Ilustrasi sekolah peran. Kredit foto internet.

EksposisiNews – Prosa Akting School, salah satu sekolah pelatihan akting, yang direkomendasikan dapat mencetak SDM yang baik dalam berkarir dunia perfilman Indonesia dengan metode-nya yang ampuh bernama Breaking the wall. Buktinya, Mugi, salah satu siswa Prosa Akting School, yang baru pertemuan keenam, sudah merasakan keampuhan metode pelatihan tersebut.

“Prosa Akting School sudah ada dari tahun 2019, awalnya namanya Selasaan jadi latihannya setiap Selasa, pada saat kita membuat pementasan yang kedua drama musikal, kemudian tiba-tiba timbul ide, karena pertemuannya setiap Selasa jadi namanya Prosa, singkatannya Project Selasa, resmi berdirinya 9 Januari 2019, “ kata Pendiri Prosa Akting School Indra Pacique menuturkan awal berdirinya Prosa Acting School, kepada wartawan, di Prosa Akting School Jl. H. Samali No. 51, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kepada wartawan, Rabu (31/5/2023).

Lebih lanjut, lelaki yang akrab disapa Bang Pacique itu menerangkan, bahwa pendiri Prosa Akting School adalah ia sendiri, yang kemudian dikembangkan bersama dengan teman-teman yang mendukungnya.

“Banyak orang di belakang saya yang mendukung, “ bebernya bangga.

Menurut Bang Pacique, ia dan Dewi Margie, salah seorang mentor di Prosa Akting School latar belakangnya sama-sama kuliah di Universitas Sahid Jakarta.

“Kita ambil Jurusan Komunikasi, tapi kebanyakan main teater, jarang kuliah, jadi lulusnya lama, “ kenang Bang Pacique menceritakan totalitas dirinya dalam dunia akting dari kegiatan teater di kampusnya.

Bang Pacique menyampaikan, bahwa sekarang sudah batch 12, pesertanya setiap batch berjumlah 10 orang agar fokus memonitoring perkembangan setiap peserta supaya berhasil.

“Di setiap angkatan ada 12 kali pertemuan, termasuk 2 kali ujian, yaitu ujian dialog dan ujian monolog, saat ujian dialog ditonton dari komunitas Prosa dan keluarga peserta Prosa, tapi kalau ujian monolog, kita mengundang banyak orang kesini, ada casting director, produser, aktor-aktris ternama, penulis skenario, dan lain-lain,“ uraiannya.

Bang Pacique menyebut lulusan dari Prosa sekarang sudah mulai berkembang kariernya di dunia akting, baik film maupun sinetron.

“Doakan banyak yang sukses dan mendapat Piala Citra, “ tandasnya penuh harapan.

Sedangkan, Dewi Margie menyampaikan metode akting di Prosa Akting School.

“Silabusnya sudah dibuat oleh Indra Pacique, yaitu Breaking the wall, “ ungkapnya.

Lebih lanjut, mentor yang berwajah ayu dengan mimik penuh keseriusan itu menerangkan tentang metode akting Breaking the wall.

“Mereka yang masih kaku, kita bongkar dulu agar luwes, kemudian ke prakteknya. Ya, kita breaking dulu, kita hancurkan dulu dinding pada diri peserta, sampai peserta menyatakan bisa akting apa saja,” tandas Dewi Margie optimis.

Adapun, Mugi, salah satu siswa Prosa Akting School menyampaikan dari awal dirinya bergabung sampai tahap ujian dialog pada pertemuan keenam.

“Sebenarnya motivasi diri saya sendiri untuk mengetahui bagaimana cara mengolah emosi, “ kata Mugi menuturkan awal dirinya mengikuti latihan akting di Prosa Acting School.

Lebih lanjut, perempuan cantik bernama lengkap Mugiyati itu menerangkan, ada teman dari batch 10 yang menyarankan dirinya untuk bergabung dengan Prosa Acting School.

“Setelah itu saya konfirmasi dengan Bang Pacique, saya joint dan sekarang saya menikmati memang cukup mengolah emosi, “ terangnya penuh percaya diri.

Menurut Mugi, yang dirasakan lebih pada diri Mugi adalah tahu menempatkan emosi.

“Saya mau menjalani dunia akting karena menurut saya, akting adalah emosi yang ditempatkan di tempat yang tepat, “ungkapnya mantap.

Mugi menyampaikan dirinya banyak belajar pada Indra Pacique tentang dunia akting.

“Baru enam kali pertemuan, saya sudah menjiwai, nyaman banget, karena memang enak diikuti, “ bebernya.

Hari ini, kata Mugi, adalah ujian yang pertama.

“Ujiannya dialog berdua, saya beradu akting dengan Krystal, “ paparnya.

Mugi menyampaikan persiapannya untuk ujian adalah mental.

“Mereka mentoringnya supporting banget, profesional, siap mensharing apa yang harus dilakukan, dari tidak bisa akting menangis jadi bisa menangis, bahkan sampai kebanyakan menangis, “ uraiannya.

Mugi mengaku dirinya tipe orang yang bisa beradaptasi secepat mungkin. Setelah pertemuan kedua saja, ia sudah merasakan gregetnya. Pertemun berikutnya ia sudah sangat menjiwai.

“Memang awalnya agak sedikit canggung karena dunia akting memang dunia baru bagi saya, “ tegas.

Untuk dapat mendalami dunia akting, menurut Mugi, pertama dari diri sendiri, kemudian kedua dengan ia mendengarkan saja arahan dari mentor.

“Saya gali, saya olah dan saya gabung dengan apa yang diarahkan para mentor, dari situ saya mendobrak, dari diri saya yang awalnya pemalu dan percaya diri, tapi mentor bilang untuk breaking in the wall dari dalam diri saya untuk bisa keluar dari zona nyaman, “ ujarnya.

Yang jelas, kata Mugi, dari gelas kosong dulu, mau menerima.

“Yang pertama dari diri saya sendiri, kedua karena mentor-lah yang influence saya agar bisa berakting dengan baik, “

Belum lulus, kata Mugi, dirinya sudah ditawari untuk main film.

“Pertama, saya mensyukuri hidup, apapun yang dipelajari dari materi latihan akting yang diberikan mentor kepada saya dengan mensharing knowleg-nya. Kedua, orangtua yang mensupport. Ketiga, mencoba hal baru dari hidup, keluar dari zona nyaman. Pokoknya, fokus diri sendiri untuk selalu berkarya, “ Mugi menegaskan.

Obsesi dan harapan Mugi ke depan jika dirinya terkenal. “Hal itu tentu tak lepas dari Tuhan dengan saya selalu berkarya dan semoga Tuhan memberi jalan terbaik. Kalau terkenal, mudah-mudahan terkenal yang terbaik, membawa pesan yang terbaik jadi bisa sharing dengan orang-orang bisa mengambil hal positif, “ pungkas Mugi sumringah.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini