Harga konsumen AS naik kuat pada November karena orang Amerika membayar lebih untuk makanan dan berbagai barang, yang mengarah ke kenaikan tahunan terbesar sejak 1982, menjadi mimpi buruk secara politik bagi pemerintahan Presiden Joe Biden dan memperkuat ekspektasi Federal Reserve untuk mulai menaikkan suku bunga tahun depan.

Meski demikian, investor nampak mengabaikan angka inflasi yang kuat dengan tenang. Terbukti bursa saham AS diperdagangkan lebih tinggi. Risk appetite yang terjadi justri membuat Dolar AS tergelincir terhadap sekeranjang mata uang. Sementara yield Obligasi AS naik.

Laporan dari Departemen Tenaga Kerja pada hari Jumat (10/12/2021), yang mengikuti serangkaian data bulan ini yang menunjukkan pengetatan pasar tenaga kerja yang cepat, membuat kemungkinan bank sentral AS akan mengumumkan bahwa mereka mempercepat penghentian obligasi besar-besarannya. pembelian pada pertemuan kebijakan minggu depan.

Adanya gangguan pasokan yang menunjukkan sedikit tanda pelonggaran dan perusahaan menaikkan upah karena mereka bersaing untuk mendapatkan pekerja yang langka, inflasi yang tinggi dapat bertahan hingga tahun 2022. Peningkatan biaya hidup, akibat dari kekurangan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 yang tiada henti, semakin menurunkan tingkat kepercayaan publik pada Joe Biden.

Awalnya, baik Gedung Putih dan The Fed menganggap inflasi yang tinggi tahun ini hanya akan sementara saja. Namun kini tidak ada banyak ruang untuk menjelaskan laju inflasi ini dari pandemi atau membuka kembali anomali. Kenaikan inflasi pada pajak, gas dan makanan adalah salah satu aspek yang paling regresif. Tentu saja ini akan menjadi pukulan bagi sebagian besar rakyat Amerika Serikat, khususnya yang berpenghasilan rendah, yang masih suka berbelanjak secara tidak proporsional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here