EksposisiNews – Semakin mendekati Pemilu 2024 tampak calon legislatif (caleg) semakin gencar dengan program kampanye terbaiknya. Begitu juga dengan Nova Ernny Rumondo, SH., Caleg DPR RI, Daerah Pemilihan (Dapil) Nusa Tenggara Timur (NTT) 1, yang tergerak maju menjadi caleg dengan misi besar untuk rakyat miskin dan anak-anak termarjinalkan dengan program ‘Orang Miskin dan Anak Terlantar dipelihara oleh Negara’

“Saya secara tidak langsung sudah lama dan sudah sejak muda tertarik dan terlibat dalam dunia politik, karena sering menjadi pengurus dan aktifis di organisasi-organisasi nasional, namun saya terpanggil untuk terjun langsung dalam dunia politik praktis bermula ketika Jokowi mau jadi Capres dimana saya jadi Relawan dan Bendahara Umum dari Seknas Jokowi DKI Jakarta dan relawan di PDIP, serta sebagai Ketua Umum Komite Suara Perempuan Indonesia (KSPI), “ kata Nova Ernny Rumondor, SH., menuturkan awal ketertarikannya pada dunia politik, Minggu (1/10/2023)

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Manado, 27 Agustus 1970, itu menerangkan dirinya kemudian juga terlibat dalam Timses Pilkada DKI Ahok-Jarot. “Saat itu saya memang sudah sering diminta senior-senior saya di PDIP untuk ikut jadi Caleg tapi  saat itu saya menolak karena  lebih senang terlibat sebagai relawan dan panggilan saya sebagai aktifis pemberdayaan hak-hak Perempuan dan Anak, “ terang Wakil Bendahara Umum 3 di Aliansi Bersatu Anti SARA (ABAS).

Menurut Nova, Pemilu DPR-RI 2024-2029 ia tergerak untuk maju jadi Caleg karena PDIP  membawa misi besar untuk rakyat miskin dan anak-anak termarjinalkan dengan program ‘Orang Miskin dan Anak Terlantar dipelihara oleh Negara’ “dan ini memang cita-cita mulia PDIP dan sebagai aktifis Perempuan dan Anak serta Ketum KSPI dan kader PDIP saya harus terlibat langsung sesuai amanah Ibu Ketum Megawati Soekarnoputri, “ ungkapnya mantap.

Nova menyampaikan sosok para mendukungnya terjun di dunia politik, terus terang sebagai Aktifis Perempuan dan Anak  tentu yang mendukung dirinya terjun di dunia politik selain keluarga adalah senior-seniornya di PDIP Pusat maupun NTT, serta teman-teman di organisasi-organisasi, dan aktifis lainnya, “terlebih lagi ketika saya turun ke lapangan, masyarakat menerima saya dengan tangan terbuka ini juga salah satu yang mendorong saya, “ bebernya begitu sangat bersemangat.

Perkembangan proses nyaleg sekarang, kata Nova, memang ia mengikuti agenda KPU menunggu DCT dan juga mengikuti Instruksi dari DPP PDIP di mana sekarang ini ia lagi Rakernas, “namun demikian saya juga sudah turun ke masyarakat dan berterima kasih karena masyarakat menyambut saya dengan baik, “ tuturnya penuh rasa syukur.

Nova menceritakan awalnya ia sampai bergabung dengan PDIP, sebagaimana disampaikan awalnya ia lebih banyak di dunia aktifis, dan menjadi relawan di bawah PDIP, dan beberapa kali diminta untuk Caleg dirinya belum tergerak hatinya karena lebih senang jadi relawan, “namun Pemilu 2024-2029 ini PDIP membawa misi yang luar biasa dan sesuai dengan panggilan saya sebagai Aktifis Perempuan dan Anak, dan sesuai amanah Ketum PDIP agar bergerak bersama, maka saya pikir inilah waktunya, saya terjun langsung memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak di NTT bidang kesejahteraan, kesehatan, Pendidikan dan olahraga agar makmur sejajar dengan Jakarta, “ paparnya.

Suka duka Nova selama menggeluti dunia politik tentu banyak, tetapi karena misinya untuk memperjuangkan hak Perempuan dan Anak maka ia tidak perdulikan lagi dukanya, sebagai aktifis ia sudah bertekad harus ada yang memperjuangkan  hak-hak Perempuan dan Anak di NTT. “Saya rindu melihat generasi muda NTT berkiprah bukan saja nasional tetapi juga di tingkat Global karena pendidikannya mumpuni, termasuk bidang olahraga serta perempuan dan keluarga-keluarga sehat sejahtera sesuai amanah konstitusi, “ tuturnya penuh haru.

Saat ditanya, pengalaman apa yang paling berkesan selama menggeluti dunia politik? Dengan tenang, Nova memberikan jawaban, “Pengalaman yang berkesan sebagai relawan adalah ketika Pemilu Capres 2019 Jokowi mau deklarasi di UGM Jogja, dari Jakarta saya berangkat satu mobil bersama pak Amin Ketua Umum Seknas Jokowi yang juga merupakan ketua DPP PDIP, beliau tiba-tiba sakit di mobil dan karena sepanjang perjalanan darat tidak ketemu rumah sakit, beliau meninggal tepat di depan saya di mobil, padahal seharusnya beliau yang menjadi pembaca deklarasi tersebut, besoknya ketika Jokowi, mba Puan, dan Mahfud M.D. melayat akhirnya menanyakan kronologis, dan kalau saya lihat pak Amin Ketum Seknas Jokowi terlalu memporsir memperjuangkan Jokowi sampai lupa kesehatannya.“

Pendapat Nova tentang dunia politik sekarang adalah pertarungan politik antara Pihak yang mau mempertahankan Kemapanan dan Pihak yang mau memperjuangkan Orang Miskin dan Anak terlantar, jadi masyarakat harus waspada memilih, karena kalau salah memilih akibatnya Orang Miskin dan Anak Terlantar akan kembali menjadi pelengkap penderita di bangsa ini, “karena itu ketika bu Megawati Ketum PDIP membawa misi besar di mana  Orang Miskin dan Anak terlantar dipelihara Negara dan juga ketahanan pangan, maka dari misi ini sudah jelas kelihatan politik yang dibawah PDIP adalah memperjuangkan hak-hak orang-orang yang terpinggirkan ini yang menjadi catatan penting bagi kita semua, “ ucap Nova mengingatkan.

Obsesi Nova menggeluti dunia poltik tidak muluk-muluk karena ia hanya ingin melihat orang-orang Miskin terlantar mendapat hak-haknya, saya ingin mereka diberi kesempatan, dididik, dituntun di segala bidang, “jangan biarkan masyarakat Miskin dan anak-anak itu mencari jalan sendiri, tetapi pemerintah harus hadir disegala bidang, apalagi NTT itu punya potensi tinggi di segala bidang termasuk di bidang olahraga, “ tegasnya.

Harapan Nova di masa depan dalam dunia politik, ia ingin melihat semakin banyak lagi perempuan-perempuan Indonesia terlebih lagi perempuan NTT terjun di dunia politik. “Saya juga ingin melihat orang NTT berkiprah dalam dunia politik nasional maupun global karena itu bukan sesuatu yang mustahil menurut hemat saya, “ harapannya.

Adapun, tanggapan Nova tentang Aliansi Bersatu Anti SARA (ABAS), bahwasannya salah satu yang menarik dari Negara Indonesia yang tidak didapati di Negara lain adalah Indonesia itu Negara Pluralisme karena terdiri dari berbagai Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) dan ini sesuatu anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, tetapi bukannya mensyukuri pluralism tersebut sebagai suatu anugerah, malah banyak yang kebakaran jenggot dan selalu mempersoalkan masalah  SARA di bangsa ini, dan gerakan-gerakan ini bisa memporak-porandakan Indonesia, sehingga harus dilawan.

“Untuk itu berdirinya ABAS yang Ketua Umumnya Boyke Djohan di mana saya juga sebagai Wabendum 3, merupakan upaya masyarakat untuk bersatu melawan kelompok-kelompok intoleran, dan menurut hemat saya figur Boyke Djohan Ketum ABAS memang yang paling tepat untuk itu karena Pancasilais dan NKRI tulen, “ pungkas Nova optimis.

Perlu diketahui, ABAS adalah sebuah ormas besutan Boyke Djohan dengan para pengurus, diantaranya, Habib Kribo, Ananda Sukarlan, Rapindo Hutagalung, Solo Simanjuntak, Irjen Pol (Purn) Benny Mokalu, Sonny Tulung, Ferdinand Hutahaean, Iwan Diah, Astrid Esther, Eliza M Permatasari, Bucek Depp, Sandy Nayoan, Novie Bule, Tarida Ali Sastroamidjojo, Burhan Abe, Dede Rully, Peter F Momor, dan lain-lain. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini