EksposisiNews – Film dokumenter ‘Holy Prostitution’ telah melakukan world premiere-nya di Indonesia. Sebuah film dokumenter karya Natasha Dematra dan Cheryl Halpern ini mengangkat fenomena nikah mut’ah atau kawin kontrak yang marak ada di Indonesia dan beberapa negara di dunia.

Artis senior Erna Santoso turut hadir dan mendukung world premiere film dokumenter ‘Holy Prostitution’. Dirinya memberikan pandangan dan masukan terkait kasus kawin kontrak, bahwa semua pihak memang seharusnya harus kerjasama untuk menyelesaikan kasus yang sangat menyengsarakan wanita tersebut,

Erna Santoso Puji Film Dokumenter ‘Holy Prostitution’ Bagus Sekali 1

“Kita sama-sama kerjasama karena ini menyangkut kemanusiaan, “ kata Erna Santoso dalam acara world premiere press conference dan award ceremony film dokumenter ‘Holy Prostitution’ yang telah melakukan di ATM Nusantara, Waroeng Rakyat, Cibubur, Jakarta Timur, Senin (5/7/22).

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Surakarta,1 September 1956 itu menerangkan, dirinya memang sudah lama melakukan kerjasama, baik dengan Damien Dematra, maupun dengan sutradara film dokumenter dari Amerika, Cheryl Halpern. “Kita sudah sepuluh tahun yang lalu kerjasama dengan berbagai kegiatan, seperti di Planet Hollywood, TVRI dan berbagai tempat lainnya, “ terang ibu dari artis Ardina Rasti.

Menurut Erna Santoso, sudah lama dirinya tidak bertemu dengan mereka karena Pandemi Covid-19 dan ia memuji karya mereka bagus sekali. “Ternyata karya menang di festival film internasional dengan meraih penghargaan Best Film dari festival film bergengsi Asia Pacific International Filmmaker Festival & Awards jadi masa endemi ini mereka bisa datang. Nah, kita sambut mereka dan kita saling berangkulan, saling memberikan dukungan dengan merayakan kemenangan, memberi ucapan selamat kemenangan pada karya filmnya, ‘Holy Prostitution’,“ ungkap Ketua Umum Yayasan Peduli Anak Indonesia ini mantap.

Erna Santoso Puji Film Dokumenter ‘Holy Prostitution’ Bagus Sekali 2

Salut, demikian kata yang disematkan Erna Santoso pada Natasha Dematra dan Cheryl Halpern yang membuat film dokumenter ‘Holy Prostitution’, karena tidak semua orang berani mengungkap. “Kita sering mendengar kawin kontrak, tapi tidak ada yang berani mengungkap. Dalam film ‘Holy Prostitution’ menghadirkan pelaku nyata yang memang asli orangnya, dimana kelihatan bagaimana penderitaan wanita-wanita yang dijual dalam kawin kontrak. Dia dipakai ada yang hanya seminggu sampai sebulan dalam kawin kontrak, “ujar artis yang mantan model dan peragawati dan kemudian terjun bermain film dan menjadi produser.

Erna Santoso menyampaikan bawa itu masalah kasus human trafficking. “Karena ini penjualan wanita, pelecehan, pengihinaan, masalah keuangan ekonomi selalu ada, dan mereka berani membuka, pemerintah juga sebenarnya tahu jadi semestinya pemerintah mendukung dengan SDM untuk bersama kita dapat menyelesaikan kasus human trafficking, “ paparnya.

Kawin kontrak, kata Erna Santoso, berdampak kesulitan membuat akte kelahiran. Karena kawin kontrak tidak memakai surat pernikahan yang syah, seperti juga dengan kawin siri memang memakai selembar surat tapi tidak syah sehingga negara sulit memberikan akta kelahiran jadi kasihan sekali. “Tapi beberapa waktu yang lalu sudah ada pemutihan akte kelahiran, mereka harus dikasih penataran bahwa sekarang bisa membuat akte kelahiran, karena anak tidak bersalah, dia dilahirkan seperti itu akibat kawin kontrak orangtuanya. Mereka memang harus dikasih penataran, ini bisa karena kalau tidak akte kelahiran tidak bisa sekolah mau jadi apa, kita harus berjuang karena anak adalah generasi penerus kita, “ pungkas Erna Santoso tegas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here