Ekonomi

Harga Minyak Perpanjang Kenaikannya

85

Harga minyak mentah dalam perdagangan di bursa berjangka naik di saat sesi Asia pada hari Kamis (14/12/2023), memperpanjang kenaikan sesi sebelumnya. Dorongan kenaikan didapatkan karena penurunan pasikan mingguan yang lebih besar dari perkiraan di penyimpanan minyak mentah AS. Faktor lain yang turut mendukung kenaikan adalah menurunnya nilai tukar Dolar AS menyusul isyarat dari Bank Sentral AS bahwa mereka bermaksud memangkas suku bunga p  ada tahun 2024.

Harga minyak mentah Brent berjangka naik 41 sen, atau 0,55%, menjadi $74,67 per barel pada 13:58 WIB. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 32 sen, atau 0,46%, menjadi $69,79 per barel.

Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak telah mengalami kenaikan di tengah kekhawatiran mengenai keamanan pasokan minyak Timur Tengah setelah serangan kapal tanker di Laut Merah.

Harga minyak mentah telah mengalami rebound sebelum hasil pertemuan The Fed disampaikan, dan peristiwa tersebut semakin mengangkat harga naik lebih lanjut. Dengan suku bunga yang lebih rendah, mengurangi biaya pinjaman konsumen, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak. Berita tersebut juga membuat dolar melemah selama tiga sesi berturut-turut ke level terendah dalam empat bulan, yang membuat harga minyak lebih murah bagi pembeli asing.

Harga minyak terdorong juga oleh penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan. Dalam laporan terkini, bahwa Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan perusahaan-perusahaan energi menarik cadangan minyak mentah sebanyak 4,3 juta barel lebih besar dari perkiraan selama pekan yang berakhir 8 Desember karena penurunan impor.

Hilangnya kekhawatiran terhadap pertumbuhan permintaan juga mendukung pasar, setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyalahkan penurunan harga minyak mentah terbaru karena “kekhawatiran berlebihan” terhadap pertumbuhan permintaan minyak dalam laporan bulanan terbaru yang dirilis pada hari Rabu.

Harga minyak mentah Brent berjangka telah turun sekitar 10% sejak OPEC+ mengumumkan babak baru pengurangan produksi pada 30 November. Namun, beberapa analis memperingatkan mengenai meningkatnya persediaan bahan bakar selama seminggu di Amerika Serikat, yang menandakan berkurangnya permintaan pada musim dingin. Tidak semuanya merupakan kabar baik, dengan meningkatnya persediaan bensin dan sulingan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here