EksposisiNews, Jakarta – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih menjadi momok bagi perempuan meskipun Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Kekerasan tersebut berupa kekerasan fisik, verbal, penyiksaan psikologis, penelantaran ekonomi, dan pengekangan interaksi sosial.

Sosok Poppy Dihardjo, penyintas KDRT, begitu inspiratif yang bangkit dari keterpurukan dan kemudian terpanggil untuk membantu sesama perempuan yang mengalami seperti yang dialami dirinya. Ia begitu gigih penuh semangat berbagi pengalaman, pembelajaran, dan kekuatan melalui berbagai kegiatan tentang pemberdayaan dan pendampingan perempuan penyintas korban kekerasan.  

Berikut petikan wawancara EksposisiNews dengan Founder Perempuan Tanpa Stigma dan gerakan No Recruit List ini, Selasa (9/3/2021), mulai dari awal keberanian bangkit dari keterpurukan dan kemudian terpanggil untuk membantu sesama perempuan yang mengalami seperti yang dialami dirinya. Proses pemulihan yang tentu tak gampang, tapi ia dapat melaluinya, bahkan kemudian menginspirasi banyak perempuan penyintas korban kekerasan.

Bagaimana awalnya Bu Poppy punya keberanian keluar dari pernikahan yang penuh permasalah KDRT karena sudah punya anak tentu biasanya masih ragu?

Saya ditinggalkan dan cerai gantung oleh mantan suami sejak Oktober 2015, saat itu saya menolak untuk menggugat cerai karena dia yang meninggalkan sehingga SEHARUSNYA dia juga yang mengurus perceraian. Namun karena selalu ada alasan untuk tidak mengurus dan saya semakin sulit meminta kerjasamanya untuk pengurusan administrasi anak saya (saat itu ingin buat paspor untuk liburan ke luar negri) akhirnya saya memutuskan untuk menggugat cerai di November 2017 dan putusan cerai keluar di Januari 2018. Kasus saya mungkin berbeda dengan perempuan lain, karena saya ditinggalkan, saya mandiri secara finansial, jadi saya dan anak saya tetap bisa melanjutkan berkehidupan tanpa support apapun darinya.

Bagaimana suka duka proses pemulihan dari KDRT?

Yang terberat tentu saja adalah menyesuaikan diri dan membantu anak saya menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan yang baru pasca kepergiannya, banyak pertanyaan dari anak saya yang tidak bisa saya jawab karena memang saya tidak tahu jawabannya, namun saya selalu terbuka dengannya dan mengakui kalau saya sama bingungnya dengan dia dan berharap kita bisa sama-sama melewatinya. Sukanya tentu saja saat menyadari bahwa saya patut berterima kasih padanya karena sudah pergi dari hidup kami karena saya jadi bisa fokus pada kebahagiaan saya dan anak saya, dan bisa melangkah lebih ringan tanpa beban, dan bisa kembali menemukan diri saya dan kembali berdaya.

Pengalaman apa yang didapatkan selama proses pemulihan sehingga kemudian bisa menjadi titik balik untuk berbuat sesuatu yang lebih baik,?

Saat pertama kali diundang ke salah satu TV swasta untuk bicara mengenai fenomena perempuan selingkuhan dan saya bisa menyampakan pendapat tanpa berbicara buruk mengenai mantan pasangan saya, dan kemudian banyak perempuan yang menghubungi saya untuk menceritakan dan berbagi pengalaman yang sama. Saat itulah saya dan 2 sahabat saya mulai berpikir untuk membangun support group berbasis komunitas yang kemudian kami sebut Perempuan Tanpa Stigma atau PenTaS.

Apa pendapat Bu Poppy mengenai berbagai kasus KDRT sekarang ini?

Kalau dilihat dari data CATAHU 2020 komnas perempuan, kasus KDRT yang dilaporkan langsung ke mereka mengalami kenaikan sebesar 40% dari tahun sebelumnya, dan ini baru angka kekerasan terhadap istri atau KTI dan inipun datang dalam berbagai dimensi, yang tertinggi tetap kekerasan fisik, diikuti kekerasan seksual, kekerasan psikis dan kekerasan ekonomi. Sementara yang masuk ke lembaga mitra Komnas Perempuan ada 79% kasus KDRT dari total laporan kekerasan terhadap perempuan. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa selama pandemi, ruang pribadi jadi ruang di mana potensi kekerasan terhadap perempuan meningkat.

Apa harapan Bu Poppy ke depan tentang kehidupan rumah tangga?

Buatku istilahnya bukan move on, tapi move forward. Terus maju, temukan kembali definisi diri sendiri, dan menjadi atau kembali berdaya. Mendapat pasangan baru *yang lebih baik* itu hanya bisa dilakukan saat kita sendiri sudah pulih dan siap dengan tantangan dan dinamika relasi baru. Jangan pantaskan dirimu agar dipilih oleh laki-laki, tapi pantaskan dirimu untuk orang yang terpenting bagimu, yang akan selalu ada buatmu saat yang lain meninggalkanmu; *DIRIMU SENDIRI*. Saat ini aku sudah memiliki pasangan baru dan menjalani relasi yang setara, di mana tidak ada ketimpangan kuasa dan konsep kepemilikan. Relasi yang saya harapkan bisa didapatkan oleh semua perempuan di Indonesia.

Bagaimana pengalaman Bu Poppy dalam konteks KDRT selama Pandemi Covid-19?

Pengalamanku sebagai pendamping kasus kekerasan seksual selama pandemi, pastinya makin menantang karena kasus makin meningkat, saat ini aku menginisiasi movement bertajuk #NoRecruit list yang adalah database pelaku kekerasan seksual berbasis aduan yang masuk ke kami. Sejauh ini selama 3 bulan ke belakang Desember – Februari kami menerima lebih dari 200 aduan kekerasan terhadap perempuan dan kami bersama teman-teman di Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) terus menggaungkan tagar #GerakBersama untuk menyuarakan perlawanan kami akan kekerasan berbasis gender di Indonesia.

Apa harapan Bu Poppy ke depan mengenai persoalan KDRT paska Pandemi Covid-19?

Harapannya sudah pasti RUU P-KS segera dikaji, disempurnakan dan disahkan agar kami para pendamping bisa memberikan harapan baru bagi para korban dan penyintas kekerasan untuk mendapatkan keadilan dan jaminan bantuan pemulihan bagi korban.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here