Kemasan produk P&G Indonesia yang di buat dengan mempertimbangkan komitmen dan dukungan pada ekonomi sirkular. (Lukman Hqeem/Eksposisi News)

Eksposisi News, Jakarta – Procter & Gamble (P&G) Indonesia menyatakan siap untuk mengembangkan inisiatif terbaru mereka dalam mengintegrasikan ekonomi sirkular dan berkelanjutan. Pertama adalah meluncurkan kampanye multibrand bertemakan lingkungan, dan kedua mendukung dunia Pendidikan lewat bantuan alat belajar mengajar yang berbahan daur ulang.

Inisiatif tersebut disampaikan oleh Presiden Direktur P&G Indonesia, Saranathan Ramaswamy dalam acara tahunan Indonesia Sustainbility Forum 2023 di Jakarta, pada Kamis (07/09/2023). Sebagai bagian dari komitmen perusahaan, P&G Indonesia akan terus berinovasi dalam menciptakan ekonomi sirkular dan mengintegrasikan elemen keberlanjutan di berbagai sendi bisnisnya, jelasnya.

Kampanye multibrand akan dilakukan dengan bertemakan lingkungan keberlanjutan untuk pertama kalinya. Untuk ini P&G Indonesia akan melibatkan beberapa produk unggulannya. Diantaranya adalah Vicks, Gillette, Oral-B. Bentuk inisiatif ini meliputi pembuatan materi komunikasi dan promosi, hingga pelibatan jaringan distributor P&G dimana konsumen juga dapat membawa sampah kemasan produk P&G ke toko-toko milik distributor rekanan P&G untuk ditukar dengan berbagai insentif menarik.

Kedua, P&G bersama Save the Children Indonesia dan pemerintah Jawa Barat, akan memberikan dukungan fasilitas penunjang Kegiatan Belajar Mengajar, seperti meja dan kursi, yang terbuat dari sampah kemasan plastik P&G yang telah didaur ulang. Paket bantuan ini diberikan kepada beberapa sekolah yang masih dalam proses pemulihan dari tragedi gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat tahun lalu.

Sekolah-sekolah tersebut merupakan sekolah binaan program “We See Egual” dari P&G di Cianjur sejak 2018. Ini merupakan dukungan yang berkelanjutan dari komitmen P&G dan Save the Children Indonesia untuk terus bergerak maju mendampingi generasi muda Cianjur. Dukungan juga diberikan dalam bentuk pendampingan piskologis secara terintegrasi bagi anak-anak korban gempa bumi tersebut di awal tahun 2023.

Maria Angelia Novi Prasetiati, Kepala Bidang Konservasi Lingkungan dan Pengendalian Perubahan Iklim DLH Provinsi Jawa Barat mendukung komitmen P&G ini.

“Kami menyadari bahwa tantangan sampah plastik adalah tantangan global, sehingga kami sangat mengapresiasi upaya para pelaku industri dalam menggerakkan ekonomi sirkular melalui program dan inisiatif keberlanjutan lingkungan seperti yang dilakukan oleh P&G Indonesia. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam pengurangan limbah dan dekarbonisasi global. Kami berharap semoga semua upaya lingkungan berkelanjutan dari P&G Indonesia juga dapat menjadi inspirasi bagi para pelaku industri lainnya agar terus memberikan kontribusi dalam menghasilkan dampak positif yang lebih besar terhadap lingkungan dan ekosistem kehidupan global.”

Ramaswamy menjelaskan bahwa secara global, P&G telah berkomitmen untuk menjalankan inisiatif keberlanjutan lingkungan melalui P&G Ambition 2030. Dalam kerangka komitmen keberlanjutan lingkungan ini, P&G bertujuan mengurangi emisi dalam lima aspek bisnis utamanya hingga tahun 2030, yakni pada aspek material dan kemasan, aspek operasional, aspek transportasi, aspek penggunaan produk dan aspek akhir masa pakai produk.

Lebih lanjut di jelaskan olehnya bahwa di Indonesia, komitmen global tersebut telah di lakukan lewat tiga pilar utama, yaitu Iklim (Climate), Air (Water), dan Limbah (Waste) di berbagai aspek bisnisnya. Dalam pilar Iklim, pabrik P&G Indonesia telah mengaktifkan listrik terbarukan dan meningkatkan efisiensi transportasinya untuk mengurangi emisi karbon. Pada pilar Air, upaya daur ulang telah diterapkan untuk mengurangi penggunaan air secara efisien. Di sisi Limbah, berbagai inisiatif telah diambil baik pada level produksi maupun penggunaan produk. Sejak pertama kali beroperasi, pabrik P&G Indonesia telah lama menjalankan praktik Zero Waste to Landfill untuk mengelola sampah produksinya dengan baik. Di level hilir setelah konsumsi, P&G menjalankan program Conscious Living yang melibatkan masyarakat dalam pengumpulan dan pengelolaan sampah kemasan plastik melalui aplikasi digital.

Ia memastikan bahwa setiap aktivitas bisnis P&G Indonesia akan selalu mempertimbangkan aspek lingkungan yang berkelanjutan, mulai dari proses produksi, rantai pasokan produk hingga cnek kemasan setelah dipakai konsumen.

“Kami terus berupaya mengembangkan inovasi dan produk berkelanjutan dalam mengurangi Jejak karbon sesuai dengan komitmen Keberlanjutan Lingkungan P&G secara global, yang berdasarkan pada misi perusahaan sebagai ‘Force for Growth and Force for Good’. Untuk mencapai tujuan Keberlanjutan Lingkungan tersebut, kami menyadari pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan berbagai inovasi yang dapat mengakselerasi dampak positif dari program kami, baik bagi lingkungan maupun komunitas dimana kami beroperasi,” jelasnya.

Clint Navales selaku P&G Middle East Africa Deputy Sustainability Leader and Communication Vice President menggunkapkan, inovasi program keberlanjutan lingkungan P&G Indonesia dimulai dari pengemasan produk hingga setelah produk selesai dikonsumsi. Sebagai contoh, sebagian dari material kemasan produk Gillette Venus dan shampo Herbal Essences telah menggunakan materi daur-ulang.

Dijelaskan olehnya, bahwa setelah produk selesai dipakai, konsumen dapat menyetor kemasannya untuk didaur-ulang via aplikasi digital Octopus melalui program P&G Conscious Living, yang merupakan pelopor program ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah kemasan plastik sachet dan HDPE. Sembari menciptakan dampak sosial, program P&G Conscious Living juga turut memberikan dampak sosial dengan memberdayakan ribuan Pelestari (yang dulu dikenal sebagai “pemulung” secara ekonomis, membantu mereka mendapat penghasilan tambahan hingga Rp 800,000 per bulan.

Dengan semangat inovasi tersebut, P&G membuka kesempatan kolaborasi dengan berbagai pihak. Mulai tahun 2021, P&G merangkul Pemerintah Jawa Barat dalam memulai program Conscious Living. Selanjutnya, P&G Indonesia melakukan ekspansi program ke wilayah DKI Jakarta, dimana kolaborasi tersebut didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, karena sejalan dengan program yang telah dijalankan pemerintah yaitu Program Sampah Tanggung Jawab Bersama (Samtama).

Selain dengan pemerintah, P&G melalui program Conscious Living berkolaborasi dengan Super Indo, sejak tahun 2022.

“Sebagai supermarket yang peduli terhadap lingkungan, kami memiliki semangat yang sama dengan P&G lewat ambisi kami dalam hal penanganan sampah melalui program ‘Zero to Landfill’ Kolaborasi kami bersama P&G menghasilkan Program Conscious City di Jawa Barat dan Jakarta yang sudah berjalan selama dua tahun dan telah memberikan dampak positif bagi pertumbuhan bisnis serta mengakselerasi upaya ekonomi sirkular kami. Ke depannya, kami berharap program kolaborasi kami bersama P&G dan Octopus dapat terus mendorong terciptanya ekonomi sirkular melalui pemberdayaan Pelestari,” ujar Donny Ardianta Passa selaku Vice President of Buying & Inderect Procurement Super Indo.

Program P&G Conscious Living berjalan dengan dukungan Octopus, startup agregator sampah. Dalam kerjasama yang telah terjalin sejak 2021, konsumen dapat mengumpulkan sampah kemasan sachet atau multilayer serta plastik HDPE dari produk-produk P&G, untuk distorkan lewat Octopus. Konsumen kemudian mendapatkan insentif berupa poin yang dapat ditukarkan dengan pulsa, token listrik, voucher kopi, dan lain-lain, sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi mereka dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Moehammad Ichsan, CEO Octopus Indonesia menyatakan, “Bersama P&G, kami optimis melihat antusiasme masyarakat terhadap program Conscious Living yang menjadi semakin lebih besar, serta memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat, di antaranya adalah konsumen, pelestari, dan bank sampah lokal. Kami menyadari betul bahwa kesadaran masyarakat terhadap pengolahan sampah plastik masih kurang, namun melalui kolaborasi bersama P&G, kami yakin dapat terus mengembangkan berbagai inovasi lewat program Conscious Living, sehingga semakin banyak elemen masyarakat yang dapat berpartisipasi dan mengambil bagian aktif dalam gerakan ekonomi sirkular.”

Dalam catatan Octopus Indinesia, bahwa sejak dimulainya program ini pada tahun 2021 hingga Agustus 2023, mencatat pencapaian yang luar biasa. Sebanyak lebih dari 250 ton sampah plastik dikumpulkan dengan melibatkan sekitar 2,500 bank sampah lokal. Tercatat kurang lebih 70,000 konsumen telah berpartisipasi dalam program ini.

Tidak hanya itu, program ini juga telah memberdayakan sekitar 10,000 Pelestari dari beragam latar belakang seperti ibu rumah tangga, ojek online, dan lainnya, dengan memberikan mereka kesempatan tambahan penghasilan hingga Rp 800,000 per bulan. Uniknya, dari jumlah keseluruhan Pelestari tersebut, sekitar 5,400 orang adalah perempuan dan kurang lebih 870 Pelestari adalah orang yang hidup dengan disabilitas.

Ke depannya, P&G Indonesia akan terus berinovasi dalam menciptakan ekonomi sirkular dan mengintegrasikan elemen keberlanjutan di berbagai sendi bisnisnya, jelas Ramaswamy.

Indonesia Sustainability Forum (ISF) 2023 sendiri merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dan Kamar Dagang Indonesia (KADIN). Berlangsung di pada 7-8 September 2023 di Park Hyatt, Jakarta. P&G menjadi satusatunya perusahaan dari sektor FMCG yang diberikan kesempatan menjadi Knowledge Partner pada acara tersebut untuk menggelar sesi tematik dengan judul, “Keberlanjutan Lingkungan dan Ekonomi Sirkular sebagai Standar Bisnis Baru.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini