Eksposisinews – Sastrawan Sofyan RH Zaid sangat peduli dengan perkembangan generasi muda. Khususnya para pelajar yang sedang menimba ilmu di sekolah. 

Bahkan Sofyan mengharapkan sastra didekatkan kepada para pelajar, salah satunya melalui pelatihan berkarya sastra. Sebab masa depan sastra Indonesia, salah satunya, ada di tangan para pelajar.

Sofyan aktif di komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM). Melalui JSM, ia merasa dapat berbuat sesuatu untuk sastra Indonesia secara umum. Itulah esensi dari eksistensi sebuah komunitas sastra berdiri.

“Saya tertarik pada sastra, mulanya karena membaca, jauh sebelum saya menulis, “ kata Sofyan RH Zaid menuturkan awal ketertarikannya pada dunia sastra, Minggu (5/11/2023).

Lebih lanjut, lelaki kelahiran Sumenep, 8 Januari 1986 dengan nama Supyan ini menerangkan, secara spesifik, ia kenal sastra, melalui karya puisi, yakni kelas 4 SD melalui pelajaran Bahasa Indonesia. “Saat itu kami diminta baca puisi di kelas secara bergantian. Puisi pertama yang saya baca “Tiga Anak Kecil” karya Taufiq Ismail. Saya mulai belajar menulis puisi baru kelas 2 MTs./SMP. Namun, karya sastra pertama yang saya tulis, justru bukan puisi, tetapi cerpen di kelas 1 MTs./SMP itu, “ terang alumnus PP. Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, dan Falsafah Agama, Universitas Paramadina Jakarta.

Menurut Sofyan, yang mendukung dan memotivasi dirinya dalam menggeluti dunia sastra adalah guru di sekolah. Secara spesifik, waktu kelas 2 MTs./SMP itu. “Ada dua nama guru yang tercatat, yakni Pak Ibnu Rusdi, dan Pak Sahmawi A. Su’udi. Kalau di keluarga, yang mendukung dan memotivasi saya lebih lanjut, mula-mula adalah Mas Aziz Munandar yang lebih dulu kenal sastra sejak di pondoknya, “ ungkapnya mantap.

Menjalani bidang apapun tentu ada suka dukanya. Begitu juga dengan Sofyan punya suka-duka selama di dunia sastra. “Dukanya saja ya, walau duka itu pun sudah jadi kenangan, sebab sudah lewat. Saya pernah punya pengalaman pahitnya (tetapi sudah jadi pahitnya jamu). Haha, “ ucapnya disertai gelak tawa.

Begini ceritanya, kata Sofyan, dulu, satu-satunya alasan ia berani merantau ke Jakarta untuk kuliah adalah puisi. Ia berpikir bisa hidup di Jakarta dengan puisi. “Saat saya mulai kuliah di Jurusan Filsafat dan Agama, Universitas Paramadina, dengan menggunakan fasilitas kampus, mulai dari komputer hingga wifi, saya mulai mengirimkan puisi ke sejumlah media untuk mendapatkan uang. Artinya, saya begitu berharap dimuat, lalu mendapatkan honor, “ kenangnya.

Beberapa minggu kemudian, lanjut Sofyan, benar ada sepuluh puisinya dalam dua tahap dimuat Koran Kenyot (nama samaran -red) di Jakarta. Ia langsung berpikir akan dapat uang. Namun ternyata setelah menunggu lama, honor belum juga ditransfer. Ia pun berinisiatif melakukan sejumlah langkah untuk memperjuangkan haknya tersebut. Pertama, ia mengirim email, tetapi tidak ada balasan. Setelah itu, ia menelpon, dan diangkat, mereka bilang akan disampaikan ke bagian keuangan. “Saya menunggu lagi sebulan, honor belum juga ditransfer. Kemudian, diantar seorang kawan, saya datangi kantor koran tersebut. Bertemu dengan sekretaris redaksinya, dia bahkan meminta secara langsung nomor kontak dan nomor rekening. Dia bilang akan berkordinasi dengan bagian keuangan, dan disuruh tunggu beberapa hari, “ bebernya.

Akhirnya, menurut Sofyan, setelah menanti berlama hari, sama saja. Tidak ada honor yang masuk. Ia sampai pada satu titik, di mana dirinya bersumpah: “SAYA TIDAK AKAN PERNAH LAGI MENGIRIMKAN PUISI KE MEDIA MASSA, APABILA MASIH BERHARAP HONORNYA!” “Sejak saat itu, saya pun banting setir. Haha, “ ucap Sofyan kembali tergelak.

Sofyan mengaku masih tetap menulis puisi untuk disimpan, atau untuk even antologi bersama saja. “Sumpah tersebut saya jalani hingga tiga tahun kurang lebih. Setelah itu, saya kembali mengirimkan puisi ke media massa, dan sudah tidak berharap uang atau honornya!” tegas Sofyan.

Saat ditanya, pengalaman apa yang paling berkesan selama di dunia sastra? Dengan penuh ketenangan, Sofyan memberikan jawaban, “Sebenarnya, semua berkesan, bahkan pengalaman buruk sekalipun, sebab di dalam sastra, semua luka tumbuh bunga. Namun, bila boleh menyebut, momentum yang paling berkesan adalah sewaktu di kelas I MA/SMP. Setelah pernah dimuat di rubrik Cermin (khusus karya siswa) Majalah Sastra Horison sewaktu MTs./SMP, saya kembali mengirim puisi ke rubrik Cermin Horison. Namun, beberapa bulan kemudian ternyata dimuat di rubrik Sajak-Sajak Horison, rubrik puisi secara umum.”

Obsesi Sofyan ke depan dalam dunia sastra. Keinginan yang sudah jadi rencana adalah ia ingin menerbitkan buku puisi tunggal lagi setelah Pagar Kenabian (2015). “Buku ini nantinya tidak lagi berisi puisi pagar, tetapi puisi bebas saya sejak awal sebelum menulis puisi pagar. Mungkin nanti judulnya, Halaman Tanpa Pagar. Haha, “ ucap Sofyan tergelak, tapi dengan mik serius.

Pendapat Sofyan tentang perkembangan dunia sastra sekarang. Perihal perkembangan sastra hari ini, ia mengaku sukar untuk menjawab. “Bagaimana pun, perkembangan itu sendiri dalam konteks biologi agak sukar dilihat. Bisa sih diketahui dari tanda-tandanya. Namun butuh observasi lebih jauh atau lebih tepatnya perlu penelitian, yang sedang saya lakukan. Kalau pertumbuhan sastra Indonesia hari ini, jelas tumbuh! Sangat mudah terlihat dari banyaknya acara, sayembara, dan karya sastra yang terbit, baik dalam bentuk buku atau publikasi media masssa. Namun seperti kita tahu, pertumbuhan terkadang tidak selalu sejalan dengan perkembangan kan?” papar Sofyan.

Sofyan menyampaikan keterlibatannya dengan komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), ia tercatat sebagai salah seorang pendiri sekaligus pengurus, tepatnya sebagai Koordinator Bidang Publikasi dan Kompetensi. “Saya juga terlibat aktif pada dua program tetap JSM, yalni JSM Press (penerbitan JSM) serta Sastramedia.com (jurnal sastra milenia daring yang dimiliki JSM), “ ungkap Sofyan.

Arti JSM bagi Sofyan tentu sangat berarti. Sebagaimana niat awal berdirinya dan yang selalu ditegaskan ketuanya, Bang Riri Satria, JSM bagi dirinya adalah rumah belajar. Tempat mengasah dan memoles diri agar berkilau, macam batu cincin. Walau kilau bisa mencipta silau, tetapi juga bisa memantulkan cahaya kan? “Bersama-sama dengan yang lain, melalui JSM, saya merasa dapat berbuat sesuatu untuk sastra Indonesia secara umum. Itulah esensi dari eksistensi sebuah komunitas sastra berdiri, “ tegas Sofyan.

Harapan Sofyan untuk JSM, seperti yang pernah diharapkan Pak Sutardji Calzoum Bachri dalam testimoninya untuk JSM: SEMOGA PANJANG USIA DAN PANJANG MUTU! “Saya senang dan bersyukur, ketika ketuanya, Bang Riri Satria, baru saja meluncurkan program baru: JSM MENGAJAR. Terus terang, itu juga yang saya harapkan, bagaimana sastra didekatkan kepada para pelajar, salah satunya melalui pelatihan berkarya sastra. Sebab masa depan sastra Indonesia, salah satunya, ada di tangan mereka para pelajar kan?” pungkas Sofyan optimis.

Puisi-puisi Sofyan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, salah satunya dimuat dalam buku Oikos Poeti Per Il Futuro (Mimesis Classici Contro, Milano, Italia, 2020). Dia menjadi salah seorang reviewer Penilaian Karya Sastra Unggulan untuk SMA sederajat yang digelar oleh BSNP Kemdikbud 2019.

Puisi dan esainya terbit di puluhan buku bersama dan media massa, seperti Media Indonesia, Jawa Pos, Bali Post, Indopos, Padang Ekspres, Solopos, Riau Pos, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Majalah Horison, Majalah Annida, dan lainnya.

Sofyan beberapa kali memenangkan sayembara kepenulisan sastra, antara lain: Juara I Lomba Cipta Puisi se-Sumenep Tingkat SLTP (Disparbud Sumenep, 2000), Juara II Lomba Cipta Puisi se-Madura Tingkat Pelajar (STAIN Pamekasan, 2003), 15 Nominasi Buku Puisi Anugerah Haripuisi Indopos (2015), Juara II Cipta Puisi Nasional (PCINU Maroko, 2017), dan terbaru sebagai Juara II Lomba Cipta Esai Tingkat Nasional Piala H.B. Jassin (PDS HB. Jassin, 2023).

Bukunya yang telah terbit: Pagar Kenabian (Puisi, 2015), dan Kaidah Puisi dan Akidah Kepenyairan (Esai, 2022). Sofyan kerap diundang sebagai pembicara dalam sejumlah acara sastra. Dia juga tercatat sebagai Pemimpin Redaksi sekaligus redaktur sastramedia.com; jurnal sastra milenial. Kini Sofyan tinggal di Bekasi sebagai editor, dosen, founder dan CEO Taretan Sedaya International Group yang bergerak di bidang general suplier & trading, printing, publishing, dan packaging. Ia sedang menyiapkan buku puisi tunggal keduanya yang akan terbit, ‘Halaman Tanpa Pagar’. Link bionarasi lengkap Sofyan RH Zaid dapat disimak di Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Sofyan_RH._Zaid.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini