Harga emas naik saat Dolar AS mengambil jeda. (Lukman Hqeem)
Harga emas naik saat Dolar AS mengambil jeda. (Lukman Hqeem)

EksposisiNews, Jakarta – Pergerakan pasar keuangan global masih diselimuti oleh sejumlah sentimen. Dimulai dari rencana tapering The Fed akhir tahun ini, ketidakpastian seputar hambatan batas utang AS, krisis likuiditas perusahaan properti China, sampai krisis energi global yang telah mendorong harga minyak untuk naik ke level tertinggi sejak tahun 2014.

Walaupun ada risiko jangka pendek akan pertumbuhan di AS dan China, prospek ekonomi tetap menguntungkan. Hal ini didukung oleh pemulihan global yang berlangsung dari pandemi dan bank sentral yang dovish, yang menoleransi tingkat inflasi yang sedikit diatas target dan menjaga kebijakan moneter tetap akomodatif.

“Bulan September dipenuhi dengan berbagai peristiwa, yang mana China mendominasi berita utama terkait Evergrande. Sementara di US, The Fed turut mengejutkan pasar dengan pengumuman tapering yang lebih cepat dari yang diharapkan. Perkembangan kedua negara tersebut mendorong kami untuk memoderasi ekspektasi akan ekspansi ekonomi global. Namun, kami terus memperkirakan pertumbuhan global akan berada diatas tren pada tahun 2021 dan 2022.” Eli Lee, Head of Investment Strategy, Bank of Singapore.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here