231130 - Pamor Wicaksono di Jatibarang dalam sosialisasi kemiskinan ekstrem. Foto Abdul Qodir Jaelani.

Pamor Wicaksono, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Brebes melihat masalah kemiskinan ekstrem dan stunting sebagai dua hal yang saling terkait sehingga perlu penanganan secara komprehensif dengan melibatkan sejumlah pihak secara bergotong royong. Sebagaimana disampaikan dalam kegiatan sosialisasi penanggulangan kemiskinan dan stunting di Jatibarang, Brebes pada Kamis (30/11/2023).

Kabupaten Brebes menjadi salah satu dari lima wilayah di Jawa Tengah dengan tingkat kemiskinan ekstrem tertinggi selain Kabupaten Kebumen, Purbalingga, Pemalang dan Wonosobo. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan esktrem di Brebes mencapai 10,11 persen atau mencapai 39,34 ribu rumah tangga, sehingga menjadi kabupaten dengan tingkatan kemiskinan ekstrem tertinggi pada tahun 2020. Warga miskin ekstrim di Brebes didominasi oleh rumah tangga petani padi dan palawija, berstatus pekerja babas atau bahkan serabutan dengan tingkat pendidikan yang rendah serta kepala rumah tangga didominasi perempuan.

Secara nasional, tingkat kemiskinan ekstrem Indonesia adalah 4 % atau sekitar 10,86 juta jiwa. Sementara tingkat kemiskinan secara umum Indonesia berdasarkan data Maret 2021 adalah sejumlah 10,14 persen atau 27,54 juta jiwa. Prioritas penanggulangan kemiskinan ekstrem tahap pertama berada di tujuh provinsi yaitu Papua Barat, Maluku, Papua, NTT, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Sebelumnya, pada Agustus 2021 lalu, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) degan dipimpin oleh Wakil Presiden K.H Ma’ruf Amin menekankan upaya untuk mencapai target menghilangkan kemiskinan ekstrem pada akhir tahun 2024.

Definisi Kemiskinan ekstrem, mengacu pada definisi dari Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni seseorang yang memiliki kemampuan daya beli secara paritas sebesar $1,9 per hari. Jika dikonversikan dengan rupiah $1,9 saat ini setara sekitar Rp. 29.239. Artinya penduduk yang penghasilan sehari tidak mencapai Rp. 30.000,- termasuk ke dalam kategori miskin ekstrem. Misalkan dalam satu rumah tangga terdiri dari empat anggota rumah tangga, maka rumah tangga tersebut termasuk ke dalam miskin ektrem jika pendapatan sehari rumah tangga tersebut tidak mencapai Rp.120.000,-.

Hasil Survei Status Gizi Indonesia yang dipublikasikan pada Februari 2022, bahwa angka stunting di propinsi Jawa Tengah secara menyeluruh turun 0,1 % dibandingkan tahun sebelumnya menjadi hanya 20,8 %. Hasil ini lebih rendah dari tingkat kasus stunting nasional sebesar 21,6%. Sayangnya justru terjadi kenaikan kasus stunting di 20 kabupaten – kota, dimana Kabupaten Brebes menempati posisi puncak dengan kenaikan kasus stunting sebesar 29,1%.

Data terkini dari pemerintah kabupaten Brebes, terjadi sebanyak 3102 kasus stunting. Kecamatan Bulakamba memiliki kasus stunting tertinggi, sebanyak 355 kasus. Sementara Kecamatan Jatibarang, dilaporkan hanya terjadi 129 kasus.

Menurut Pamor Wicaksono, kenaikan kasus stunting di Brebes berhubungan dengan terjadinya kemiskinan ekstrem. Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak disebabkan berbagai macam faktor. Salah satunya kemiskinan yang membuat sang ibu tidak dalam kondisi yang optimal saat kehamilan.

“Sekarang ibunya tidak optimal untuk hamil penyebabnya apa? Bisa segala macam, faktor gizi buruk, faktor kemiskinan, faktor sebagainya dan faktor dulu ibunya juga stunting,” ujar Pamor yang menjadi perwakilan rakyat di DPRD Kabupaten Brebes selama 15 tahun terakhir dari Partai Golkar.

Menurut dia, untuk menyelesaikan masalah stunting harus melibatkan lintas sektor. Kemiskinan dan pendidikan yang rendah tak bisa diobati secara aktual ketika kasus stunting terjadi, melainkan dibenahi sejak awal.

“ Penanganan stunting tak bisa dimulai dari sisi kesehatan saja seperti di galakkannya Pos Pelayanan Keluarga Berencana (Posyandu) bahkan pemberian makanan tambahan (PMT) saja. Ketika ibu hamil dinyatakan kekurangan makanan berkalori dan protein tinggi, tetapi tak mampu memenuhinya, sehingga berujung pada gizi buruk”, jelasnya.

Lebih jauh dijelaskan olehnya bahwa selain itu, ketika kondisi tersebut akan muncul karena adanya sejumlah persoalan lain seperti tempat tinggal yang kumuh atau gaya hidupnya kurang hanya dapat memunculkan penyakit lainnya seperti cacingan kronis dan tuberculosis (TBC). Oleh sebab itu, menurut dia, stunting bukan sebuah penyakit yang diberi obat langsung sembuh, melainkan masalah yang harus dituntaskan dari akarnya. Faktor-faktor itu seharusnya dibenahi sedari awal sebelum kehamilan.

“Artinya dalam penanggulangan kemiskinan ekstrim dan stunting di Brebes ini perlu sinergi dengan semua pihak, ada banyak faktor yang perlu diperbaiki. Ibarat sebuah penyakit, masalah ini tidak hanya akan selesai dengan hanya memberi obatnya saja, seperti orang sakit panu yang dioles obatnya langsung sembuh. Perlu pembenahan sejumlah factor, baik sosial ekonomi, budaya, dan sebagainya. Stunting itu akibat dari sejumlah permasalahan yang saling terkait. Namun saya yakin dengan kerja sama antar pihak maka Brebes dapat lepas dari masalah stunting dan terhindar dari kemiskinan yang ekstrim,” imbuhnya Pamor.

Sehari sebelumnya saat berada di Bumiayu, Pamor Wicaksono yang pada pemilihan umum kepala daerah pada 2024 siap mencalonkan diri sebagai Bupati Brebes, memberikan keterangan bahwa penanganan kemiskinan ekstrim dan stunting dapat ditangani lebih baik dengan adanya peningkatan anggaran. Ia menambahkan bahwa sejumlah program pemerintah telah dijalankan untuk menangani kemiskinan ini, baik lewat pemberian bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) hingga Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Sebagai anggota Komisi I DPRD Brebes, Pamor Wicaksono cukup paham bagaimana peliknya penanganan masalah ini terkait anggaran. Menurutnya, alokasi anggaran bagi Kabupaten Brebes dari pemerintah Pusat perlu ditingkatkan, yang saat ini nilainya sekitar Rp. 3,2 Triliun. Dengan demikian sejumlah program pengentasan kemiskinan ekstrim dan masalah stunting ini dapat ditangani lebih baik.

“Sebagai wakil rakyat, saya mendapatkan amanah untuk menjadi penyambung lidah kepentingan dan aspirasi warga. Takkan kubiarkan rakyat menunggu, sudah menjadi panggilan kewajiban saya untuk mencari jawaban permasalahan ini”, ujarnya.

Ia pun menilai bahwa wacana pemekaran wilayah selatan dari Kabupaten Brebes dimana mencakup 6 kecamatan, dianggapnya sebagai salah satu solusi dalam mengatasi masalah kemiskinan ekstrim saat ini.

“Saya mendukung pemekaran wilayah di Brebes Selatan. Harapannya agar alokasi anggaran akan tersedia lebih baik. Karena perhatian dari pemerintah akan lebih focus, ketika dibandingkan dengan kondisi saat ini dimana secara kewilayahan Kabupaten Brebes ini sangat luas, membentang dari Pantura hingga ke wilayah selatan.

Terkait dengan peningkatan angka stunting dari waktu ke waktu, Ia menilai adanya masalah tata kependudukan yang perlu segera mendapat perhatian pula. Masyarakan banyak yang bersikap pasif dalam melakukan pengkinian data kasus stunting.

Umumnya masyarakat baru akan mendaftarkan saat ada keperluan dalam pengurusan administrasi kependudukan, seperti Surat Keterangan Tidak Mampu. Kedepannya, Pamor berharap masyarakat dapat proaktif untuk segera melaporkan apabila ditemukan kasus stunting sehingga tidak menjadi berlarut-larut.

Setidaknya, ada sejumlah program yang bisa membantu dalam menanggulangi kemiskinan ekstrem dan masalah stunting ini. Pertama, meningkatkan ketrampilan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan serta meningkatkan pemberdayaan perempuan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini