Bursa Saham Asia berakhir turun

Bursa saham Hong Kong melemah karena berkurangnya sentimen terhadap penurunan harga konsumen dan produsen Cina, sementara para pedagang sedang menunggu keputusan kebijakan moneter terakhir Federal Reserve untuk tahun ini. Sementara bursa saham Cina sendiri akhirnya ditutup naik, menghapus kerugian pada awal perdagangan, karena investor mengharapkan lebih banyak dukungan kebijakan setelah data menunjukkan harga konsumen Cina pada bulan November mencatat penurunan tercepat dalam tiga tahun sementara deflasi di tingkat pabrik semakin dalam.

Indeks CSI 300 naik 0,6% lebih tinggi, setelah turun sebanyak 1,6%, sedangkan Indek Shanghai naik 0,7%. Indek acuan saham-saham unggulan tersebut berada pada level yang terlihat hampir lima tahun lalu. Indeks Hang Seng kehilangan 0,8%, atau 132,88 poin, membatasi perdagangan hari Senin di 16,201.49. Indeks Hang Seng China Enterprises kehilangan 1,2%, atau 65,67, menjadi 5.532,49.

Harga konsumen dan harga pabrik di Cina masing-masing turun 0,5% dan 3% tahun ke tahun di bulan November, dibandingkan dengan penurunan 0,2% dan 2,6% di bulan Oktober, menurut data dari Biro Statistik Nasional yang dirilis pada akhir pekan.

Turunnya harga pangan dan energi merupakan faktor utama penurunan harga konsumen, sedangkan rendahnya harga produsen disebabkan oleh lemahnya permintaan terhadap beberapa produk industri dan turunnya harga minyak, menurut Dong Lijuan, ahli statistik NBS.

Indeks harga konsumen (CPI) Tiongkok turun 0,5% dibandingkan tahun sebelumnya dan dibandingkan bulan Oktober, menunjukkan meningkatnya tekanan deflasi karena lemahnya permintaan domestik menimbulkan keraguan terhadap pemulihan ekonomi negara tersebut.

Cina akan terus menerapkan kebijakan fiskal proaktif, yang akan diperkuat secara moderat, dan menerapkan kebijakan moneter yang hati-hati, yang bersifat “fleksibel, moderat, tepat, dan efektif”, Politbiro, sebuah badan pengambil keputusan utama di Tiongkok Partai Komunis yang berkuasa, mengatakan pada hari Jumat.

Pernyataan tersebut “terus mengirimkan sinyal pro-pertumbuhan”, kata Goldman Sachs dalam sebuah catatan. “Namun, diskusi seputar pertumbuhan berkualitas tinggi dan penekanan pada ‘kecepatan pelonggaran yang tepat’ menyiratkan dukungan kebijakan kemungkinan masih akan diukur dibandingkan bersikap agresif.”

Para pedagang juga menantikan pertemuan kebijakan terakhir Federal Reserve untuk tahun ini. Harapan akan berakhirnya kenaikan suku bunga bisa pupus menyusul kuatnya data tenaga kerja yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS. Pengangguran turun 3,7% di bulan November karena 199,000 pekerjaan ditambahkan.

Dalam berita perusahaan, saham produsen apparel Li Ning merosot 14,3% pada penutupan setelah pembuat pakaian olahraga asal Tiongkok tersebut membeli gedung komersial di North Point, Hong Kong seharga HK$2,2 miliar untuk digunakan sebagai kantor pusatnya di kota tersebut.

Bursa saham asia lainnya melemah dalam seminggu yang dipenuhi dengan serangkaian pertemuan bank sentral terkemuka dan data inflasi AS yang dapat mendukung atau menghancurkan ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga yang lebih awal dan cepat pada tahun depan.

Investor sedang menunggu Konferensi Kerja Ekonomi Pusat (CEWC) mendatang, yang kemungkinan akan diadakan dalam beberapa hari ke depan, untuk mendapatkan petunjuk kebijakan lebih lanjut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini