsumsi dan manfaatnya untuk meningkatkan kualitas kesehatan ataupun pengobatan terhadap kondisi kesehatan tertentu. Istilah pangan fungsional pertama kali digunakan tahun 1980 di Jepang dengan istilah Foods for Spesified of Health Use (FOSHU).

Sesuai ketetapan BPOM, Pangan Fungsional merupakan pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen fungsional yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu, terbukti tidak membahayakan dan bermanfaat bagi kesehatan. Mempertimbangkan bahwa saat ini berkembang dengan pesat berbagai jenis produk pangan yang diklaim memiliki manfaat dalam mempertahankan dan meningkatkan kesehatan yang lazim dikenal sebagai pangan fungsional perlu adanya informasi yang disampaikan secara berimbang kepada masyarakat luas mengenai kategori pangan fungsional, manfaat dan kebenaran klaimnya serta kemungkinan dampak resiko jika dikonsumsi berlebihan.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Memiliki potensi sumber pangan fungsional cukup besar untuk dikembangkan melalui penelitian, pengkajian, pengolahan maupun pemanfaatannya. Untuk itu perlu pemahaman dan pengembangan wawasan yang tepat serta mengkaji pangan fungsional dan potensi peranannya dalam mendukung pencapaian ketahanan pangan dan gizi.

Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi, Badan Pangan Nasional Nita Yulianis menyatakan “Badan Pangan Nasional, bekerja keras bersama semua pihak untuk memperkuat ekosistem pangan dari hulu hingga hilir. Kolaborasi adalah kunci utama, karena menyelesaikan masalah pangan dan gizi memerlukan komitmen semua elemen masyarakat. Kami bekerja sama dengan Kementerian atau Lembaga terkait, Organisasi Perangkat Daerah lintas sektor di 38 provinsi dan 514 kab – kota, serta melibatkan BUMN dan BUMD Pangan, Satgas Pangan, swasta, asosiasi, civitas akademika, dan para ahli untuk mencapai target pembangunan pangan”.

Dijelaskan olehnya bahwa salah satu kategori pangan yang potensial dalam mendukung pencapaian ketahanan pangan dan gizi, yaitu Pangan Fungsional. Pangan fungsional muncul seiring adanya pergeseran konsumsi pangan masyarakat yang tidak hanya mengedepankan aspek pemenuhan konsumsi pangan semata, namun juga memperhatikan khasiat atau fungsi pangan yang dikonsumsi dan manfaatnya untuk meningkatkan kualitas kesehatan ataupun pengobatan terhadap kondisi kesehatan tertentu. Menurut Yulianis, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati (biodiversity) terbesar di dunia. Dengan demikian, potensi sumber pangan fungsional cukup besar untuk dikembangkan melalui penelitian, pengkajian, pengolahan maupun pemanfaatannya, jelasnya di Jakarta pada Selasa (28/11/2023).

Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) melakukan kajian pangan fungsional dan potensi peranannya dalam mendukung pencapaian ketahanan pangan dan gizi untuk memperoleh pemahaman dan wawasan yang tepat serta mengkaji. Sejumlah perspektif dikumpulkan dari aspek dan sudut pandang sejumlah ahli pangan akademis dari UI, UGM dan IPB berelaborasi dengan para pengambil kebijakan dari Lembaga seperti Bappenas, BPOM, Pemda dan Swasta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini