Eksposisinews – Ekonomi Turki tumbuh 7,4 persen dikuartal ketiga sesuai perkiraan berkat kuatnya permintaan akan produk ritel, manufaktur dan ekspor.

Berdasarkan data yang didapat dari Institut Statistik Turki, Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 2,7% jika dibandingkan periode sebelumnya.

Meski begitu, kondisi lira yang anjlok sejadi-jadinya masih menjadi masalah setelah tergelincir sampai 43% terhadap dolar di tahun ini. Pelemahan lira masih berlanjut, dimana hari ini mata uang Turki tersebut jatuh 2,2%.

Pelemahan lira lambat laun akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dimana Goldman Sach merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Turki di 2022 hanya 3,5%.

Presiden Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Turki akan memprioritaskan pertumbuhan, ketenagakerjaan dan investasi. Diperkirakan nilai tukar dan inflasi akan terus melonjak.

Keputusan Bank Sentral Turki yang sejauh ini telah memangkas suku bunga sampai 400 basis poin dianggap ceroboh karena inflasi sudah melonjak sampai 20% dan lira terus terperosok.

Suku bunga yang rendah memang membuat pertumbuhan riil PDB menjadi tinggi tapi suku bunga menjadi lemah, inflasi tinggi dan stabilitas keuangan makro menjadi tidak stabil. Jika pola kebijakan seperti ini dilanjutkan maka risiko krisis ekonomi sistemik akan melanda Turki.

Lemahnya mata yang dan inflasi pada akhirnya akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi beberapa bulan ke depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here