Federal Reserve anggap inflasi hanya sementara saja

Dolar sematkan harapan pada isyarat dari pernyataan kebijakan Federal Reserve AS dan pidato Presiden Joe Biden pada hari Rabu. Dolar saat ini dalam upaya untuk memperpanjang pemulihan dari level terendah delapan minggu yang dicapai pada awal pekan ini terhadap mata uang mayoritas.

Indeks dolar terpantau diperdagangkan pada level 90,968, bangkit dari level terendah pada Senin di 90,679, yang merupakan level terendah sejak 3 Maret. Investor pun merasa tidak yakin apakah tren penurunan yang terbentuk sejak akhir Maret bisa berakhir.

Penurunan greenback ini cenderung disebabkan oleh surutnya keyakinan bahwa Federal Reserve dapat mulai meletakkan dasar pengetatan kebijakan masa depan segera setelah ekonomi AS pulih dengan cepat. Pada Rabu hari ini, bank sentral AS pun secara luas diyakini masih akan mempertahankan pengaturan kebijakannya dan Ketua Fed Jerome Powell tampaknya juga masih akan menyampaikan pesan dovish yang sama.

Namun demikian, ada beberapa analis mengatakan tanda-tanda meningkatnya ekspektasi inflasi dapat mendorong The Fed untuk meninggalkan retorikanya bahwa pengetatan kebijakan masih jauh. Ekspektasi inflasi investor, yang diukur dengan tingkat Break-Even Inflation (BEI) yang dihitung dari obligasi AS yang terkait dengan inflasi, naik di atas 2,40% pada hari Selasa, level tertinggi sejak 2013.

Dapat dikatakan, kenaikan BEI di atas 2% ini adalah sesuatu yang diharapkan oleh Federal Reserve. Namun, yang menjadi kekhawatiran adalah, jika terlalu berlebihan, itu justru meningkatkan kewaspadaan bagi The Fed. The Fed mungkin tidak akan dapat mengabaikan kenaikan BEI di atas 2,5%.

Pada tahun lalu, Federal Reserve mengatakan mereka berniat untuk membawa inflasi rata-rata menjadi sekitar 2% dan memungkinkannya melampaui di atas 2%, dibanding mencoba membatasi inflasi sekitar 2%.

Selain Fed, para pelaku pasar juga menantikan pidato pertama Presiden Biden untuk sesi Kongres gabungan, yang juga dijadwalkan pada hari Rabu. Biden diperkirakan akan meluncurkan rencana kenaikan pajak pada orang Amerika terkaya, termasuk kenaikan pungutan terbesar yang pernah ada atas keuntungan investasi, untuk mendanai sekitar $1 triliun dalam perawatan anak.

Laporan berita tentang rencana kenaikan pajak Biden tersebut melengkungkan risk appetite pasar hanya sebentar pada hari Jumat tetapi analis berpikir mungkin ada reaksi yang lebih besar jika rencana tersebut menjadi lebih konkret.

“Selain kebijakan pajak yang muncul kembali sebagai fokus pasar, sikapnya terhadap diplomasi harus menarik perhatian mengingat ketegangan baru-baru ini dengan China dan Rusia,” ungkap ahli strategi senior Barclays, Shinichiro Kadota.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here