Dolar AS Berjaya, Euro terseret krisis italia,

Ketua Federal Reserve, Jerome Powell pada satu kesempatan di hari Kamis (19/10/2023) menyatakan bahwa bank sentrak terlihat untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil di masa mendatang. Sikap dovish yang demikian ini membuat penguatan Dolar AS selama beberapa waktu kembali tertahan dan Euro menguat dengan diperdagangkan pada $1,0540.

Pasangan EUR/USD sempat naik ke level yang mendekati $1,06 setelah pidato Jerome Powell. Tidak berhenti disitu saja, pada akhir perdagangan akhirnya nilai tukar berbalik kembali ke zona hijau dan mendorong ke sesi tertinggi $1,0620 sebelum terkoreksi dan diperdagangkan di dekat level resistensi psikologis $1,06.

Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral AS berencana untuk mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan 31 Oktober – 1 November nanti. Pernyataan ini terlontar sesaat sebelum ia terusir dari podium menyusul aksi sekelompok aktivis iklim yang mengganggu acara tersebut dan mengusir Powell dari panggung.

“Mengingat ketidakpastian dan risiko, dan sejauh mana kemajuan yang telah kita capai, komite ini mengambil langkah dengan hati-hati,” Powell meyakinkan.

Sementara itu, Yen Jepang terus melemah terhadap dolar AS, kini berada di batas level signifikan 150 setelah komentar dari Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda yang membuat beberapa pernyataan hati-hati termasuk yang menonjol adalah mengenai kebijakan moneter.

Dia menegaskan kembali penerapan kebijakan moneter yang akomodatif untuk mencapai tujuan inflasi setelah inflasi Jepang melemah pada semua metrik termasuk angka inti dan angka utama. Hal ini membebani yen secara negatif dan dengan latar belakang di mana dolar AS sedikit dalam penawaran jual.

Ketidakpastian seputar perekonomian Jepang sangat tinggi. BoJ akan berupaya mencapai target inflasi 2% secara stabil dan berkelanjutan, disertai dengan pertumbuhan upah, dengan sabar mempertahankan kebijakan longgar saat ini. Perlu kehati-hatian dalam memperhatikan pergerakan pasar keuangan dan valuta asing, serta dampaknya terhadap perekonomian dan harga Jepang.

Meskipun demikian, harga energi sedang meningkat dan dapat memberikan pengaruh positif terhadap inflasi di masa depan. Pasar uang saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga sekitar bulan Juli/September 2024 dan dengan upah yang menunjukkan kenaikan yang signifikan, mungkin ada pandangan yang kurang dovish dari BoJ jika data ini terus berlanjut.

Melihat kinerja JGB 10-tahun sebagai acuan, imbal hasil terus mendekati batas 1% sesuai pedoman pengendalian kurva imbal hasil. BoJ akan terus mencermati metrik ini untuk menghindari kenaikan cepat.

Disisi lain, dengan meningkatnya ketegangan antara Israel-Hamas, daya tarik safe haven yen untuk sementara dibayangi oleh pernyataan dovish yang disebutkan di atas, namun intervensi di sekitar level tersebut mungkin akan terjadi.

Seminggu ke depan sebagian besar akan fokus pada faktor-faktor spesifik Amerika Serikat, namun ukuran inflasi yang dipilih oleh The Fed (indeks harga PCE) akan menjadi faktor yang paling signifikan. Data penting lainnya mencakup pesanan barang tahan lama, sentimen konsumen Michigan, dan PDB.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini