Pembukaan pameran Upakarya Semarang di Jogja Gallery, pada 27 Agustus 2023. ( Foto oleh Nasrul/Eksposisi News)

Eksposisi News, YOGYAKARTA – Pameran Upakarya Semarang 2023 menghadirkan jejak-jejak jalinan Kota Semarang dan Yogyakarta tempo dulu, khususnya di era berkembangnya industri gula di Yogyakarta. Bertempat di Jogja Galery, pameran ini akan berlangsung pada 27 – 31 Agustus 2023.

Di masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1921), industri gula Yogyakarta berkembang pesat. Sedikitnya 17 pabrik gula beroperasi di masa itu. Bahkan, dari Bantul hingga Sleman ada belasan pabrik gula yang berkembang di masa itu, dimana Sleman menjadi wilayah perbatasan dengan Jawa Tengah.

Untuk memudahkan pengangkutan ke Semarang, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api Semarang – Solo – Yogyakarta. Pada masa itu, pengusaha Oei Tiong Ham dari Semarang merupakan konglomerat yang sukses dengan bisnis gula. Ia menguasai 60% tata niaga gula di Hindia Belanda.

Sekelumit jalinan hubungan itu kini di tampilkan dalam pemeran Upakarya Semarang ini. Menampilkan foto-foto dan artefak yang menggambarkan kejayaan masa tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Wing Wiyarso Poespojoedho mengatakan bahwa hubungan Semarang-Yogyakarta yang sudah terjalin lama, menempatkan Kota Semarang sebagai simpul jalur perekonomian yang penting, termasuk dalam jalur gula. Inilah yang mempererat hubungan antara dua kota ini,” ujar Wing.

“Yogyakarta sebagai daerah penghasil gula, dan Semarang sebagai bagian dari rantai distribusi gula, yakni melalui pelabuhan laut. Ada hal-hal sejarah masa lalu yang mana ini menjadi bagian dari potensi yang harus digali. Melalui Upakarya Semarang, dapat kembali terjalin erat relasi antara Yogyakarta dan Semarang,” jelas Wing.

Sri Wantini Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab Sleman mengapresiasi pemeran ini. Menurutnya, kegiatan ini dapat membuka wawasan baru yang menggambarkan masa lalu Yogyakarta dan Semarang. Melalui karya-karya seni dan dokumentasi sejarah yang ditampilkan, diharapkan dapat menjadi referensi untuk mengambil kebijakan di masa yang akan datang.

Sementara Aris Herbandang,  Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Kabupaten Sleman berharap bagi para wisatawan yang berkunjung ke Semarang bisa mendapatkan informasi bukan hanya tentang kota di “hilir” saja, namun juga tentang “hulu”. Hal ini dapat menjadi jalinan relasi yang kuat jalinan benang merah cerita bersama antara dua kota. Bagaimana sejarah peradaban Yogyakarta dan Semarang saling terkait dengan manisnya industri gula,” jelasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini