SukkhaCitta, sebuah UMKM di industri fashion yang peduli kelangsungan lingkungan dan pemberdayaan wanita, menggelar pameran KAPAS selama sebulan di Jakarta. Lewat ajang ini, SukkhaCitta ingin membangun kesadaran masyarakat akan isu lingkungan di industri fashion. Diceritakan dalam pameran ini bagaimana proses pembuatan pakaian, dan memperlihatkan cara yang lebih ramah lingkungan untuk menghasilkan dampak positif, yaitu melalui Tumpang Sari, sebuah teknik pertanian regeneratif, warisan leluhur Indonesia yang memerhatikan keberlangsungan lingkungan.

Pergerakan kampanye isu lingkungan atau sustainability pada industri tekstil dan pakaian kini semakin matang, progresif, dan bergerak ke arah yang lebih baik. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya desainer, perusahaan, dan brand besar terus menggaungkan konsep sustainable fashion. Berdasarkan laporan South East Asia Fashion Sustainability 2021, kawasan Asia Tenggara memiliki potensi yang besar untuk memimpin perubahan masa depan industri fashion yang lebih memperhatikan aspek lingkungan serta sosial. Di Indonesia sendiri, kesadaran publik akan sustainable fashion kian bertumbuh di mana banyak generasi muda yang semakin peduli akan pentingnya menjaga lingkungan dan berusaha melakukan green buying.

Founder SukkhaCitta Denica Riadini-Flesch mengatakan, “Bukan rahasia lagi bahwa industri fashion memang butuh berbagai pembaharuan agar bisa terus bertumbuh dan memberikan dampak positif kepada masyarakat. Hingga saat ini, industri fashion menyumbang sebesar 10% dari emisi karbon global dan hanya kurang dari 2% pekerja di bidang tersebut mendapatkan penghasilan yang layak. Untuk itulah, SukkhaCitta hadir di Indonesia untuk memberdayakan perempuan di daerah perkampungan Jawa Tengah dan Jawa Timur sembari membangun industri busana yang lebih hijau dan ramah bagi dunia.”

“Melalui pameran KAPAS ini, kami hendak mengajak masyarakat untuk menyaksikan perjalanan ketika kami diperkenalkan dengan kearifan lokal nenek moyang kita dari petani-petani kapas yang sudah semakin sedikit di Indonesia. Kami ingin memperkenalkan metode Tumpang Sari yang bukan hanya ramah lingkungan namun juga dapat memaksimalkan produksi kapas. Kita dapat berkaca pada kisah Ibu Kasmini yang setelah menerapkan metode Tumpang Sari, kini beliau tidak perlu lagi membeli bahan kimia yang mahal dan beliau pun bisa mendapatkan hasil panen sebanyak enam kali lipat dari jumlah panen sebelumnya,” jelas Denica.

Sejak tahun 2016, kehadiran SukkhaCitta telah memberikan dampak pada lebih dari 1.400 kaum perempuan di seluruh Indonesia. Dengan akses pasar yang lebih adil, SukkhaCitta juga telah sukses membangun kesejahteraan masyarakat lewat peningkatan penghasilan dari pengrajin dan petani kecil binaannya sebesar 60%. Tidak hanya itu, pelatihan pewarnaan alam dan daur ulang yang secara konsisten terus dilakukan telah mencegah lebih dari 1,2 juta liter air terkontaminasi dengan limbah beracun, di mana saat ini SukkhaCitta telah meregenerasi 20 hektar tanah gersang melalui program penghijauan dan penanaman hutan serta pertanian regeneratif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here