Sejumlah pemangku kepentingan berkomitmen melakukan Gerakan Selamatkan Pangan yang di inisiasi oleh Badan Pangan Nasional, di Jakarta pada Jumat (29/09/2023). (Lukman Hqeem/Eksposisi News)
Sejumlah pemangku kepentingan berkomitmen melakukan Gerakan Selamatkan Pangan yang di inisiasi oleh Badan Pangan Nasional, di Jakarta pada Jumat (29/09/2023). (Lukman Hqeem/Eksposisi News)

Sebagai wujud komitmen dan kehadiran pemerintah dalam upaya pencegahan pemborosan pangan (Food Waste), pada Tahun 2022 Badan Pangan Nasional (National Food Agency, NFA) telah menginisiasi langkah nyata Gerakan Selamatkan Pangan dalam upaya pencegahan dan pengurangan pangan berlebih berpotensi food waste. Gerakan ini terbagi menjadi 3 kegiatan utama yang meliputi, penyediaan, pengumpulan, penyortiran, pengolahan, dan penyaluran pangan melalui donasi pangan; penyediaan platform penyelamatan pangan yang dapat diakses secara digital; serta sosialisasi, edukasi, dan advokasi lewat kampanye “Stop Boros Pangan” serta “Belanja Bijak”.

Penanganan Food waste sebagai strategi mengantisipasi potensi krisis pangan sekaligus mendukung pengentasan daerah rentan rawan pangan di Indonesia. Untuk itu, NFA bersama sejumlah para pemangku kepentingan (stake holder)terkait melakukan kerjasama.   

Arief Prasetyo Adi, Kepala Badan Pangan Nasional menegaskan bahwa kerja sama antar stakeholder menjadi kunci dalam penanganan food waste. Hal ini disampaikan dalam peringatan Hari Kesadaran Internasional Pemborosan Pangan (International Day of Awareness of Food Loss and Waste) pada Jumat (29/09/2023) di Jakarta. Menurutnya, “menyelesaikan masalah pangan dan gizi memerlukan komitmen semua elemen masyarakat. Kami bekerja sama dengan Kementerian/ Lembaga terkait, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lintas sektor di 38 provinsi dan 514 kab/kota, serta melibatkan BUMN dan BUMD Pangan, Satgas Pangan, swasta, asosiasi, civitas akademika, dan para ahli untuk mencapai target pembangunan pangan,” ujar Arief.

 “Kehadiran berbagai stakeholder dari hulu hingga hilir merupakan wujud sinergi pentahelix yang kita harapkan dapat menekan pemborosan pangan sehingga memberikan dampak yang positif tidak hanya terhadap ketahanan pangan, tetapi juga pada peningkatan ekonomi, dan perbaikan lingkungan,” tambahnya nya.

Gerakan Selamatkan Pangan telah  dilakukan pada 38 Provinsi dan 514 Kabupaten/Kota secara intensif. Bahkan ditahun ini, NFA menderaskan pelaksanaan kegiatan gerakan ini melalui alokasi dekonsentrasi di 12 provinsi yang berbasis perkotaan dan telah memiliki penggiat bank pangan. Provinsi tersebut yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, serta Kalimantan Timur. 

Melalui operasionalisasi mobil logistik pangan dan food truck sebagai tindak lanjut komitmen kerja sama NFA bersama 9 organisasi pegiat food waste, pangan yang berpotensi terbuang atau dimusnahkan namun masih dalam kondisi layak dan aman serta tidak termasuk pangan sisa (leftover food) dapat dimanfaatkan untuk disalurkan kepada masyarakat dan pihak-pihak yang membutuhkan.

“Piloting di wilayah Jabodetabek sejak akhir Desember 2022 hingga 25 September 2023 sudah berhasil menyelamatkan pangan sebesar  52.785,68 Kg ton dengan memfasilitasi penyaluran pangan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui mobil logistik dan food truck. Selain itu, pangan yang sudah tidak layak konsumsi juga disalurkan sebagai pakan hewan ternak, pupuk kompos, serta untuk kebutuhan industri. Tentu ke depannya akan kita perluas ke berbagai wilayah sehingga gerakan ini terus bergulir dan berdampak positif pada ketahanan pangan kita,” ungkap Arief.

Selain itu, platform secara digital juga dikembangkan sebagai media yang memudahkan asosiasi dan penggiat food waste dalam penyaluran bantuan pangan. Aplikasi ini memuat data pelaku usaha yang menjadi donatur dan penggiat food waste, sebaran lokasi penyaluran donasi, jumlah pangan yang diselamatkan, serta jumlah pangan yang disalurkan.

“Dalam peringatan hari kesadaran internasional mengenai Food Loss and Waste ini kita jadikan momentum untuk menguatkan langkah kolaboratif dalam membangun kesamaan visi terhadap pentingnya isu ini dalam meningkatkan ketahanan pangan, terutama menurunkan daerah rentan rawan pangan,” kata Arief.

Pengurangan pemborosan pangan menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia dan negara-negara di dunia sesuai komitmen dalam Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12 poin ke-3. Menurut Arief, sesuai SDGs negara-negara di dunia diharapkan dapat mengurangi 50% food waste per kapita di tingkat retail dan konsumen pada tahun 2030. Sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo agar mengantisipasi ancaman krisis pangan yang disebabkan berbagai tantangan antara lain El Nino, disrupsi rantai pasok global dan kenaikan harga.

Ravindra Airlangga, Anggota DPR RI menyatakan dukungan terhadap Gerakan Selamatkan Pangan. Menurutnya dukungan regulasi sangat penting dalam memberikan payung hukum yang kuat dalam implementasi penanganan food waste, “Kami mendukung Gerakan Selamatkan Pangan yang dikolaborasikan Badan Pangan Nasional bersama seluruh pemangku kepentingan dan berharap ini bisa terus dilanjutkan, dan kita mendorong regulasi terkait hal ini dikuatkan, baik dalam bentuk Peraturan Badan Pangan, Peraturan Presiden, bahkan dalam bentuk Undang-Undang,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Utusan Khusus Presiden (UKP) RI Bidang Kerja Sama Pengentasan Kemiskinan dan Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono. Menurutnya, Gerakan Selamatkan pangan ini menjadi gerakan nasional yang harus dilakukan oleh semua elemen bangsa. “Untuk menekan boros pangan harus dimulai dari perubahan budaya kita bersama. Oleh karena itu, mari kita bergandengan tangan untuk bersama-sama menghentikan segala bentuk pemborosan pangan. Berdasarkan kajian yang kita lakukan, masyarakat memiliki tradisi boros pangan yang harus kita ubah agar bangsa kita memiliki ketahanan pangan yang lebih kuat,” ungkapnya.

Sementara FAO Representative for Indonesia and Timor Leste Rajendra Aryal mengungkapkan pentingnya memahami perbedaan antara food loss and food waste, jika food loss merupakan kehilangan pangan dari produksi sampai distribusi di mana sekitar 13% makanan hilang di tingkat global sedangkan food waste adalah limbah makanan yang berasal dari ritel hingga ke konsumen yang bisa berasal dari warung, dapur dan juga toko makanan, disini sekitar 17% makanan hilang.

“Sekarang bayangkan kita berada dalam situasi di mana kita memiliki lebih dari 800 juta orang yang mengalami kesulitan dalam mengakses makanan yang aman dan bergizi dan pada saat yang sama sepertiga dari makanan yang di produksi di dunia ini hilang dan terbuang,” ungkapnya. Ia juga mengungkapkan apresiasi kepada NFA yang telah mengambil peran menginisiasi kolaborasi antar stakeholder terkait.

“Kita harus bekerja sama meningkatkan kesadaran masyarakat akan isu ini dan pada saat yang sama kita perlu memperhatikan titik-titik kritis dimana proses kehilangan pangan dapat terjadi atau terbuang dan tindakan apa yang perlu kita lakukan dan kebijakan seperti apa yang harus kita ambil. Jadi ini adalah kolaborasi bersama yang perlu kita lakukan dengan semua pemangku kepentingan termasuk sektor swasta,” tambahnya.

Roy Nicholas, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) yang menjadi salah satu kolaborator dalam Gerakan Selamatkan Pangan ini menjelaskan peranan anggotanya. Dijelaskan bahwa sejumlah peritel di APRINDO telah bekerja sama dengan sejumlah food bank dalam menyalurkan bahan-bahan makanan dan pangan kepada masyarakat luas, untuk menghindari pemborosan pangan. Mekanismenya dilakukan sebagai bagian dari kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan.

Karina Nursyafira dari Aksata Pangan, food bank asal Medan ini adalah salah satu penerima bantuan bahan pangan dan menyalurkan kembali. Dijelaskan olehnya bahwa mereka bekerja sama dengan sejumlah pihak dalam mendapatkan bahan-bahan makanan, seperti hotel, toko kue dan ritel. Makanan-makanan ini kemudian mereka salurkan ke sejumlah pihak, terutama ke panti asuhan di sekitar Kota Medan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini