Mata uang dolar diperdagangkan menguat setelah Jumat lalu bergerak ke level terendahnya akibat data ketenagakerjaan AS tidak sesuai harapan. Berikutnya pasar akan mengalihkan fokus ke data inflasi AS dan China yang akan rilis minggu ini.

Eksposisinews – Penguatan dolar hari ini dipicu oleh perkiraan pasar akan kenaikan upah dan turunnya tingkat pengangguran di negara Paman Sam tersebut. Jika mengacu pada data yang sudah ada, the Fed diperkirakan akan mempertahankan kenaikan suku bunga lebih lama lagi.

Pasar memperkirakan data inflasi AS yang akan rilis esok, menunjukkan inflasi inti di level 4,7% per tahun di Juli. Pergerakan dolar diperkirakan masih positif karena secara fundamental (pertumbuhan) AS masih baik. Tapi perlu diwaspadai jika data Consumer Price Index di atas ekspektasi.

Dari Eropa, euro diperdagangkan melemah setelah data Produksi Industri Jerman turun tajam dibanding perkiraan di Juni. Hasil ini menguatkan dugaan pasar bahwa Jerman sedang mengalami pelemahan ekonomi. Terhadap dolar, euro terperosok 0,34% menjadi $1,0975, bergerak menuju ke level terendah dalam satu bulan terakhir.

Mengacu pada data produksi industri, kemungkinan besar ECB akan menaikkan suku bunga.

Beralih ke China, data inflasi bulan Juli akan rilis hari Rabu besok dan pasar melihat tanda-tanda deflasi melanda negara Tirai Bambu itu. Salah satu indikatornya adalah tertahannya harga konsumen di bulan Juni.

Dengan adanya dukungan dari pemerintah, sepertinya perekonomian China masih aman dan belum akan terperosok dalam jangka pendek ini.

Yuan diperdagangkan melemah terhadap dolar 0,2% pada level 7,2012 per dolar. Yen melemah 0,44% menjadi 142,38 per dolar setelah di sesi Asia tadi siang tembus 141,52 per dolar.

Poundsterling juga ikut-ikutan melemah 0,15% menjadi $1,2732 setelah Bank of England menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 5,25%.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini