Bursa saham Asia merosot pada awal perdagangan di hari Rabu (17/01/2024), dipimpin oleh saham-saham Cina setelah serangkaian data menunjukkan pemulihan yang tidak merata di negara tersebut. Indek saham yang sensitif dengan pergerakan saham-saham disektor perbankan, kembali terpapar dengan harapan pemangkasan suku bunga Fed. Sementara itu dolar AS kembali mendekati level tertinggi dalam satu bulan karena para pedagang menarik kembali spekulasi penurunan suku bunga yang lebih awal.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,34%, menyentuh level terendah baru dalam satu bulan dan berada di jalur kinerja mingguan terlemahnya sejak Agustus. Indeks turun 3% untuk minggu ini. Bursa saham Cina turun tajam setelah data menunjukkan perekonomian Tiongkok tumbuh 5,2% pada kuartal keempat dibandingkan tahun sebelumnya, sedikit meleset dari ekspektasi analis namun tetap memastikan Beijing memenuhi target pertumbuhan tahunannya sekitar 5%.

Indikator aktivitas bulan Desember yang dirilis bersama dengan data PDB menunjukkan penjualan ritel tumbuh pada laju paling lambat sejak bulan September, sementara pertumbuhan investasi tetap lemah, meskipun output industri menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Indeks saham unggulan Cina, turun lebih dari 1% pada perdagangan pagi hari, mendekati level terendah sejak awal 2019. Indek Hang Seng Hong Kong merosot 2,5%. Sedangkan indek Nikkei Jepang mengabaikan kelesuan yang lebih luas dan naik ke puncak baru dalam 34 tahun. Harga terakhir naik 0,5% setelah melonjak lebih dari 1% di awal perdagangan.

Serangkaian data ekonomi Tiongkok yang dirilis hari ini tampaknya mencerminkan hal yang sama – lingkungan pertumbuhan yang tidak merata, yang belum memberikan banyak keyakinan akan adanya perubahan haluan yang berkelanjutan. Tren data ekonomi yang lemah menunjukkan bahwa lingkungan kebijakan yang akomodatif belum menghasilkan perubahan kondisi ekonomi yang berkelanjutan, yang mungkin memperkuat seruan untuk intervensi yang lebih suportif oleh pihak berwenang pada paruh pertama tahun 2024.

Antusiasme investor juga tertahan oleh retorika benada hawkish dari pejabat bank sentral AS, yang bertentangan dengan ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal. Gubernur Federal Reserve AS Christopher Waller mengatakan pada hari Selasa bahwa meskipun inflasi mendekati target bank sentral sebesar 2%, The Fed tidak boleh terburu-buru menurunkan suku bunga sampai inflasi yang lebih rendah dapat dipertahankan.  Komentar Waller mencerminkan sentimen para gubernur bank sentral Eropa.

Komentar Waller tercermin dalam pasar suku bunga, dimana para pelaku pasar tampaknya menjadi sedikit lebih skeptis bahwa The Fed dapat melakukan pemotongan agresif lebih dari 160 basis poin. Pasar memperkirakan kemungkinan sebesar 65% penurunan suku bunga oleh The Fed pada bulan Maret, menurut alat CME FedWatch, dibandingkan dengan kemungkinan sebesar 81% pada awal minggu ini. Mereka juga memperkirakan pemotongan sebesar 158bps tahun ini.

Kekhawatiran geopolitik juga melemahkan sentimen karena investor terus memantau perkembangan di Laut Merah, Gaza, dan Ukraina.

Semalam, bursa saham  AS berakhir lebih rendah setelah pendapatan beragam dari Morgan Stanley dan Goldman Sachs menekan bank, dan aksi jual di Boeing dan Apple membebani S&P 500.  

Di pasar mata uang, indeks dolar AS naik 0,029% dan mendekati level tertinggi satu bulan di 103,42 yang disentuh pada hari Selasa. Yen Jepang (USD/JPY) melemah 0,09% menjadi 147,34 per dolar, sedangkan Sterling (GBP/USD) terakhir pada $1,2634.

Harga minyak mentah AS turun 0,68% menjadi $71,91 per barel dan Brent  berada di $77,84, turun 0,57% hari ini. Sementara harga emas sedikit berubah pada $2,028 di jam-jam Asia setelah turun 1% di sesi sebelumnya karena dolar yang lebih kuat.

Bursa saham Asia merosot pada awal perdagangan di hari Rabu (17/01/2024), dipimpin oleh saham-saham Cina setelah serangkaian data menunjukkan pemulihan yang tidak merata di negara tersebut. Indek saham yang sensitif dengan pergerakan saham-saham disektor perbankan, kembali terpapar dengan harapan pemangkasan suku bunga Fed. Sementara itu dolar AS kembali mendekati level tertinggi dalam satu bulan karena para pedagang menarik kembali spekulasi penurunan suku bunga yang lebih awal.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,34%, menyentuh level terendah baru dalam satu bulan dan berada di jalur kinerja mingguan terlemahnya sejak Agustus. Indeks turun 3% untuk minggu ini. Bursa saham Cina turun tajam setelah data menunjukkan perekonomian Tiongkok tumbuh 5,2% pada kuartal keempat dibandingkan tahun sebelumnya, sedikit meleset dari ekspektasi analis namun tetap memastikan Beijing memenuhi target pertumbuhan tahunannya sekitar 5%.

Indikator aktivitas bulan Desember yang dirilis bersama dengan data PDB menunjukkan penjualan ritel tumbuh pada laju paling lambat sejak bulan September, sementara pertumbuhan investasi tetap lemah, meskipun output industri menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Indeks saham unggulan Cina, turun lebih dari 1% pada perdagangan pagi hari, mendekati level terendah sejak awal 2019. Indek Hang Seng Hong Kong merosot 2,5%. Sedangkan indek Nikkei Jepang mengabaikan kelesuan yang lebih luas dan naik ke puncak baru dalam 34 tahun. Harga terakhir naik 0,5% setelah melonjak lebih dari 1% di awal perdagangan.

Serangkaian data ekonomi Tiongkok yang dirilis hari ini tampaknya mencerminkan hal yang sama – lingkungan pertumbuhan yang tidak merata, yang belum memberikan banyak keyakinan akan adanya perubahan haluan yang berkelanjutan. Tren data ekonomi yang lemah menunjukkan bahwa lingkungan kebijakan yang akomodatif belum menghasilkan perubahan kondisi ekonomi yang berkelanjutan, yang mungkin memperkuat seruan untuk intervensi yang lebih suportif oleh pihak berwenang pada paruh pertama tahun 2024.

Antusiasme investor juga tertahan oleh retorika benada hawkish dari pejabat bank sentral AS, yang bertentangan dengan ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal. Gubernur Federal Reserve AS Christopher Waller mengatakan pada hari Selasa bahwa meskipun inflasi mendekati target bank sentral sebesar 2%, The Fed tidak boleh terburu-buru menurunkan suku bunga sampai inflasi yang lebih rendah dapat dipertahankan.  Komentar Waller mencerminkan sentimen para gubernur bank sentral Eropa.

Komentar Waller tercermin dalam pasar suku bunga, dimana para pelaku pasar tampaknya menjadi sedikit lebih skeptis bahwa The Fed dapat melakukan pemotongan agresif lebih dari 160 basis poin. Pasar memperkirakan kemungkinan sebesar 65% penurunan suku bunga oleh The Fed pada bulan Maret, menurut alat CME FedWatch, dibandingkan dengan kemungkinan sebesar 81% pada awal minggu ini. Mereka juga memperkirakan pemotongan sebesar 158bps tahun ini.

Kekhawatiran geopolitik juga melemahkan sentimen karena investor terus memantau perkembangan di Laut Merah, Gaza, dan Ukraina.

Semalam, bursa saham  AS berakhir lebih rendah setelah pendapatan beragam dari Morgan Stanley dan Goldman Sachs menekan bank, dan aksi jual di Boeing dan Apple membebani S&P 500.  

Di pasar mata uang, indeks dolar AS naik 0,029% dan mendekati level tertinggi satu bulan di 103,42 yang disentuh pada hari Selasa. Yen Jepang (USD/JPY) melemah 0,09% menjadi 147,34 per dolar, sedangkan Sterling (GBP/USD) terakhir pada $1,2634.

Harga minyak mentah AS turun 0,68% menjadi $71,91 per barel dan Brent  berada di $77,84, turun 0,57% hari ini. Sementara harga emas sedikit berubah pada $2,028 di jam-jam Asia setelah turun 1% di sesi sebelumnya karena dolar yang lebih kuat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini