EKSPOSISI NEWS, Jakarta – Harga emas beringsut lebih tinggi pada perdagangan di hari Kamis (13/07/2023) sementara Greenback terus melemah karena data terus mendikte sentimen pasar. Imbal hasil Treasury AS adalah pendorong laporan lain yang menunjukkan tekanan harga AS yang melambat, mendorong investor untuk menambah risiko.

Dorongan kenaikan harga Emas yang memang sudah bersinar atas laporan inflasi Amerika Serikat, menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen naik hanya 3% tahunan di bulan Juni, turun dari tingkat 4% di bulan Mei. Pada hari Kamis, laporan menunjukkan bahwa tekanan harga terbukti telah mereda di bulan Juni, dimana indeks Harga Produsen naik 0,1% secara tahunan dari 1,1% di bulan Mei.

Indek Dolar AS (DXY) sudah turun selama enam hari berturut-turut dan diperdagangkan pada level terendah sejak April 2021 di dekat 99,97. Penutupan di bawah 100,00 ini diduga akan membuka risiko pengujian level terendah akhir Maret 2022 di dekat 97,685.

Sementara melihat ke imbal hasil Obligasi AS, tenor 2 tahun yang diperdagangkan serendah 4,622% hari ini dan telah turun hampir setengah persentase poin dari puncak minggu lalu di dekat 5,12%. Hal ini turut mendukung kenaikan harga emas sebagai asset non yielding.

Secara teknis, dalam perdagangan di akhir pekan ini, harga emas berpeluang melanjutkan kenaikannya kembali. Kenaikan lebih lanjut akan mengarahkan ke $1965 hingga 1970. Terobosan harga ini membuat emas berpeluang untuk menjangkau kembali harga psikologis di $2000 dalam waktu dekat ini.

Sebaliknya, aksi ambil untung dari koreksi teknikal yang terjadi berpeluang membawa harga emas kenbali dibawah $1950. Target koreksi adalah ke $1940 – sampai dengan 1920.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini