Dolar AS
Eksposisinews – Dolar AS terus menunjukka kekuatannya sejak awal perdagangan sesi Senin, rebound dari level terendah satu minggu di pekan lalu. Penguatan dolar AS ini tak lepas dari naiknya imbal hasil obligasi acuan AS yang mencapai level tertinggi lebih dari satu tahun, imbas dari kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang juga masih terus mendera.

Kekhawatiran pasar cukup beralasan, karena pasar terus mewaspadai stimulus fiskal dan permintaan konsumen yang diyakini akan menyebabkan lonjakan inflasi karena kampanye vaksinasi yang berpeluang mengakhiri masa lockdown.

Percepatan vaksinasi di AS atas dorongan Presiden AS, Joe Biden di semua setiap negara bagian agar semua orang dewasa memenuhi syarat untuk vaksinasi paling lambat 1 Mei.

Indeks dolar bertahan di sekitar level 91,84 sejak awal perdagangan London pada hari Senin, bahkan sempat sentuh level tertinggi pada November 2020 di 92,51 yang terakhir dicapai minggu lalu.

Yield Treasury acuan 10-tahun AS naik menjadi 1,6320% di hari Senin, mendekati level puncaknya 1,6420% yang dicapai di sesi Jumat, level dicapai pada bulan Februari. Kenaikan yield obligasi AS diperkirakan akan terus mendominasi pasar selama sepekan ini ditambah pasar menunggu pertemuan Federal Reserve di mana beberapa analis memperkirakan the Fed akan memberikan nada optimis terhadap ekonomi AS.

Inflasi tingkat produsen AS mengalami kenaikan tahunan terbesar di hampir 2 setengah tahun, data menunjukkan pada hari Jumat. Ini terjadi, bahkan, sebelum ekonomi AS mendapatkan suntikan besar dari paket stimulus Presiden Joe Biden sebesar $1,9 triliun.

Dolar AS juga mendapat kekuatan dari lemahnya proyeksi bearish terhadap dolar, di mana para spekulan memotong posisi jual bersih ke level terendah sejak pertengahan November di pekan yang berakhir 9 Maret, menurut perhitungan oleh Reuters dan data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS yang dirilis pada hari Jumat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here