Eksposisinews – Dunia literasi banyak melahirkan orang-orang hebat dan kuat yang tetap semangat berkarya. Menulis bagi Rissa Churria sebagai terapi kesehatan, dimana ia dulu positif Cerebrospinal, penyakit kekurangan cairan di otak. Perempuan ayu yang wajahnya penuh senyum itu menganggap sakit juga sebuah anugerah, karena dari sana bakat menulisnya mulai terasah. Seperti buku yang ditulisnya, Harum Haramain, ia berlimpah berkah dari menulis dan namanya memang harum dalam dunia kepenulisan.

“Aku suka sastra sejak SMA, tapi aku sudah mulai menulis sejak duduk di SMP kelas 1, “ kata Rissa Churria menuturkan awal ketertarikannya pada sastra, kepada wartawan, di depan Auditorium Kampus Universitas Nasional, Jakarta, Jalan Sawo Manila No.61, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/10/2023).

Kisah Inspiratif Rissa Churria, Menulis sebagai Terapi & Terus Berproses di Dunia Kepenulisan 1

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Banyuwangi, 17 Februari dari rahim seorang ibu yang bernama Nasikah dan ayah bernama Muhammad Hadzin Imam ini menerangkan dirinya sudah mulai menulis sejak SMP dan suka membaca novel-novel roman picisan ala Fredy S dan novel horor ala Abdullah Harahap dan Motinggo Busye. Untuk mendapatkan mood menulis, ia suka bicara sendiri. Mengetahui hal tampak aneh itu, ayahnya membelikan buku harian tebal agar ia menulis perbincangannya di buku ini saja. “Sejak saat itu saya jarang berkontempelasi dengan alam dan bicara sendiri, sejak itu saya mulai bicara dengan buku-buku harian, “ terangnya.

Kebiasaan menulis di buku harian, kata Rissa, berlanjut hingga SMA, ayahnya tidak lagi membelikan buku harian, tapi Rissa mulai membelinya sendiri bila bukunya memang harus diganti. Sejak duduk di SMA dia juga mulai menyukai kertas surat dan menulis surat.  Suka koresponden, berkirim surat kepada teman-teman sebagai sahabat pena anak-anak tahun 90an. Karena suka koresponden, ia juga mengumpulkan perangko untuk koleksi. “Setiap hari ada saja surat yang datang dari berbagai daerah bahkan sahabat terjauhnya saat itu dari negeri Jiran Malaysia, “ ungkapnya bangga.

Rissa mengaku dulu menulis puisi arkustik, yaitu menulis kata-kata dari susunan nama teman-temannya. Tapi saat itu istilahnya apa dia tak tahu, pokoknya yang penting menulis. Dari kegemaran menulis ini ternyata banyak teman yang minta dibuatkan puisi arkustik untuk pacarnya, ketika pacarnya ulang tahun. Bahkan ada pula yang minta dibuatkan surat puitis untuk menyatakan cinta. “Tidak hanya menulis puisi, sejak SMA saya juga suka membaca puisi, bahkan sering mengikuti event-event baca puisi tingkat remaja dan SMA di Banyuwangi, “ kenangnya.

Pada waktu duduk di bangku kuliah, Rissa mengaku menulisnya karya ilmiah. “Pernah juga saya ikut lomba karya ilmiah, dan alhamdulillah, saya pernah menang juara tiga, “ tuturnya penuh rasa syukur.

Ummi Rissa menceritakan dirinya juga ikut lomba Syarhil Quran. Jadi ia membuat puitisasi AlQuran. “Waktu itu saya belum mengirim puisi ke media. Barulah pada tahun 2011, saya mulai mengirim puisi ke media, dan dimuat di berbagai media, di antaranya Radar Bekasi, Radar Banyuwangi, sampai dimuat di media Malaysia, “ kenangnya.

Tahun 2016, Rissa menerbitkan buku ‘Haru Haramain”. Buku ini ia tulis pada tahun 2014 saat dirinya naik haji. Walaupun ia seneng selfi, swafoto, tapi anehnya ketika naik haji ia tidak punya kenang-kenangan foto sama sekali. “Waktu malam-malam sepulang dari masjid, saya rebahan telpon anak, kemudian saya nulis beberapa larik puisi. Pokoknya masih ada titimangsanya, “ tegasnya.

Selama berkarya sastra, Rissa mengaku punya banyak pengalaman. Bagi Rissa, menulis adalah terapi kesehatan, dimana ia dulu sewaktu SMA, dokter menyatakan dirinya positif “Cerebrospinal”, penyakit kekurangan cairan di otak. Ia divonis dokter, usianya lima tahun kalau tidak dioperasi. Saat itu pada tahun 1980an dunia kedokteran belum maju seperti sekarang ini, apalagi di daerah Banyuwangi. Kalau dioperasi dan kalau berhasil, hanya dua kemungkinan, kalau sembuh lumpuh, kalau tidak berhasil ya kematian. Tapi kalau tidak dioperasi tidak lebih dari lima tahun. Ia memang merasakan sakit yang luar biasa. “Bergelut dengan rasa sakit dan ketergantungan terhadap obat-obatan sungguh sangat menyiksa, tapi ayahku selalu menguatkan dan menghibur, menumbuhkan rasa percaya diri pada diriku dan mengajarkan untuk selalu bisa menikmati hidup, “ tuturnya penuh haru.

Rissa menganggap sakit juga sebuah anugerah, karena dari sana bakat menulisnya mulai terasah. Sejak lulus SMA hingga melanjutkan perkuliahan di Sekolah Tinggi Agama Islam Alhamidiyah Depok, kegiatan menulisnya masih terjaga, terutama fokus pada penulisan karya-karya ilmiah dan artikel. “Saat itu juga saya pernah memenangi lomba karya ilmiah tingkat mahasiswa dengan tema “Dakwah dan Seni”, “ ucapnya bangga.

Bagi Rissa, pengalaman yang paling berkesan saat pertama kali menerbitkan buku ‘Harum Haramain’. “Buku ini sekarang cetak ulang dan sudah sampai di Singapore Library International, “ ujarnya berbinar-binar.

Rissa sekarang aktif di komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM). Ia termasuk salah satu pendirinya. Ia menjadi pengurus JSM bagian seksi acara. JSM bagi Rissa adalah rumah berkarya dan rumah belajar bagi dirinya. Sebelum bergabung dengan JSM, ia selalu melakukan apa-apa sendiri. Setelah aktif di JSM, ia merasa sudah punya rumah. “JSM seperti keluarga sendiri. Orang-orangnya, personel-personelnya. Ikatan keluarga. Bang Riri seperti Abang saya sendiri. Saling support, saling dukung, “ tegasnya.

Harapan Rissa ke depan, JSM makin solid, makin guyub, bisa juga mengembangkan sayap bekerjasama dengan komunitas-komunitas lain, supaya kemanfaatannya lebih banyak. “Harapan saya, seperti namanya Milenia, JSM bisa membina generasi milenial. JSM punya lahan binaan khusus untuk kaum milenial, “ pungkas Rissa Churria optimis.   

Perlu diketahui, Rissa Churria adalah penyair yang saat ini tinggal dan menetap di Bekasi, Jawa Barat. Karyanya diterbitkan dalam buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Harum Haramain (2016), Perempuan Wetan (2017), Blakasuta Liku Luka Perang Saudara (2018), Taksi (Antologi cerpen horror – 2018), Matahari Senja di Bumi Osing (2019), Babad Tanah Blambangan (2020), Bisikan Tanah Penari (2021), Risalah Nagari Natasangin (2021). Kembul Bujana Cinta (Kontempelasi Puisi – 2021).

Selain itu puisinya juga sudah dimuat di lebih 90 kumpulan puisi bersama. Puisi-puisi Rissa juga dimuat di berbagai media cetak, antara lain : Jawa Pos, Radar Banyuwangi, Radar Bekasi, BMR Fox Kotamobagu, Tabloid bulanan Pemuisi Malaysia, Tabloid Bulanan di Jakarta Semesta Seni, dan lain-lain.

Rissa pernah menjadi Nominasi Sepuluh Buku Puisi Terbaik Penghargaan Anugerah Puisi Cecep Samsul Hari (2018), Puisinya terpilih menjadi  judul buku Cerpen dan Puisi Pilihan Radar Banyuwangi, “Matahari di Bumi Blambangan” (2018), Menghadiri 1000 Guru Penulis di Perpusnas Jakarta (2018), 1000 Guru Menulis Puisi Rumah Seni Asnur dan Meraih Rekor MURI (2018), Menulis Kritik Sastra dan Penulisan Kreatif Dapur Sastra Jakarta(2019), Mendapatkan undangan menghadiri Temu Geogle Local Guide yang diadakan di USA atas kontribusi dan dedikasinya menjadi seorang Geogle Local Guide (2019), Nominasi Delapan Naskah Puisi Terbaik Arashi Grup (2020). Nama Rissa Churria Juga muncul dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” yang diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia (2017).

Rissa aktif mengikuti berbagai Festival sastra dan tampil membaca puisi, antara lain : Women of  Words Poetry Slam Ubud Writers and Readers Festival (2017 dan 2019),  Pertemuan Penyair Nusantara di Singapura (2017),Pertemuan Penyair dan Akademisi di Universitas Sultan Azlan Syah Negeri Perak (2017),  Penyair Nusantara di Malaysia (2018), Pertemuan Penyair Ziarah Karyawan Nusantara di Jandabaik-Malaysia (2019), menjadi pembicara di beberapa acara bincang sastra Indonesia, pernah menjadi narasumber di Universitas Islam Malaysia menjadi Moderator, Pembawa Acara di beberapa acara Bincang Sastra, Host pada Podcast Jagat Sastra Milenia dan Istana Puisi yang disiarkan secara life Fb serta youtube,  Menjadi Komentator pada Poetry Idol yang diadakan setiap bulan oleh Komunitas Sastra Senja (Komunitas Kaum Milenial), dan lain-lain.

Di samping menulis puisi, cerpen, quotes, esai, Rissa aktif sebagai pengurus Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), Pengurus Istana Puisi, dan aktif  membimbing dan memberikan pelatihan serta bimbingan menulis kepada para siswa hingga mereka menerbitkan buku, juga menjadi pendamping teman sejawat  di sekolah dalam bidang kepenulisan.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini