Bursa saham Asia

EksposisiNews, Jakarta – Bursa Saham Asia memulai awal yang beragam pada perdagangan di hari Senin (06/09/2021) karena laporan penggajian AS yang mengecewakan berjanji untuk menjaga kebijakan di sana sangat longgar lebih lama, tetapi juga mengaburkan prospek pertumbuhan global dan inflasi.

Tutupnya bursa saham AS pada hari ini juga membuat perdagangan di sesi Asia berlangsung tipis. Tak heran bila indek MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tetap datar di awal perdagangan. Indek Nikkei Jepang naik 1,7%, tetapi indek KOSPI Korea Selatan turun 0,1%. Indek Nasdaq berjangka hampir tidak berubah, sementara Indek S&P 500 berjangka turun 0,1%.

Investor masih menilai dampak dari laporan penggajian September yang menunjukkan peningkatan pekerjaan yang jauh lebih kecil dari yang diharapkan, tetapi juga kenaikan upah. Hal ini sudah cukup untuk mendorong imbal hasil Treasury yang lebih lama lebih tinggi dan mempertajam kurva imbal hasil, bahkan ketika pasar berspekulasi Federal Reserve mungkin mulai meruncing nanti.

Melambatnya sektor ketenagakerjaan AS pada bulan Agustus, dengan sedikit indikasi kenaikan pasokan tenaga kerja. Ini menempatkan The Fed dalam kebingungan karena menyeimbangkan risiko pelambatan permintaan yang tajam terhadap pasokan dan inflasi yang ketat.

Awalnya diyakini bahwa Fed akan memberi sinyal soal tapering pada September ini. Namun dengan hasil NFP tersebut keyakinan ini menipis, dan berharap ada kejelasan pada bulan Desember nanti, dan bukan November. QE sendiri kemungkinan akan diakhiri pada pertengahan 2022.

Kenaikan imbal hasil 10-tahun AS menjadi 1,32% membatasi beberapa tekanan pada dolar dari angka gaji yang buruk, meskipun indeksnya masih menyentuh level terendah satu bulan sebelum stabil di 92,128.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here