Image: LA Times

Eksposisinews – Pernyataan ketua the Fed Jerome Powel pada Jumat lalu cukup mengejutkan pasar dan mengindikasikan perekonomian AS dalam situasi labil.

Meski bursa saham AS berhasil pulih setelah sempat terperosok, tapi bukan berarti situasi akan membaik dalam beberapa minggu ke depan.

Jerome Powel dalam simposium kebijakan ekonomi Jackson Hole menyatakan bank sentral bersiap untuk menaikkan suku bunga sampai mereka yakin inflasi berada di level target yang sudah ditentukan, yaitu 2 persen.

Meski begitu, sang ketua juga tidak begitu yakin apakah kenaikan suku bunga berikutnya memang diperlukan karena efek dari kebijakan pengetatan sebelumnya belum menunjukkan efek berarti.

Bursa saham AS sempat dibuat lega setelah Nvidia melaporkan hasil pendapatan melebihi perkiraan. Faktor pendorongnya adalah meledaknya pendapatan dari sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Jumat lalu bursa saham AS ditutup positif dimana Dow Jones ditutup melemah 0,5%, S&P 500 menguat 0,8% dan Nasdaq Composite menguat 2,3%.

Minggu depan akan ada beberapa data penting yang berguna untuk melihat kondisi kesehatan ekonomi AS secara keseluruhan. Salah satunya data ketenagakerjaan dimana analis memperkirakan ada pertumbuhan lapangan kerja sekitar 175.000 di Agustus berbanding 187.000 di bulan lalu. The Fed memperkirakan tingkat pengangguran akan naik menjadi 4,1% di akhir 2023 berbanding prediksi sebesar 4,5% di Maret.

Sementara untuk data inflasi tahunan, diperkirakan naik menjadi 3,3% per tahun dibandingkan bulan lalu sebesar 3%. Harga konsumen diperkirakan naik tipis 0,2% di Juli. Core PCE juga diperkirakan naik tipis menjadi 4,2% berbanding 4,1%.

Menariknya beberapa investor menyatakan bahwa ekonomi AS memang melemah tapi bukan pada level terperosok sehingga ini adalah pertanda kenaikan suku bunga the Fed sudah cukup.

Jerome Powel mengakui bahwa efek dari kebijakan pengetatan sebelumnya agak tersendat sehingga data positif (inflasi) selama dua bulan berturut-turut tidak cukup kuat untuk menetapkan tren. Efek kebijakan mulai terasa pada perekonomian tapi belum cukup meyakinkan sampai setidaknya empat minggu ke depan sehingga rapat pada September nanti pun mungkin belum akan membuahkan keputusan yang jelas.

Beredar spekulasi the Fed akan menaikkan suku bunga lagi dan efeknya pertumbuhan ekonomi semakin lambat dan menyebabkan resesi di 2024. Akan ada banyak tekanan selama bulan September nanti.

Efek terhadap bursa Asia

Hari ini bursa Asia dibuka positif dimana Nikkei diperdagangkan naik 1,32%, ASX Australia naik 0,47% dan Kospi Korsel menguat 0,67%. Penguatan ini tentu saja dipengaruhi hasil positif bursa saham AS Jumat lalu.

Yang perlu diwaspadai adalah bursa China dimana pemerintah Tiongkok sekali lagi akan melakukan intervensi. Meski langkah ini mendapat respon positif tapi dibutuhkan kepastian tentang kekuatan ekonomi China agar investor semakin yakin di jangka panjang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini