Darmono Taniwiryono, Ketua Umum Masyarakat Perkelapa Sawitan Indonesia (MAKSI). (Linkedin)

EksposisiNews, Jakarta – Kelapa sawit, komoditas primadona dunia yang bernilai strategis bagi perekonomian Indonesia. Dari data United States Department of Agriculture (USDA), Indonesia merupakan produsen sawit no.1 dunia, mengungguli Malaysia dan Thailand. Nilai proyeksi CPO mencapai 45,5 juta metric ton (MT) pada periode 2022-2023.

Kontribusi produk sawit dari Indonesia ke dunia telah menyebar ke 150 negara, hampir 60% produk sawit Indonesia telah menguasai pangsa pasar dunia. Dari sisi perekonomian nasional, sawit menyumbang sebesar 3,5% pertumbuhan ekonomi nasional dari devisa non migas. Angka penyerapan tenaga kerja di sektor ini pun menjadi andalan, yaitu 2,3 juta petani kecil dan 14 juta tenaga kerja baik secara langsung maupun menyebar di industri-industri turunan seperti pangan dan kosmetik ini.

Di tengah sejumlah permasalahan yang membelit, industri sawit memiliki peluang yang besar bagi perekonomian Indonesia. Menurut Ketua Umum Masyarakat Perkelapa Sawitan Indonesia (MAKSI) Darmono Taniwiryono, bahwa program hilirisasi sawit perlu diwujudkan dalam cetak biru yang jelas. Hal ini  karena potensi industri kelapa sawit nasional berpeluang menjadikan Indonesia sebagai pusat industri pengolahan sawit global.

Pandangan demikian disampaikan oleh Taniwiryono dalam Agrofood Expo 2023 di Jakarta pada Jumat (11/08/2023). Kegiatan yang menjadi ajang kampanye gerakan cinta sawit untuk Indonesia Sehat, Cerdas dan Tangguh. Ia berharap event ini juga bisa mendorong pelaku Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) mengembangkan inovasi produk pangan dari bahan olahan sawit.

Melalui MAKSI, Taniwiryono berkomitmen akan terus  menyosialisasikan sekaligus meningkatkan riset dengan  bekerja sama pada lembaga terkait. Ia berharap dapat bersama-sama mengangkat marwah minyak sawit yang tidak bisa dipandang remeh.

Menurut Taniwryono, selama ini kita familiar dengan produk olahan sawit menjadi minyak goreng, padahal inovasi yang dikembangkan dari sawit sudah beragam, seperti Virgin Red Palm Oil (VRPO), mie instan, rendang sawit dan kue olahan lain seperti bolu, kue kering dan roti. Minyak sawit sendiri mengandung betakaroten dan Vitamin E dalam konsentrasi yang tinggi serta Co-Q10, likopen, DAG, MAG, dan ALB, rendah Omega 6, tidak mengandung kolesterol, transfat, 3-MCPD dan GE. Selain itu, kelapa sawit juga mengandung sejumlah nutrisi dan diversifikasi pengolahannya menjadi produk pangan yang bergizi tinggi.

Ia menceritakan pengalamannya sewaktu berkunjung ke Afrika dan melihat masyarakat setempat mengonsumsi minyak sawit merah yang tidak melalui proses rafinasi dan deodorisasi. Dari  pengamatannya, ia menemukan fakta, bahwa orang Afrika jarang menggunakan kacamata. Bila menelusuri sejarah, sejak 5000 tahun lalu, orang-orang Afrika Barat, tempat sawit berasal, mengonsumsi minyak sawit dalam bentuk produk yang tidak dirafinasi, tidak difraksinasi, dan tidak di-degumming. Mereka juga memprosesnya dengan suhu yang tidak tinggi. Dengan demikian pada hakikatnya mereka mengonsumsi virgin palm oil (VPO) dengan tekstur menyerupai pasta, karena mengandung lemak jenuh. 

Dijelaskan olehnya bahwa lemak jenuh di dalam minyak sawit sangatlah bagus bagi tubuh manusia. Secara tidak disadari, masyarakat mengonsumsi virgin coconut oil yang kadar lemak jenuhnya mencapai 90%. Di dalam Air Susu Ibu (ASI), kadar lemak jenuh mencapai 37%.

“Masyarakat seharusnya tidak perlu takut mengonsumsi lemak jenuh karena sedari kecil sudah ada dalam tubuh melalui ASI,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini