Dunia entertainment selalu melahirkan talenta hebat berbakat yang punya tekad kuat untuk tetap semangat berkarya seperti Agilang Sastra Wijaya. Ia termasuk artis matang yang dapat gemblengan di jalanan. Semua orang tentu membutuhkan proses dan ia sudah melewatinya, tinggal memetik buah dari jerih payah yang dilakukan selama ini,

“Dari sejak balita saya suka seni, menurut versi saya seni itu suci. Di samping itu saya sangat suka menghibur orang-orang walau kadang hati saya sendiri sedang galau sedih ya tersenyum untuk semua orang, “ kata Agilang Sastra Wijaya saat dihubungi, Selasa (24/12/2019).

Lelaki kelahiran Banjar Patroman, 23 Oktober 1983, itu mengaku suara dirinya biasa saja, tapi kata orang suaranya berkarakter. Setiap ada hajatan ia tampil menghibur ikhlas dikasih “Alhamdulillah tidak punya nggak apa-apa upahnya makan di hajatan. Setelah keluar sekolah saya merantau ke Tanggerang karena saya tidak ingin menyusahkan orang tua walau pun bapak saya seorang pegawai lurah, “ ungkap pemilik nama asli Apep Saepunagar mantap.

Dengan modal gitar dan uang 20 ribu, kata Agilang, ia bersyukur sampai di Tangerang, meski kemudian ia melamar kerja tidak ada satu pun yang terima. “Lalu, saya berjualan di sekolah. Namun, baru dua hari jualan dagangannya diambil satpol PP, dimana  rasa putus asa ada pada saat itu, perut lapar, tidur pun numpang tempat kawan, “ kenang Agilang.

Besoknya, lanjut Agilang, ia memutuskan ngamen di jalur bus Tanggerang – Tanah Abang dan ngamen di Kereta Tanah Abang – Rangkas Bitung, dimana ia ngamen untuk mencari pengalaman dan mencari jati diri. “Banyak hal, sedih, duka, lara, bahagia itu adalah ilmu yang tidak pernah ada di bangku sekolah, test mental. Saya banyak mendapatkan ilmu positif dan prihatin di jalanan. Saat ngamen saya bertemu Almarhum Dedi Dores, Mbah Surip, Semmy Legge dan keluarga film Vitra Jaya Burnama. Beliau adalah orang-orang yang baik dan berjasa dalam hidup saya mereka bijaksana, “ papar duda beranak satu bernama Annisa Ismatul Khoirriyyah.

Agilang menyebut ibu, bapak, saudara, kawan-kawan, dan almarhum Dedi Dores, Mbah Surip, juga Semmy Legge yang memotivasi dirinya terjun dalam dunia nyanyi. “Sungguh mereka sangat berpengaruh dalam hidup saya, “ ujar anak pasangan Elis Cholisoh dan Lurah Dayat Sujani.

Dapat Gemblengan di Jalanan, Agilang Sastra Wijaya Tetap Semangat Berkarya 1

Selain nyanyi, Agilang juga mencipta lagu sendiri, bahwasannya menciptakan lagu niatnya bukan untuk nyombong, tapi niat berkarya tulus sungguh-sungguh untuk menghibur hati sendiri dan menghibur keluarga, teman-teman, juga untuk semua orang dan yang paling penting Indonesia selalu eksis jaya dengan prestasi-prestasi asli karya orang Indonesia. “Setidaknya setelah saya tiada di dunia ini, saya sudah menanam sesuatu hal yang positif untuk semua orang dan dapat berguna berkah untuk semua orang, “ kata Agilang penuh percaya diri.

Adapun, proses kreatifnya dalam menciptakan lagu. “Saya dapat ide not lirik dalam selintas lalu saya rekam di memori benak, kemudian saya kawinkan dengan syair perasaan isi hati saya yang pada saat itu terciptalah karya lagu dan saya ulang-uloang revisi nyanyi seperti orang gila tak sadar instan bernyanyi sendiri lepas kontrol, “ urai Agilang tentang proses kreatifnya.

Selain nyanyi, puisi dan film yang ingin Agilang geluti dalam dunia entertainmen. Dalam berpuisi, ia mengaku ngefans sama Rendra, sedangkan di film ia ngefans sama gurunya, yaitu Edy S. Jonathan, sutradara action senior, karena berkat di film beliaulah namanya muncul di layar kaca dan belakang layar. “Karir di film, saya mengawali mulai jadi faighter, peran pembantu. Lalu, saya masuk di belakang layar jadi skrip, asisten boomer, asisten camera, astrada, co-sutradara, hingga satu tahapan lagi, yaitu sutradara, “ paparnya.

Agilang sangat bersyukur dukungan keluarga terhadap kariernya dalam berkesenian. “Puji syukur Alhamdulillah, ibu, almarhum bapak saya Lurah Dayat, juga saudara, kawan-kawan, almarhum Dedi Dores, almarhum Mbah Surip, Semmy Legge. Semua men-support saya, hanya satu yang tidak mendukung karir seni saya, yaitu istri saya yang sekarang sudah jadi mantan istri, “ bebernya.

Pandangan Agilang, dunia nyanyi zaman sekarang lebih praktis ketimbang zaman dulu, teknologi digital bagus modern tapi semakin mudah pula pembajak untuk membajak. “Meski demikian, saya terus berkarya, ya versi saya silahkan saja dibajak karya-karya saya, jika itu berguna dan bermanfaat buat dirinya dan yang lainnya. Saya ikhlas karena yang tidak boleh itu mengganti nama hak cipta, itu saya tidak suka,” tegasnya tenang.  

Dulu produser yang mencari penyanyi, sekarang penyanyi yang mencari produser. Zaman memang sudah berubah, berbagai lomba pun diselenggarakan dimana-mana bagus untuk generasi penerus. “Alhamdulillah karir saya di dunia hiburan sudah berada di puncaknya, tinggal menunggu hokky keberuntungan, semoga tahun 2020 perjalanan karir saya meningkat dari proses prestasi, ya kalau dengan faktor u mungkin sudah dari dulu top, karena saya mengawali karir di jalan, “ katanya.

Harapan Agilang terjun dunia nyanyi. “Jika ditakdirkan karya-karya saya meledak hasil berlimpah maka 50% saya ingin buat bangun mesjid dan biaya anak yatim piatu, “ harapannya.

Adapun, obsesi Agilang ingin seperti guru inspirasinya, Iwan fals dan almarhum Dedi Dores. “Tekad, semangat, optimis 100% semua bidang seni yang saya lakoni,” pungkas Agilang sumringah dan tetap semangat berkarya.

Dapat Gemblengan di Jalanan, Agilang Sastra Wijaya Tetap Semangat Berkarya 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here