Kopi Arabika diperkirakan akan mengalami penurunan harga

Eksposisi News – Harga kopi Arabika turun kembali pada hari Senin (28/12/2020) di tengah tanda-tanda hujan lebat di Brasil. Somar Meteorologia melaporkan pada hari Senin bahwa hujan di Minas Gerais, daerah penghasil Arabika terbesar di Brasil, mencapai curah hujan dengan kelebatan hingga 58,6 mm dalam seminggu terakhir, atau + 127% dari rata-rata sepanjang sejarahnya. Badan meteorology ini juga memperkirakan bahwa curah hujan masih akan di atas rata-rata untuk Minas Gerais selama sepuluh hari pertama bulan Januari.

Harga kopi ini juga berada di bawah tekanan karena melemahnya mata uang Brazil, Real yang turun -0,81% ke level terendah dalam 3-1 / 2 minggu terhadap Dolar AS. Dibalik pelemahan ini, jatuhnya Real Brazil akan menjadi insentif bagi produsen kopi Brasil untuk meningkatkan penjualan ekspor mereka.

Conab memperkirakan bahwa harga kopi Arabika masih akan negatif karena kenaikan produksi Brazil juga. Sebagaimana dilaporkan bahwa produksi kopi Brazil di tahun 2020 mengalami kenaikan sebesar 2,3% menjadi 63,1 juta kantong dari perkiraan September 61,7 juta kantong.

Sayangnya, meningkatnya infeksi Covid di seluruh dunia telah mendorong pemerintah untuk memberlakukan sejumlah pembatasan baru. Hal ini mengekang konsumsi kopi yang biasanya dilakukan oleh masyarakat di warung kopi dan sejenisnya.

Menteri Ekonomi Jerman Altmaier baru-baru ini mengatakan bahwa pembatasan virus dapat berlangsung hingga awal musim semi di Jerman. Selain itu, Inggris juga memberlakukan sejumlah pembatasan yang kemungkinan tidak akan berakhir hingga Paskah tahun depan. Virus Covid kini telah menginfeksi 81.237 juta orang di seluruh dunia, dengan kematian melebihi 1.774 juta.

Kenaikan produksi kopi ini menjadi sentiment negative buat harga, sebagaimana dalam perdagangan di ICE pada Rabu lalu. Meski demikian, volume perdagangan mengalami kenaikan ke posisi tertinggi selama 4-1 / 4 bulan sebanyak 1,397 juta kantong, pulih lebih jauh dari terendah 20 tahun di 1,096 juta kantong yang diposting pada 5 Oktober.

Disisi lain, persediaan kopi robusta yang dipantau oleh ICE turut naik ke level tertinggi 8-bulan pada hari Kamis, naik dari posisi terendah dalam 1-3 / 4 tahun di 10.808 lot yang diposting pada 14 Oktober.

Ditengah tekanan harga atas pasokan yang naik ini, ada sentiment positif yang bisa mendukung untuk kopi robusta. Pada hari Minggu kemarin, Kantor Statistik Umum Vietnam melaporkan bahwa ekspor kopi Vietnam pada 2020 (Jan-Des) turun -8,8% y / y menjadi 1,511 MMT. Ini menjadi insentif bagi pelaku pasar bahwa ditahun yang akan datang, pasokan kopi Robusta dari Vietnam akan menyusut.

Dorongan kenaikan harga Kopi Robusta juga datang dari Conab yang pada 17 Desember memotong perkiraan panen robusta Brasil ditahun 2020 menjadi hanya 14,3 juta kantong dari perkiraan September 15 kantong saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here